News Berita

Mengembalikan Pedagogi ke Jantung Profesi Guru

Pedagogi membantu guru memahami bagaimana seseorang belajar, tumbuh, dan berkembang.

Mengembalikan Pedagogi ke Jantung Profesi Guru
Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen
Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen

“Mengajar adalah pekerjaan. Mendidik adalah panggilan profesi.”

Dunia pendidikan terus berubah. Kurikulum berganti, teknologi semakin berkembang, dan kecerdasan buatan mulai digunakan dalam pembelajaran. Namun, di tengah berbagai perubahan tersebut, ada satu fondasi pendidikan yang justru jarang dibicarakan, yaitu pedagogi.

Pembahasan tentang pedagogi sering dikaitkan dengan sekolah formal. Padahal, prinsip-prinsip pedagogi juga menjadi dasar pendidikan nonformal, termasuk pembelajaran di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat atau PKBM.

Guru di sekolah formal dan pendidik di PKBM sama-sama memiliki tanggung jawab untuk membantu peserta didik belajar, berkembang, dan mengenali potensi dirinya. Tempat, sistem, dan kondisi pembelajarannya mungkin berbeda. Namun, tujuan dasarnya tetap sama, yaitu mendidik manusia.

Pedagogi merupakan ilmu dan seni mendidik. Pedagogi membantu pendidik memahami bagaimana seseorang belajar, tumbuh, dan berkembang. Pedagogi tidak hanya membahas materi yang diajarkan, tetapi juga cara mengajar, alasan pembelajaran dilakukan, dan tujuan yang ingin dicapai.

Selain pedagogi, dikenal pula istilah pedagogik dan pedagogis. Pedagogik merupakan ilmu yang mengkaji teori, prinsip, dan konsep pendidikan secara sistematis. Dari pedagogik lahir teori belajar, metode pembelajaran, asesmen, psikologi pendidikan, serta berbagai pendekatan yang menjadi dasar profesi pendidik.

Pembelajaran pendidikan kesetaraan Merdesa
Pembelajaran pendidikan kesetaraan Merdesa

Sementara itu, pedagogis berkaitan dengan sikap dan tindakan yang sesuai dengan prinsip pendidikan. Seorang pendidik bertindak secara pedagogis ketika mampu memahami kebutuhan peserta didik, menyesuaikan metode pembelajaran, memberikan umpan balik yang membangun, dan menciptakan suasana belajar yang aman.

Prinsip tersebut berlaku di sekolah formal maupun lembaga pendidikan nonformal.

Di PKBM, pendidik berhadapan dengan peserta didik atau warga belajar yang memiliki latar belakang beragam. Ada yang masih berusia sekolah, ada yang sudah bekerja, ada yang pernah berhenti sekolah, dan ada pula yang kembali belajar setelah cukup lama meninggalkan pendidikan. Dalam pengalaman saya selama delapan tahun mengajar di PKBM, warga belajar datang dengan latar belakang yang berbeda. Ada yang bekerja, pernah putus sekolah, atau kembali belajar setelah bertahun-tahun. Kondisi ini membuat pendidik perlu menggunakan pendekatan yang lebih fleksibel dan manusiawi.

Keberagaman tersebut membuat kemampuan pedagogis semakin penting. Pendidik tidak dapat menggunakan satu pendekatan yang sama untuk semua warga belajar. Metode pembelajaran perlu disesuaikan dengan usia, pengalaman, kebutuhan, kemampuan, serta kondisi sosial mereka.

Karena itu, penerapan pedagogi di pendidikan formal dan nonformal memiliki dasar yang sama, tetapi strategi pelaksanaannya dapat berbeda.

Di sekolah formal, kegiatan belajar biasanya berlangsung dengan jadwal, jenjang, kurikulum, dan kelompok usia yang lebih terstruktur. Di PKBM, pembelajaran sering membutuhkan pendekatan yang lebih fleksibel karena warga belajar memiliki kondisi dan pengalaman hidup yang beragam.

Fleksibilitas tersebut bukan berarti pendidikan nonformal memiliki standar yang lebih rendah. Justru, pendidik di PKBM perlu memiliki kepekaan yang tinggi dalam memahami kebutuhan setiap warga belajar.

Pendidik perlu mengetahui alasan seseorang kembali belajar. Ada warga belajar yang ingin memperoleh ijazah kesetaraan, meningkatkan keterampilan, mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, atau membangun kembali rasa percaya diri. Semua tujuan tersebut perlu menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Dalam konteks ini, pendidik tidak hanya menyampaikan materi. Pendidik juga menjadi pendamping, pembimbing, dan penguat motivasi warga belajar.

Pemikiran Ki Hadjar Dewantara mengingatkan bahwa pendidikan merupakan proses menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak agar mereka mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya, baik sebagai individu maupun anggota masyarakat.

