Mengapa Membakar Sampah Bukan Solusi?
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebut polusi udara, termasuk dari pembakaran terbuka, sebagai salah satu faktor yang meningkatkan risiko berbagai penyakit pernapasan dan kardiovaskular.

Asap pekat yang muncul dari pembakaran sampah di tempat pembuangan sampah (TPS) ilegal di Kabupaten Bogor kembali menjadi perhatian publik. Kepulan asap yang menjangkau kawasan permukiman hingga memicu keluhan gangguan pernapasan menunjukkan bahwa persoalan sampah tidak lagi sebatas urusan kebersihan, tetapi telah menyentuh kualitas hidup masyarakat.
Kasus tersebut memperlihatkan bahwa membakar sampah memang terlihat sebagai jalan yang cepat untuk mengurangi tumpukan limbah. Namun, cara yang dianggap praktis itu justru menghadirkan persoalan baru. Sampah memang berkurang, tetapi udara menjadi tercemar, lingkungan terdampak, dan kesehatan masyarakat ikut dipertaruhkan.
Asap hasil pembakaran sampah mengandung berbagai zat yang berpotensi membahayakan kesehatan. Ketika dihirup terus-menerus, polutan tersebut dapat meningkatkan risiko gangguan saluran pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, dan masyarakat yang memiliki riwayat penyakit paru-paru. Dampaknya mungkin tidak selalu terlihat dalam waktu singkat, tetapi kualitas udara yang terus menurun akan memengaruhi kesehatan dalam jangka panjang.
Menurut saya, persoalan terbesar bukan hanya keberadaan TPS ilegal, melainkan masih adanya anggapan bahwa membakar adalah cara paling mudah menyelesaikan masalah sampah. Selama pola pikir tersebut masih bertahan, penertiban demi penertiban hanya akan menjadi solusi sementara tanpa benar-benar mengurangi akar persoalannya.
Padahal, sampah tidak selalu identik dengan limbah yang harus dimusnahkan. Banyak jenis sampah masih memiliki nilai apabila dipilah dan dikelola dengan baik. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, sedangkan berbagai jenis sampah anorganik masih dapat didaur ulang atau dimanfaatkan kembali. Semakin banyak sampah yang diproses dengan benar, semakin sedikit pula yang berakhir di tempat pembuangan.
Persoalan sampah juga tidak dapat diselesaikan hanya oleh pemerintah. Penegakan aturan terhadap TPS ilegal memang penting, tetapi perubahan kebiasaan masyarakat memiliki peran yang sama besar. Memilah sampah sejak dari rumah, mengurangi penggunaan barang sekali pakai, dan tidak membakar sampah secara terbuka merupakan langkah sederhana yang apabila dilakukan secara bersama dapat memberikan dampak yang signifikan.
Di sisi lain, pemerintah perlu terus memperkuat sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi. Penyediaan fasilitas pengolahan, pengawasan terhadap pembuangan ilegal, serta edukasi kepada masyarakat harus berjalan beriringan. Pengelolaan sampah tidak cukup hanya mengandalkan tindakan setelah masalah muncul, tetapi juga memerlukan upaya pencegahan yang berkelanjutan.
Kasus di Bogor menjadi pengingat bahwa persoalan sampah tidak boleh dipandang sebagai masalah yang selesai ketika tumpukannya hilang dari pandangan. Cara menghilangkannya sama pentingnya dengan upaya mengurangi jumlah sampah itu sendiri. Solusi yang mengorbankan kesehatan dan lingkungan bukanlah solusi yang benar-benar menyelesaikan persoalan.
Lingkungan yang bersih tidak hanya ditentukan oleh sedikitnya sampah yang terlihat, tetapi juga oleh kualitas udara yang dihirup masyarakat setiap hari. Karena itu, pengelolaan sampah yang bertanggung jawab bukan sekadar pilihan, melainkan kebutuhan untuk menjaga kesehatan, lingkungan, dan kualitas hidup bersama.
Nazra Aulia Farhaniyah Prodi Akuntansi S1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pamulang.