News Berita

Mensos Kecam Kasus Kekerasan Seksual di Pati, Beri Pendampingan Korban

Kemensos bergerak cepat dengan menurunkan tim untuk melakukan asesmen dan pendampingan terhadap korban.

Mensos Kecam Kasus Kekerasan Seksual di Pati, Beri Pendampingan Korban
Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Foto: Dok. Kemensos
Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Foto: Dok. Kemensos

Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengecam keras kasus kekerasan seksual yang diduga dilakukan oleh pimpinan pondok pesantren terhadap santriwati di Kabupaten Pati, Jawa Tengah.

Ia menyatakan kekecewaan mendalam atas peristiwa tersebut dan menegaskan bahwa pesantren seharusnya menjadi ruang aman bagi pendidikan moral dan agama, bukan disalahgunakan untuk tindakan menyimpang.

“Kami tidak hanya berhati-hati, kami mengecam keras, kami kecewa, kami sungguh-sungguh mengutuk ada pesantren dijadikan kedok,” ujar Gus Ipul.

Menanggapi kejadian tersebut, Kemensos bergerak cepat dengan menurunkan tim untuk melakukan asesmen dan pendampingan terhadap korban. Gus Ipul menyampaikan bahwa proses penanganan dilakukan secara bertahap melalui komunikasi intensif dengan korban dan keluarga.

“Kita asesmen, nanti kita lakukan pembicaraan lebih lanjut dengan keluarganya dan kira-kira apa yang bisa kita berikan dukungan dalam rangka pemberdayaan. Jadi, tim dari Kemensos sudah ada di sana dan kita sedang melakukan dialognya secara bertahap,” jelasnya.

Selain pendampingan awal, Kemensos juga menyiapkan layanan lanjutan untuk mendukung pemulihan korban secara menyeluruh, termasuk layanan psikososial dan residensial. Fasilitas layanan tersebut telah tersedia di wilayah Pati guna mempercepat proses pemulihan mental dan fisik korban.

Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Foto: Dok. Kemensos
Mensos Saifullah Yusuf (Gus Ipul). Foto: Dok. Kemensos

Gus Ipul menegaskan bahwa kasus ini menjadi momentum penting untuk memperkuat sistem pendataan sebagai dasar intervensi yang tepat sasaran. Menurutnya, data yang akurat akan mempercepat respons pemerintah dalam memberikan bantuan maupun pemberdayaan.

“Di sinilah pentingnya pendataan yang kemudian nanti kita jadikan dasar memberikan dukungan, bantuan atau intervensi yang bisa dilakukan oleh pemerintah atau juga oleh filantropi, lembaga non-government. Jadi kita bisa tahu lebih cepat dan bertindak lebih cepat jika memiliki data yang lebih akurat,” ujarnya.

Terkait kondisi sosial ekonomi keluarga korban, Kemensos akan berkoordinasi dengan Badan Pusat Statistik untuk melakukan pengukuran lebih lanjut sebagai dasar intervensi kebijakan.

“Belum bisa kita ukur, nanti kita sampaikan ke BPS untuk dilakukan pengukuran. Insya Allah kita akan ketahui dalam beberapa waktu ke depan,” tambahnya.

Lebih lanjut, Gus Ipul mengajak seluruh pihak untuk memperketat pengawasan terhadap lingkungan pendidikan, khususnya pesantren, tanpa melakukan generalisasi. Ia menegaskan bahwa banyak pesantren tetap menjalankan fungsi pendidikan dengan baik.

“Mari kita sama-sama berikan pengawasan secara ketat dan jangan disamaratakan. Banyak pesantren yang telah mendidik dengan sungguh-sungguh para santrinya,” tuturnya.

Ia juga menekankan pentingnya perlindungan menyeluruh bagi seluruh santri, tidak hanya korban, melalui pendekatan rehabilitasi dan pemberdayaan.

“Kita harus jaga para santri ini, tidak hanya korban tapi juga santri lainnya. Semua harus kita beri perlindungan, sekaligus rehabilitasi dan pemberdayaan,” pungkas Gus Ipul.

Buka sumber asli