Mencari Pekerjaan tapi Belum Tentu Sukses
Meski kadang belum tentu berhasil, nyatanya para pencari kerja hanya bisa terus mencoba. Pasar dunia kerja yang kejam dan tak adil adalah kawan seperjalanan mereka.

Sebuah film bertajuk “Tunggu Aku Sukses Nanti” menceritakan perjuangan anak muda masa kini dalam mencari pekerjaan. Bukan karena kurang keterampilan, tetapi begitulah realita saat ini menampar para pencari kerja dewasa kini. Data dari Badan Pusat Statistik memperlihatkan lebih dari satu juta lulusan perguruan tinggi masih terus berjuang mencari pekerjaan. Yang salah bukan mereka, tetapi perekonomian Indonesia yang mulai menua.
Tiga mesin perekonomian Indonesia hingga kini adalah sektor pertanian, sektor industri dan sektor pertambangan. Sejak Indonesia merdeka, ketiga sektor ini terus menjadi penopang perekonomian Indonesia. Di tengah revolusi digital yang terus berkembang, Indonesia seolah terhenti puas dengan ketiga sektor tersebut. Tidak ada inovasi yang signifikan pada sektor lain dan minim adaptibilitas terhadap kemajuan jaman selama bertahun-tahun.
Survei internal APINDO (Asosiasi Pengusaha Indonesia) bahkan menyatakan bahwa 67 persen perusahaan saat ini memilih untuk tidak menambah jumlah pegawai. Mengingat perekonomian dalam negeri yang masih lesu dan kondisi internasional yang terus bergejolak, langkah bertahan diambil oleh setiap perusahaan. Tentunya, jika kondisi ini terus dibiarkan tentunya akan semakin banyak calon pekerja yang harus menelan pil pahit pengangguran.
Hilirisasi yang Tak Kunjung Tiba
Salah satu program yang digagas pemerintah sejak awal adalah melakukan hilirisasi di seluruh sektor. Indonesia harus berhenti menjadi penyedia bahan baku dan bisa memiliki kekuatan industri berskala internasional. Tetapi, kenyataannya hingga kini Indonesia masih menjadi penyedia bahan baku utama bagi industri luar negeri seperti minyak kelapa sawit dan nikel. Lebih ironis, Indonesia kemudian menjadi pasar dari industri tersebut seperti mobil listrik dan smartphone.
Bukan tidak ada ide, tetapi masyarakat Indonesia memang belum terdidik dan terbiasa menjadi seorang pengusaha. Struktur pekerja di Indonesia masih didominasi oleh pekerja dengan perbandingan 1 banding 2. Artinya di antara tiga orang yang bekerja di Indonesia, ada 2 yang bekerja dan 1 yang pengusha. Menelisik lebih jauh, data BPS memperlihatkan bahwa lebih dari 50 persen pengusaha di Indonesia merupakan orang yang berusaha sendiri tanpa pekerja. Sekitar 30 persen adalah pengusaha yang dibantu oleh keluarga dan orang yang tak dibayar. Sisanyalah pengusaha yang benar-benar memberikan pekerjaan bagi orang lain.
Program kewirausahaan harusnya menjadi program utama pemerintah dahulu dalam mengejar hilirisasi. Sistem pendidikan dan lembaga pelatihan disiapkan bukan hanya mencetak para pekerja tetapi juga pencipta lapangan kerja. Dukungan finansial bukan hal utama yang harus disiapkan pemerintah, tetapi pengetahuan mulai dari mana dan apa yang harus dilakukan serta mentalitas tahan baja yang perlu ditempa.
Hilirisasi yang mengharapkan perusahaan asing untuk berinvestasi atau membuka perusahaan Indonesia sejatinya bukan hilirisasi. Ini justru lebih terlihat seperti eksploitasi pasar dalam negara sendiri. Hilirisasi harus disiapkan dari dasar dengan pemetaan dan perencanaan yang jelas. Dengan demikian, para pengusaha-pengusaha baru bisa muncul dari masyarakat Indonesia membuka lapangan kerja baru.
Meski kadang belum tentu berhasil, nyatanya para pencari kerja hanya bisa terus mencoba. Pasar dunia kerja yang kejam dan tak adil adalah kawan seperjalanan mereka
Realita Pahit Para Pekerja
Persaingan tak adil sudah menjadi makanan sehari-hari bagi para pekerja di Indonesia. Mereka yang dekat dengan pengusaha atau sudah berpengalaman selalu menyingkirkan pekerja yang belum tentu kualitasnya lebih buruk. Belum lagi upah pekerja yang kadang hanya cukup untuk melanjutkan kehidupan hari demi hari. Kerja pagi hingga sore, habis ditelan biaya sewa rumah, tagihan bulanan hingga belanja sehari-hari.
Pola ini mulai marak ditemukan di kehidupan pekerja Indonesia dewasa kini. Semakin sulit mendapat pekerjaan dan upah yang sesuai. Bukan para pekerja tidak ingin melawan, tetapi mereka tidak punya kekuatan selain pasrah pada keadaan. Sudah seharusnya pemerintah lebih peka dengan kehidupan para pekerja saat ini. Sayangnya pemerintah pun sepertinya sudah bingung harus berbuat apa dan memilih menyusun program yang itu-itu saja.
Perlu program reformatif untuk mengubah perekonomian Indonesia saat ini. Program ini bisa tumbuh dari pemerintah atau masyarakat itu sendiri. Jika tidak, para pekerja perlahan akan kian tergerus hak-haknya. Berdiri di bawah kaki sendiri dan unggul di pasar global hanyalah kian menjadi kiasan belaka jika tidak ada yang berubah. Sampai saat itu tiba, yang bisa kita lakukan hanyalah terus mencoba sampai kita sukses nanti.