News Berita

Mencintai Jakarta dengan Cara yang Sederhana

Satu hal yang mereka tidak sadari bahwa perjalanan mencari diri ke luar adalah perjalanan yang hanya berputar di tempat, pada labirin yang mereka ciptakan sendiri dan tentu saja itu ilusi.

Mencintai Jakarta dengan Cara yang Sederhana
Hujan mengguyur Jakarta bersama malam yang menua. Photo: Dokumentasi Pribadi
Hujan mengguyur Jakarta bersama malam yang menua. Photo: Dokumentasi Pribadi

Hari itu masih terlalu pagi, kalau tidak salah ingat pukul 06.18. Saya sudah harus siaga mengantar istri ke halte Ragunan. Saya melewati jalan sempit yang hanya muat untuk dua motor berpapasan. Saya kasih tahu kalian info, jika hendak ke Kebagusan raya dari arah Ragunan menggunakan motor, kalian tidak perlu berputar ke arah TB Simatupang karena ada jalan kecil di samping diklat Ragunan.

Tepat di belokan jalan sempit, saya sudah menerima umpatan dari seorang ibu yang datang dari arah berlawanan, motornya oleng secara tiba-tiba namun saya yang harus disalahkan.

Demikianlah Jakarta, selain bubur ayam dan nasi uduk, sumpah serapah juga seringkali menjadi sarapan yang lumayan asin, namun tetap dikunyah.

Tak terhitung berapa kali saya menjumpai respons yang serupa karena sudah terlalu lama di kota ini. Jika belasan tahun dianggap waktu yang lama mendiami sebuah ruang, maka saya akan mendeklarasikan diri sudah lama mendekap Jakarta. Tiga belas tahun bukan waktu yang sebentar menikmati, atau mungkin meratapi, hidup di kota ini dengan segala kisahnya yang tak berbelas kasih.

Saya menjumpai manusia-manusia tak beruntung yang harus hidup berdesakan di bilik semi permanen sepanjang pinggiran rel, manusia yang setiap dini hari mengais tempat sampah, dan seabrek fenomena manusia di kota ini.

Apakah kota ini sedikit saja menaruh rasa iba kepada mereka? Rasa-rasanya tidak sama sekali. Jakarta memang ibu kota tetapi dia bukan ibu bagi manusianya yang sedang kelaparan.

Saya sedang tersesat di Jakarta, di tengah rimba bangunan-bangunan dan lautan manusia yang tak saling menyapa. Pada setiap kepentingan yang harus dikuantifikasi dan transaksional.

Hidup di Jakarta semacam alegori tentang bertahan dengan cinta yang menyakitkan, atau tentang ambisi dan kelelahan eksistensial yang saling berkompetisi. Melelahkan.

Macet, banjir, dan semua sumpah serapah menjadi sarapan yang harus ditelan, tanpa ampun. Namun kadang-kadang ditertawakan di akhir hari saat bersenda gurau dengan sejawat bahwa ternyata hidup sebercanda ini.

Jakarta sudah terlalu mewah dengan kehidupan gemerlap yang tak terbayangkan sebelumnya. Namun wajah ini yang membuat manusianya menjadi begitu asing dari diri mereka, dari keluarga, dari pekerjaan, dan bahkan dari hidupnya.

Mereka kemudian berpencar mencari pencerahaan atas keterasingan ini. Ada yang ke club, ke alam, ke tempat ibadah, dan tempat lain yang mereka anggap mampu membuat mereka menemukan dirinya kembali yang telah hilang.

Satu hal yang mereka tidak sadari bahwa perjalanan mencari diri ke luar adalah perjalanan yang hanya berputar di tempat, pada labirin yang mereka ciptakan sendiri dan tentu saja itu ilusi. Pada titik inilah yang disebut Albert Camus sebagai pencarian makna hidup yang absurd

Semua imaji tentang Jakarta yang menyesakkan memaksa sebagian orang membencinya, namun alih-alih lari darinya, mereka tetap menetap dan mendekap segala ketidaksenangan terhadap Jakarta, hanya dengan satu alasan, Jakarta menawarkan banyak cara mendapatkan uang.

Jakarta adalah kemewahan di menara gading. Semua manusia mendaki menara itu dan hanya sebagian yang mencapai puncaknya. Bagi yang tidak mampu, mereka memaki dengan berbagai alasan bahwa jakarta keras dan menawarkan penderitaan batin, padahal kita tahu mereka gagal menjahit mimpi di Jakarta.

Manusia urban di Jakarta berada di titik persimbangan, antara gengsi yang harus dijaga ataukah kebahagiaan diri untuk kembali ke asal.

Cukup sulit untuk menyatukan ide-ide hidup sederhana dengan hiruk pikuk kota Jakarta, stoik menemukan tantangannya di kota ini namun ketika seorang mampu menjalankannya maka dia hidup dalam kedamaian yang paripurna

Jika kalian ingin menguji seberapa tinggi level kesabaran dalam hidup ini, maka hiduplah di jalanan kota Jakarta. Ikuti rute Mampang raya setiap pagi dan sore maka kesabaran kalian akan berkurang pada setiap lampu merah yang dilewati. Kalian harus tahu bahwa umpatan adalah polusi pendengaran yang diobral.

Namun demikianlah Jakarta, selain bubur ayam dan nasi uduk, sumpah serapah juga seringkali menjadi sarapan yang lumayan asin, namun tetap dikunyah.

Buka sumber asli