Mengenal Faktor Pencetus Lupus, dari Polusi Udara hingga Kekurangan Vitamin D
Selain mengenali gejalanya, memahami faktor pencetus lupus juga penting dilakukan. Simak penjelasannya. #momsupdate #moms #update #text

Lupus dikenal sebagai "penyakit seribu wajah" karena gejalanya dapat berbeda pada setiap orang dan sering menyerupai gejala penyakit lain. Akibatnya, banyak kasus lupus terlambat terdiagnosis. Misalnya, nyeri sendi kerap dianggap sebagai asam urat, kelelahan, atau cedera.
Sementara penurunan trombosit sering disangka sebagai demam berdarah. Ruam kulit yang muncul di wajah atau bagian tubuh lain juga tidak jarang dianggap sebagai alergi atau masalah kulit biasa.
Menurut Dokter Spesialis Penyakit Dalam Konsultan Reumatologi, dr. Sandra Sinthya Langow, SpPD-KR, wanita usia muda perlu lebih waspada jika mengalami kombinasi gejala seperti nyeri sendi, rambut rontok, sariawan berulang, dan kelainan kulit.

Meski demikian, sejumlah faktor yang dapat memicu lupus ternyata masih bisa dikendalikan, Moms. Oleh karena itu, mengenali faktor pencetus menjadi salah satu langkah penting untuk membantu menurunkan risiko penyakit ini.
Beberapa faktor yang dapat memicu penyakit ini ternyata berkaitan dengan kebiasaan sehari-hari dan kondisi lingkungan. Hal itu disampaikan dr. Sandra dalam acara Hari Lupus Sedunia bersama AstraZeneca Indonesia di Jakarta Selatan, Selasa (26/5).
“Tapi faktor pencetusnya itu kita bisa kendalikan,” ujar dr. Sandra.
7 Faktor Pencetus Lupus yang Perlu Diwaspadai
1. Paparan Sinar Matahari Berlebihan
Paparan sinar ultraviolet (UV) dari matahari dapat memicu munculnya gejala lupus pada sebagian orang yang rentan. Karena itu, penting untuk membatasi aktivitas di bawah sinar matahari terik, terutama pada siang hari. Penting untuk selalu menggunakan pelindung seperti topi, pakaian tertutup, dan tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan.

2. Paparan Bahan Kimia dan Polusi Udara
Paparan bahan kimia tertentu dan polusi udara juga perlu dikurangi. Meski tidak secara langsung menyebabkan lupus, faktor lingkungan ini dapat memicu respons imun yang berlebihan pada individu yang memiliki kerentanan terhadap penyakit autoimun.
3. Infeksi Bakteri dan Virus
Infeksi merupakan salah satu faktor yang dapat memicu lupus. Oleh karena itu, menjaga daya tahan tubuh dan menerapkan pola hidup bersih serta sehat dapat menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko infeksi bakteri maupun virus.
4. Kebiasaan Merokok
Merokok dapat meningkatkan peradangan dalam tubuh dan berdampak negatif pada sistem kekebalan. Sehingga, menghentikan kebiasaan merokok menjadi salah satu langkah yang dianjurkan untuk membantu menurunkan risiko lupus dan berbagai penyakit kronis lainnya.

5. Kekurangan Vitamin D
Defisiensi vitamin D juga juga menjadi faktor risiko yang perlu diperhatikan. Vitamin D memiliki peran penting dalam mengatur sistem imun. Jika kadar vitamin D rendah, kondisi tersebut perlu dikoreksi melalui paparan sinar matahari yang cukup, konsumsi makanan bergizi, atau konsumsi suplemen sesuai anjuran dokter.
“Kemudian kalau ada yang defisiensi vitamin D kita koreksi, karena itu juga faktor risiko untuk terjadi lupus atau penyakit autoimun yang lain,” tuturnya.
6. Stres yang Tidak Terkelola
Beberapa penelitian menunjukkan adanya hubungan antara stres dan penyakit autoimun. Stres yang berlangsung dalam jangka panjang dapat memengaruhi sistem kekebalan tubuh, Moms Olen karena itu, mengelola stres melalui istirahat yang cukup, olahraga, maupun aktivitas relaksasi menjadi bagian penting dari pola hidup sehat.
7. Obesitas

Menjaga berat badan ideal juga perlu dilakukan karena obesitas merupakan salah satu faktor risiko berbagai penyakit, termasuk gangguan autoimun. Berat badan berlebih dapat memicu peradangan kronis dalam tubuh yang berpotensi memengaruhi fungsi sistem imun.
Menurut dr. Sandra, pengendalian berbagai faktor pencetus tersebut merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk menjaga kesehatan dan mengurangi risiko terjadinya lupus maupun kekambuhan penyakit pada pasien yang sudah terdiagnosis.