Melihat Kampung Internet Komdigi di Lombok
Melihat Kampung Internet Komdigi di Lombok. #newsupdate #update #news #text

Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) meninjau program Kampung Internet di Lombok, Nusa Tenggara Barat, Rabu (22/4).
Tinjauan ini dilakukan untuk memantau dampak program tersebut terhadap masyarakat di Desa Setanggor, Kabupaten Lombok Tengah dan Desa Jeruk Manis, Kabupaten Lombok Timur.
Kepala Desa Setanggor, Kamarudin, mengatakan sebanyak 66 pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) milik masyarakatnya kini telah terjangkau internet.
“Kalau jumlah titik yang sudah terlayani itu ada 66 UMKM. UMKM bukan saja kuliner, tetapi ada juga para pedagang-pedagang yang ada di pinggir kayak jual sembako,” kata Kamarudin.
Kamarudin menyebutkan program ini menjawab kebutuhan masyarakat untuk berjualan di sosial media. Sebab, sebelumnya, internet di Desa Setanggor hanya terpusat di satu titik.
“Nah ini perlu kami cerita bahwa ada memang (internet), tetapi kan harus kita ‘tembak’ dari kecamatan gitu. Itu enggak terlalu banyak sih aksesnya, di beberapa rumahlah gitu,” sebut Kamarudin.

Semenjak Kampung Internet diberlakukan dalam delapan bulan terakhir ini, perekonomian di Desa Setanggor pun mengalami perkembangan signifikan. Khususnya bagi para ibu-ibu yang memiliki UMKM.
“Alhamdulillah dengan jaringan internet ini, jadi bagi ibu-ibu terutama ini kan, banyak sekali sekarang itu sudah berkembang,” ujar Kamarudin.
Perkembangan itu secara langsung dirasakan oleh Isnawati (31), salah satu warga Desa Setanggor yang memiliki warung sembako dan buah-buahan. Ia mengaku baru bisa melakukan promosi setelah program Kampung Internet diberlakukan. Dampaknya, penjualannya pun mengalami peningkatan.
“Penjualan online saya meningkat soalnya promosi semakin meluas karena tidak pernah ada gangguan jaringan, selalu lancar Wi-Fi. Terus customer saya juga semakin bertambah,” ujar Isnawati.
Warungnya pun dilengkapi metode pembayaran dengan QRIS. Selain itu, ia juga rutin melakukan live streaming untuk mempromosikan jualannya yang membuatnya memperoleh pemasukan hingga Rp 20 juta per bulan.
Sebelumnya ia membeli paket internet maupun voucher Wi-Fi dari tetangganya yang dibanderol Rp 200 ribu hingga Rp 250 ribu. Kebiasaan tersebut kini berhenti.
“Kita harus yang tiga ribuan, dua ribuan dari voucher. Voucher dari yang punya Wi-Fi harus beli ke tetangga kita, itu pun cuma beberapa jam, coba dikali sebulan berapa ratus,” sebut Isnawati.
Ia juga mengatakan internet gratis yang diterimanya bukan hanya bermanfaat untuknya, melainkan juga keluarganya.
“Untuk kerja suami, untuk kuliah anak, tugas-tugasnya kan bisa. Banyak manfaat,” ucap Isnawati.