Semangat menuntun tersebut tidak hanya berlaku bagi anak-anak di sekolah formal. Prinsip itu juga relevan bagi remaja dan orang dewasa yang mengikuti pendidikan nonformal. Setiap warga belajar membawa potensi, pengalaman, hambatan, dan harapannya sendiri.

Tugas pendidik adalah membantu mereka berkembang sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya, bukan sekadar memaksa mereka mengikuti pola belajar yang seragam.

Sayangnya, pembahasan mengenai pedagogi sering kalah oleh tuntutan administratif. Banyak pendidik disibukkan dengan pelaporan, penggunaan aplikasi, penyusunan dokumen, dan berbagai kegiatan kelembagaan.

Tugas-tugas tersebut memang diperlukan. Namun, administrasi tidak boleh menggeser perhatian pendidik dari proses belajar yang sesungguhnya.

Pelatihan pendidik juga sering lebih banyak membahas penggunaan platform digital dan perangkat pembelajaran. Sementara itu, ruang untuk mendiskusikan teori belajar, psikologi perkembangan, pendidikan orang dewasa, asesmen, filsafat pendidikan, dan pendekatan pembelajaran masih terbatas.

Padahal, penguasaan teknologi tanpa pemahaman pedagogi dapat membuat pembelajaran kehilangan arah. Teknologi seharusnya menjadi alat bantu, bukan tujuan utama pendidikan.

Kehadiran kecerdasan buatan juga tidak dapat menggantikan peran pendidik. Teknologi dapat membantu menyiapkan materi, mencari sumber belajar, membuat latihan, atau mengolah informasi. Namun, teknologi tidak dapat sepenuhnya memahami kondisi emosional, pengalaman hidup, dan kesulitan yang dihadapi setiap warga belajar.

Relasi manusia tetap menjadi bagian penting dalam pendidikan. Perhatian, empati, motivasi, dan rasa percaya yang dibangun pendidik sering menjadi alasan seorang warga belajar tetap bertahan dan menyelesaikan pendidikannya.

Hal ini sangat terasa dalam pendidikan nonformal. Banyak warga belajar datang dengan pengalaman kegagalan, keterbatasan ekonomi, persoalan keluarga, tuntutan pekerjaan, atau rasa tidak percaya diri. Mereka membutuhkan lingkungan belajar yang tidak menghakimi dan memberi kesempatan untuk berkembang.

Di sinilah tindakan pedagogis memiliki makna yang nyata.

Pendidik yang memahami pedagogi tidak hanya bertanya, “Apakah materi sudah selesai disampaikan?” Pendidik juga bertanya, “Apakah warga belajar memahami materi tersebut? Apakah pembelajaran sesuai dengan kebutuhannya? Apakah ia merasa dihargai? Apakah proses belajar membantunya menjalani kehidupan dengan lebih baik?”

Karena itu, peningkatan kompetensi pendidik tidak cukup hanya berfokus pada teknologi dan administrasi. Penguatan pedagogi perlu menjadi bagian utama dalam pendidikan, pelatihan profesi, dan pengembangan karier pendidik, baik di sekolah formal maupun lembaga nonformal.

Pendidik perlu terus memperkuat pemahaman tentang teori belajar, psikologi pendidikan, pendidikan orang dewasa, asesmen, karakteristik peserta didik, dan strategi pembelajaran yang kontekstual.

Mengembalikan pedagogi ke jantung profesi pendidik bukan berarti menolak perubahan. Pedagogi justru menjadi kompas agar setiap perubahan tetap berpihak pada peserta didik dan warga belajar.

Kurikulum dapat berubah. Teknologi akan terus berkembang. Metode pembelajaran akan terus diperbarui. Namun, hakikat pendidikan tetap sama, yaitu membantu manusia berkembang secara utuh.

Kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh tempat belajar, status lembaga, kebijakan, atau kecanggihan teknologi. Kualitas pendidikan sangat bergantung pada kemampuan pendidik dalam memahami dan mendampingi orang yang belajar.

Baik di sekolah formal maupun di PKBM, pendidik menjalankan tanggung jawab yang sama pentingnya. Mereka tidak hanya mengajar mata pelajaran, tetapi juga membuka kesempatan, menumbuhkan harapan, dan membantu peserta didik membangun masa depan.

Ketika pedagogi kembali menjadi dasar profesionalisme pendidik, pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang memiliki pengetahuan. Pendidikan juga membentuk manusia yang mampu berpikir kritis, percaya diri, berkarakter, berempati, dan siap menghadapi kehidupan.

Mengembalikan pedagogi ke jantung profesi pendidik berarti mengembalikan pendidikan kepada tujuan utamanya, yaitu memanusiakan manusia.

Buka sumber asli