News Berita

Medsos Lawas Friendster Come Back, Bisa Diunduh Pengguna iPhone di RI

Media sosial lawas Friendster bangkit dari kubur. Milenial merapat. #kumparanTECH

Medsos Lawas Friendster Come Back, Bisa Diunduh Pengguna iPhone di RI
Ilustrasi media sosial Friendster. Foto: Gil C/Shutterstock
Ilustrasi media sosial Friendster. Foto: Gil C/Shutterstock

Lebih dari satu dekade setelah platform media sosial Friendster mati, kini ada upaya untuk menghidupkannya kembali meski dalam bentuk yang sedikit berbeda.

Seorang programmer asal Philadelphia, Mike Carson, mengumumkan melalui blog pribadinya bahwa ia telah membeli domain Friendster dan mengamankan hak merek dagangnya pada tahun lalu.

Kini, ia meluncurkan aplikasi iOS untuk para pengguna lama internet yang ingin bernostalgia, maupun pengguna baru yang penasaran. Berdasarkan pantauan kumparan, aplikasi Friendster juga sudah bisa di-download oleh pengguna iPhone di Indonesia.

Carson dikenal sebagai pengembang layanan SaaS mandiri, termasuk situs backorder domain Park.io. Ia juga aktif di pasar jual beli nama domain, yang akhirnya membawanya pada akuisisi Friendster.

Dilansir The Register, Carson menjelaskan bahwa pada Oktober 2023, domain Friendster.com kembali aktif setelah delapan tahun tidak digunakan. Dari situ, ia melacak pemiliknya melalui data WHOIS dan jaringan Park.io.

Pemilik sebelumnya ternyata membeli domain tersebut dengan harga kurang dari 8.000 dolar AS dan hanya menggunakannya untuk menampilkan iklan. Carson kemudian mencapai kesepakatan dengan memberikan sekitar 20.000 dolar AS dalam bentuk Bitcoin serta satu domain lain yang menghasilkan pendapatan iklan sekitar 9.000 dolar per tahun.

Sebagai perbandingan, pada masa puncaknya, Friendster memiliki lebih dari 115 juta pengguna terdaftar, terutama di kawasan Asia-Pasifik. Pada 2009, platform ini bahkan diakuisisi oleh MOL Global dengan nilai sekitar 26,4 juta dolar AS.

Friendster sudah bisa didownload oleh pengguna iOS di Indonesia. Foto: Screencshot/Friendster
Friendster sudah bisa didownload oleh pengguna iOS di Indonesia. Foto: Screencshot/Friendster

Carson ingin menghadirkan kembali pengalaman media sosial seperti di masa awal internet, lebih sederhana dan positif.

“Saat ini, media sosial cenderung penuh dengan hal negatif. Padahal, saya ingat Friendster sebagai pengalaman yang menyenangkan,” tulis Carson.

Versi baru Friendster ini tidak menggunakan algoritma, tidak menampilkan iklan, dan tidak menjual data pengguna ke pengiklan. Salah satu fitur unik yang diperkenalkan adalah cara menambahkan teman. Pengguna tidak bisa sembarangan terhubung secara online. Untuk menjadi teman, dua pengguna harus benar-benar bertemu dan menyentuhkan ponsel mereka, mirip teknologi NFC atau AirDrop.

Menurut Carson, pendekatan ini bertujuan mendorong interaksi langsung dan memastikan koneksi yang terjalin benar-benar dengan orang nyata.

“Ide ini menyenangkan karena mendorong orang untuk bertemu langsung, sekaligus memastikan koneksi yang autentik,” ujarnya.

Saat ini, