News Berita

Mendobrak Standar Kecantikan Lewat Lateks & Benang di Art Jakarta Gardens 2026

Dua masa berbeda, dua patung berbeda, satu objek yang sama: perempuan. Itulah yang hendak ditangkap oleh Hwang Kyumin, seniman asal Korea Selatan lewat dua karyanya. #kumparanHITS #newsupdate

Mendobrak Standar Kecantikan Lewat Lateks & Benang di Art Jakarta Gardens 2026
Dewi aphrodite. Foto: Giorgos Arapoglou/Shutterstock
Dewi aphrodite. Foto: Giorgos Arapoglou/Shutterstock

Awal April 1920, mungkin para arkeolog tak pernah menyangka, patung marmer--diduga karya Alexandros dari Antiokhia--yang mereka temukan akan mengubah standar kecantikan di budaya barat. Itu adalah patung Venus de Milo, yang konon merupakan penggambaran dewi kecantikan di mitologi Yunani, Aphrodite.

Dalam kisahnya, Aphrodite adalah pemenang kontes kecantikan pertama. Saat itu, dewi perselisihan, Eris, murka karena tak diundang dalam sebuah pesta. Ia membalasnya dengan meletakkan sebuah apel emas yang dipetik dari Taman Herperides, lengkap dengan tulisan "untuk yang tercantik."

Aphrodite; ibu para dewa-dewi, Hera; dan dewi kebijaksanaan, Athena, yang melihat itu lantas bertaruh: siapa yang tercantik di antara mereka. Zeus, suami sekaligus saudara Hera dan ayah Aphrodite serta Athena, menolak dijadikan hakim. Putra Raja Priamos, Paris from Troya, yang akhirnya ditunjuk.

Ketiganya mencoba memenangkan pertarungan dengan menggoda dan menyuap Paris. Namun akhirnya Aphroditelah yang memenangkan apel emas itu dan menjadi perempuan tercantik di Bumi. Patung Venus de Milo--yang entah mengapa tak berlengan--diyakini menggambarkan momen saat Aphrodite mengagumi hadiahnya.

Patung itu pula yang kemudian mengilhami standar kecantikan Eropa. Korset menjadi populer, perempuan berlomba membentuk tubuh seperti jam pasir meski harus menyiksa diri. Semakin kecil pinggang, semakin bagus dan cantik. Bentuk hidung yang tinggi dan mancung dianggap sempurna, sehingga beruntunglah orang yang terlahir begitu.

Venus de Willendorf. Foto: Fanouria/Shutterstock
Venus de Willendorf. Foto: Fanouria/Shutterstock

Hampir satu abad kemudian, di Austria, ditemukan patung venus lainnya. Ukurannya lebih mungil, hanya 11 cm. Namun yang menarik adalah bagaimana penggambaran perempuan dalam patung Venus de Willendorf ini.

Patung ini sejatinya lebih tua dari Venus de Milo, diduga dari tahun 25.000-21.000 Sebelum Masehi. Yang membuat bingung, ia dibuat dari batu gamping oolitik yang tak pernah ada di Willendorf, ukurannya pun sangat kecil meski ukirannya begitu detail.

Wajahnya tak diukir, hanya diberi ornamen yang menggambarkan rambut tergelung kecil-kecil. Bagian payudara, pinggul, dan perutnya dibuat lebih menonjol. Banyak yang percaya ini adalah penggambaran tentang kesuburan dan keberlangsungan hidup.

Penggambaran sosok perempuan ini mirip sekali dengan standar kecantikan di era Renaissance (sekitar 1400-1700). Perempuan dianggap lebih menarik jika memiliki tubuh "berisi" karena dianggap merepresentasikan kemakmuran dan kesejahteraan.

Dua masa berbeda, dua patung berbeda, satu objek yang sama: perempuan. Itulah yang hendak ditangkap oleh Hwang Kyumin, seniman asal Korea Selatan lewat dua karyanya: VD No 7 dan VD No 10.

