Menakar Implementasi Bahan Bakar B50, Ini Catatan dari Ahli Pengamat
Pakar ITB beri catatan jelang implementasi bahan bakar solar B50 mulai 1 Juli #kumparanOTO

Jelang implementasi program mandatori bahan bakar biodiesel B50 di Indonesia yang dijadwalkan bergulir per 1 Juli memicu pembahasan teknis yang mendalam. Kebijakan ini mewajibkan pencampuran antara minyak nabati atau FAME (Fatty Acid Methyl Ester) sebesar 50 persen dengan 50 persen minyak solar bumi.
Namun, hingga mendekati tenggat waktu pemberlakuan, rujukan regulasi teknis terkait standardisasi bahan bakar baru ini terpantau belum resmi diterbitkan. Para produsen hilir masih menunggu keputusan final mengenai parameter kandungan unsur kimiawi yang akan digunakan sebagai acuan proses produksi massal.
Kondisi tersebut secara otomatis membuat industri manufaktur biodiesel nasional harus bergerak cepat melakukan penyesuaian formulasi begitu aturan disahkan. Pasalnya, karakter fisik dan kimiawi dari B50 dikatakan dapat berpengaruh terhadap performa cukup signifikan, dibandingkan dengan formula B40 yang beredar saat ini.
"Jadi sebelum implementasi itu, pertama dasar hukumnya harus jelas. Dasar hukumnya adalah spesifikasi dari Dirjen Migas untuk B50," buka Guru Besar Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Tri Yuswidjajanto kepada kumparan, Jumat (19/6/2026).

Tri menambahkan, sembari menunggu data spesifikasi bahan bakar B50 dari pihak Dirjen EBTKE. Ia menilai kadar campuran ini diprediksi kuat bakal berubah, terutama pada ambang batas penurunan kadar air menjadi 300 serta penyusutan senyawa monogliserit.
Salah satu parameter krusial yang paling disorot dari pergeseran formula B50 ini adalah terjadinya lonjakan nilai Cetane Number (CN) atau angka setana. Secara teoritis, jika menggunakan basis komponen solar berspesifikasi CN 48 dan biodiesel ber-CN 51, maka formula B50 akan menghasilkan nilai rata-rata campuran di angka (CN) 49,5.
Meskipun secara angka terlihat lebih tinggi dan menjanjikan pembakaran yang lebih responsif, kondisi ini justru menyimpan potensi masalah tersendiri bagi kendaraan generasi lama. Sifat kimiawi zat yang terlalu cepat menyala di dalam ruang bakar berisiko tidak sinkron dengan sistem mekanis mesin diesel konvensional.
"Cetane number-nya naik tinggi, timing injection-nya tidak bisa menyesuaikan, justru dayanya turun," tambah Tri.
Dirinya bercerita bahwa fenomena ini serupa dengan kasus mobil berbahan bakar bensin lawas yang dipaksakan menenggak bahan bakar beroktan terlalu tinggi tanpa penyesuaian sistem pengapian. Efek nyata yang akan langsung dirasakan oleh pemilik adalah performa tarikan kendaraan menjadi tersendat serta berat saat menanjak.

"Pada mesin diesel uzur yang masih mengadopsi sistem indirect injection atau direct injection manual, titik waktu penyemprotan bahan bakar tidak dapat beradaptasi secara otomatis," jelas Tri.
Akibatnya, ledakan pembakaran sudah terjadi mendahului langkah kompresi optimal ketika piston masih bergerak menuju Titik Mati Atas (TMA).
Kendati demikian, potensi kendala penurunan performa mesin akibat ketidaksesuaian waktu pembakaran ini dipastikan tidak akan menjangkiti lini kendaraan modern. Mobil-mobil diesel keluaran terbaru yang beredar di pasar saat ini umumnya telah mengadopsi sistem manajemen mesin berbasis komputasi yang fleksibel.
Berkat kehadiran sensor elektronik pada sistem injeksi pasokan bahan bakar modern, komputer mobil (ECU) akan langsung membaca karakteristik bahan bakar baru secara presisi. Sistem secara otomatis menggeser titik waktu penyemprotan agar tetap mendekati titik mati atas demi mempertahankan efisiensi energi yang optimal.