Sementara di Desa Jeruk Manis terdapat 77 titik yang terjangkau oleh program Kampung Internet. Didominasi oleh UMKM yang berupa tempat penginapan dan kuliner.
Desa ini merupakan desa pariwisata dan dijuluki sebagai ‘Ubud-nya Lombok’, sehingga perekonomiannya tergantung pada wisatawan yang masuk.
Kepala Desa Jeruk Manis, Nasipudin mengungkapkan terdapat peningkatan wisatawan saat internet Komdigi terpasang. Sebelumnya wisatawan yang datang hanya terhitung jari dalam satu bulan, kini seringkali penginapan penuh diisi wisatawan.
“Dulu yang menginap itu lima orang, enam orang dalam satu bulan nih. Sekarang bisa menginap sampai hampir satu bulan full kan, berarti sangat jauh peningkatannya gitu,” sebut Nasipudin.
Salah satu pemilik penginapan sekaligus pengusaha kuliner lokal, Rahma (51) mengungkapkan keberadaan internet di tempat usahanya membuat promosi usahanya kian gencar melalui banyak aplikasi.
“Aplikasi (untuk promosi) misalnya Instagram, Facebook, Snack Video, I didn’t go TikTok to be honest,” kata Rahma.
“Sekarang dia (para pengunjung) bisa mengakses kita dari mana aja. Dan di sini kualitas internetnya sangat bagus. Semua Ibu bisa jual apa yang ada di sini,” sambungnya.
Selain itu, fasilitas penginapannya terasa lengkap. Hal itu pun membuat pengunjung merasakan kepuasan.
“Karena dia mengharapkan fasilitas lengkap. Sekarang mereka sangat berpuas hati, jadi mereka akan datang dari jauh, dia tidak akan merasakan jauhnya berdampak, tapi dia merasakan kepuasannya,” ujar Rahma.

Salah satu WNA asal Belgia, Yana (23) merasakan kenyamanan dengan keberadaan internet di penginapan milik Rahma. Ia yang telah dua kali menginap di sini mengaku bahwa liburannya kali ini tetap bisa bekerja dan memiliki akses yang terbuka, meskipun berada di pelosok.
“It’s better. It’s nice because it feels more accessible for everyone. So everyone can come here, do some work if they need to,” tutur Yana.
Mendukung Pembelajaran Sekolah
Selain sektor perekonomian, manfaat Kampung Internet juga menyentuh bidang pendidikan.
Salah seorang guru di SMPN 4 Praya Barat, Desa Setanggor, Nuraid mengatakan keberadaan internet Komdigi sangat membantu kelancaran aktivitas pembelajaran, termasuk saat pelaksanaan Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang diselenggarakan beberapa waktu lalu.
Nuraid mengungkapkan bahwa para siswa akan mulai diajarkan dalam mengakses internet. Pembelajaran ini akan dilakukan secara khusus sebab para siswa sebetulnya tidak diperkenankan membawa ponsel.
“Kebetulan siswa belajarnya dilarang menggunakan HP. Sehingga nanti akan ada pembelajarannya, ada guru TIK di sini yang khusus di ruang komputer,” sebut Nuraid.
Di samping itu, Nuraid menyebutkan manfaat internet ini bagi para guru. Khususnya untuk mengakses modul pembelajaran dan bahan ajar.
"Kalau guru-guru mengaplikasikannya itu kan istilahnya kalau ada permasalahan dengan pembelajaran, kita coba cari lewat internet gitu kan, tentang bagaimana modul-modul kita cari lewat sana, sehingga kita diskusikan sama teman-teman," kata Nuraid.

Pelatihan Para Teknisi Internet Komdigi
Staf Khusus Menkomdigi, Alfreno Kautsar Ramadhan, mengatakan selain menyediakan akses internet gratis, Komdigi juga bekerjasama dengan penyedia layanan internet untuk melakukan pelatihan bagi siswa SMK di daerah tersebut.
Siswa-siswa SMK yang dilatih itu diharapkan memiliki keterampilan dan bisa direkrut oleh penyedia layanan internet.
"Di situ mereka akan dilatih mengenai secara teknis fiber optik itu gimana dan segala macam, sehingga kerja sama kita sama ISP, mereka juga bisa memberdayakan talenta-talenta lokal sekitar yang menerima manfaat Kampung Internet," kata Alfreno.
Pelatihan ini telah berjalan dan menyasar kepada 32 siswa SMK. Adapun 32 siswa ini berasal dari berbagai sekolah, meskipun diprioritaskan siswa dari desa setempat.
“Gabungan itu semua. Di sini kan prioritas karena berdekatan. Mungkin sekitar 20-15 lah, 20 dari SMK sini lokal, 15 dari luar (desa),” kata pemilik salah satu perusahaan penyedia internet, Johar.
Dalam pelatihan ini, para siswa akan mendapatkan teori dan praktik lapangan, sebelum akhirnya dipekerjakan oleh penyedia layanan internet. Mereka akan diproyeksikan menjadi aktor terdepan dalam mengatasi masalah internet di wilayahnya.