Bermain dengan Indra Peraba

Karya Hwang Kyumin di Art Jakarta Gardens 2026. Foto: Muhammad Amrizal P/kumparan
Karya Hwang Kyumin di Art Jakarta Gardens 2026. Foto: Muhammad Amrizal P/kumparan

Hwang dikenal sebagai seniman yang mencoba mendorong imajinasi kita melalui permainan tekstur dan kedalaman. Ia fokus pada stimulasi panca indra untuk menghidupkan karyanya dalam objek dua dan tiga dimensi.

Jika diperhatikan, VD No 7 dan VD No 10 ini bukan tergores di atas kanvas putih saja. Hwang menggunakan lapisan jute cloth, atau lembaran kain yang terbuat dari serat tanaman yute kering dengan rongga lebar. Warnanya yang kecoklatan membuat kesan ancient Greek-nya semakin kuat terasa.

Hwang lalu mengoleskan cairan lateks. Tantangannya ada dua: memastikan kekentalannya pas dan menghadapi bau yang luar biasa menusuk. Jika terlalu encer, lapisan lateks bisa cepat mengering dan tekstur yang diinginkan tak bisa tercapai. Jika terlalu kental, akan sulit membuat goresan di permukaannya.

Dengan goresan lateks itu, Hwang mencoba menggambarkan ulang sosok Venus de Milo yang berdiri dan menghadap ke kiri. Jika dilihat lebih dekat lagi, detail wajah Aphrodite bukan dilukis melainkan terbentuk dari titik-titik lubang kecil yang begitu presisi. Perpaduan cantik yang terlihat natural di antara tekstur lateks dan goni yang kasar.

Karya Hwang Kyumin di Art Jakarta Gardens 2026 Foto: Muhammad Amrizal P/kumparan
Karya Hwang Kyumin di Art Jakarta Gardens 2026 Foto: Muhammad Amrizal P/kumparan

Di tengah harmoni itu, Venus de Willendorf hadir memberikan kontras dengan benang akrilik putih. Hwang sepertinya menggunakan metode tufting, teknik sederhana yang dikembangkan oleh Catherine Evans di Amerika Serikat abad ke-19.

Prinsipnya sederhana saja: menusukkan benang ke permukaan kain untuk menghasilkan rumbai atau tekstur 3D. Namun dibutuhkan ketelitian dan kejelian di proses ini. Apalagi Hwang bukan ingin membuat motif, melainkam "mengukir" interpretasi Venus de Willendrof dengan memainkan perbedaan tinggi dan kedalaman. Hasilnya, detailnya justru terlihat lebih jelas saat kita mundur menjauh.

Sambil memicingkan mata saya mencoba membayangkan bagaimana jika kedua sosok ini dibuat terpisah. Tetap cantik dan menarik, namun harmoni dan keindahan itu justru muncul saat keduanya disatukan. Sama seperti standar kecantikan.

Karya ini adalah bentuk kritik keras atas standar kecantikan manusia. Dari era Paleolitikum, Yunani Kuno, Renaissance, hingga sekarang, manusia-khususnya perempuan--selalu "dipaksa" untuk dicetak dan tunduk hanya pada satu ragam kesempurnaan.

Padahal cantik bukan soal berisi atau ramping, tinggi atau pendek, mancung atau pesek. Cantik adalah soal penerimaan atas ketidaksempurnaan manusia itu sendiri. Seperti Venus de Milo yang tak berlengan, atau Venus de Willendorf yang tak berwajah.

Ini bukan satu-dua karya yang ada di Art Jakarta Gardens 2026 di Hutan Kota by Plataran sejak 5-10 Mei 2026. Ada ratusan karya dari puluhan seniman lain yang tak kalah menarik. Bahkan dua maestro kenamaan Indonesia, Nyoman Nuarta dan Sunaryo, pun turut meramaikan ajang ini dengan karya mereka yang dibiarkan menyatu dengan alam.

Nyoman hadir dengan Phinisi dan Wind III miliknya, yang menggambarkan tentang kehebatan Nusantara dan optimisme. Sedangkan Sunarya hadir membawa Banteng Taurus yang terkenal sebagai representasi sosok banteng yang kuat dan tegas.

Buka sumber asli