News Berita

Membentuk Pekerja Sejak dari Bangku Sekolah

Selain mengajarkan ilmu, Sekolah juga membentuk disiplin dan budaya kerja sejak dini. Tetapi sangat bahaya apabila tidak diimbangi kemampuan berpikir kritis.

Membentuk Pekerja Sejak dari Bangku Sekolah

Pendidikan sering dipahami sebagai sarana untuk mencerdaskan kehidupan bangsa. Sekolah dipandang sebagai tempat siswa memperoleh ilmu pengetahuan, mengembangkan potensi, dan mempersiapkan masa depan yang lebih baik. Pandangan tersebut tidak sepenuhnya keliru. Dalam kajian sosiologi pendidikan, sekolah juga dipahami sebagai institusi yang membentuk kebiasaan, sikap, dan pola perilaku yang dianggap penting dalam kehidupan sosial.

Siswa dibiasakan datang tepat waktu, mengikuti aturan, menyelesaikan tugas sesuai tenggat waktu, serta menghormati struktur otoritas di dalam kelas. Aktivitas tersebut tampak sebagai bagian normal dari proses belajar. Namun, pola yang sama juga ditemukan dalam dunia kerja modern.

Pola tersebut menarik perhatian sosiolog pendidikan Amerika, Samuel Bowles dan Herbert Gintis. Melalui teori correspondence principle, keduanya berpendapat bahwa struktur sekolah memiliki kesamaan dengan struktur dunia kerja. Hubungan guru dan siswa mencerminkan hubungan atasan dan bawahan. Jadwal pelajaran menyerupai jam kerja. Sistem nilai berfungsi seperti evaluasi kinerja. Kepatuhan terhadap aturan menjadi kualitas yang terus dilatih sejak usia sekolah.

Dalam perspektif ini, sekolah tidak hanya mempersiapkan siswa untuk melanjutkan pendidikan, tetapi juga untuk memasuki pasar kerja.

Jejak Dunia Kerja di Ruang Kelas

Fenomena tersebut cukup mudah ditemukan dalam praktik sehari-hari. Kehadiran sering menjadi syarat penting dalam penilaian meskipun pemahaman siswa terhadap materi sudah baik. Tugas harus dikumpulkan sesuai jadwal yang ditentukan. Kedisiplinan administratif kerap memperoleh perhatian yang sama besar dengan capaian akademik. Nilai yang diajarkan bukan tentang pengetahuan saja , tetapi juga tentang bagaimana seseorang berfungsi dalam sebuah organisasi.

Kondisi ini menjadi relevan ketika melihat perubahan pasar tenaga kerja modern. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada Februari 2024 jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai lebih dari 149 juta orang. Setiap tahun, jutaan lulusan baru memasuki pasar kerja yang semakin kompetitif. Sekolah kemudian berada dalam posisi sebagai lembaga yang menyiapkan tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan tersebut.

Ilustrasi Sekolah yang mencetak pekerja  Foto: Generate By AI
Ilustrasi Sekolah yang mencetak pekerja Foto: Generate By AI

Pandangan kritis terhadap kondisi ini dikembangkan lebih lanjut oleh Michael Apple. Menurut Apple, kurikulum tidak pernah sepenuhnya netral karena selalu berkaitan dengan kepentingan sosial dan ekonomi yang lebih luas. Pengetahuan yang dianggap penting untuk diajarkan sering kali selaras dengan kebutuhan kelompok yang memiliki pengaruh dalam masyarakat.

Kritik tersebut tidak berarti sekolah hanya berfungsi melayani kepentingan ekonomi. Pendidikan tetap memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan berpikir, kreativitas, dan partisipasi sosial. Namun, pertanyaan mengenai siapa yang paling diuntungkan dari sistem pendidikan tetap relevan untuk dibahas.

Menyiapkan Masa Depan atau Mengulang Pola?

Perkembangan teknologi dalam beberapa tahun terakhir juga memperlihatkan tantangan baru. Banyak pekerjaan rutin mulai tergantikan oleh otomatisasi dan kecerdasan buatan. Dunia kerja semakin membutuhkan kemampuan berpikir kritis, pemecahan masalah, dan kreativitas. Ironisnya, sebagian sekolah masih berfokus pada hafalan, kepatuhan prosedural, dan pencapaian nilai akademik semata.

Situasi tersebut memunculkan jarak antara kebutuhan masyarakat masa depan dan pola pendidikan yang masih bertahan hingga sekarang. Sekolah sering mengeklaim mempersiapkan siswa untuk menghadapi perubahan, tetapi sebagian praktik pembelajarannya masih berorientasi pada model kerja yang lahir dari kebutuhan industri masa lalu.

Pembahasan mengenai pendidikan akhirnya tidak hanya berkaitan dengan kurikulum atau metode mengajar. Sekolah memang berfungsi menyalurkan pengetahuan, tetapi juga membentuk cara siswa beradaptasi dengan struktur sosial dan ekonomi yang ada. Dari ruang kelas hingga dunia kerja, terdapat pola-pola yang tidak selalu tertulis dalam kurikulum, tetapi terus dipelajari dan dijalankan oleh siswa setiap hari.

Buka sumber asli