News Berita

Mengapa Kita Lebih Mudah Membayangkan Presiden Laki-Laki daripada Perempuan?

Cara kita membayangkan presiden laki-laki menunjukkan bagaimana pendidikan dan kurikulum ikut membentuk imajinasi sosial tentang kepemimpinan dan gender.

Mengapa Kita Lebih Mudah Membayangkan Presiden Laki-Laki daripada Perempuan?
Foto oleh Ron Lach dari Pexels
Foto oleh Ron Lach dari Pexels

Peran Hidden Curriculum dalam Membentuk Persepsi Gender tentang Kepemimpinan

Bayangkan seorang presiden. Tanpa perlu berpikir panjang, banyak orang akan langsung membayangkan sosok laki-laki. Bahkan ketika tidak ada instruksi apa pun tentang gender, citra yang muncul sering kali tetap sama. Ini bukan kebetulan. Ini adalah hasil dari cara kita “dilatih” melihat dunia sejak kecil.

Pertanyaannya, siapa yang sebenarnya membentuk imajinasi itu?

Jawabannya mungkin tidak hanya media atau budaya populer, tetapi juga sekolah yang selama ini dianggap ruang netral, padahal justru menjadi tempat paling awal kita belajar tentang siapa yang dianggap layak memimpin dan siapa yang tidak.

Sejak bangku sekolah dasar, struktur kecil dalam kelas sudah memperkenalkan kita pada konsep kepemimpinan. Pemilihan ketua kelas, misalnya, sering kali tanpa disadari lebih banyak diberikan kepada siswa laki-laki. Alasannya beragam, karena laki-laki dianggap lebih tegas, lebih berani berbicara, atau lebih cocok memimpin. Praktik sederhana ini tampak biasa, tetapi secara perlahan membentuk persepsi bahwa kepemimpinan identik dengan laki-laki.

Selain itu, representasi dalam materi pelajaran juga turut berperan. Buku teks dan contoh tokoh yang ditampilkan dalam pembelajaran sering kali lebih banyak menampilkan laki-laki sebagai ilmuwan, pemimpin, atau tokoh sejarah. Sementara perempuan lebih sering muncul dalam peran-peran yang berkaitan dengan domestik atau pendukung. Tanpa disadari, hal ini membentuk batas imajinasi tentang peran sosial berdasarkan gender.

Dalam perspektif sosiologi pendidikan, apa yang terjadi di sekolah tidak hanya terbatas pada kurikulum formal, tetapi juga mencakup apa yang disebut sebagai hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Ini merujuk pada nilai-nilai, norma, dan kebiasaan yang tidak tertulis, tetapi dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari di sekolah. Salah satunya adalah bagaimana peran kepemimpinan dikonstruksi melalui interaksi sederhana di kelas.

Akibatnya, siswa tidak hanya belajar tentang materi pelajaran, tetapi juga menyerap gambaran sosial tentang siapa yang “pantas” menjadi pemimpin. Proses ini berlangsung lama dan berulang, sehingga membentuk imajinasi kolektif yang terlihat “alami”, padahal sebenarnya merupakan hasil konstruksi sosial.

Fenomena ini penting untuk dipahami karena imajinasi tentang pemimpin tidak berhenti di ruang kelas. Ia terbawa hingga ke kehidupan dewasa, termasuk dalam cara kita menilai calon pemimpin di dunia politik. Ketika sosok presiden lebih mudah dibayangkan sebagai laki-laki, itu menunjukkan bahwa representasi dan pengalaman sejak kecil memiliki pengaruh yang sangat kuat terhadap cara berpikir kita.

Bukan berarti sekolah secara sadar menolak kepemimpinan perempuan. Namun, tanpa disadari, praktik dan representasi yang tidak seimbang dapat ikut mereproduksi cara pandang yang terbatas. Di sinilah pentingnya refleksi terhadap kurikulum dan praktik pendidikan yang berlangsung sehari-hari.

Jika pendidikan bertujuan membentuk cara berpikir yang lebih terbuka dan setara, maka penting untuk memastikan bahwa imajinasi tentang kepemimpinan tidak dibatasi oleh gender. Anak-anak perlu melihat bahwa kepemimpinan bukan milik satu kelompok tertentu, tetapi merupakan kemampuan yang bisa dimiliki siapa saja.

Pada akhirnya, cara kita membayangkan seorang presiden bukanlah hal yang muncul secara tiba-tiba. Ia dibentuk perlahan melalui pengalaman, representasi, dan praktik pendidikan yang kita jalani sejak kecil. Dan mungkin, perubahan menuju cara pandang yang lebih setara juga harus dimulai dari ruang-ruang kecil di dalam kelas.

Buka sumber asli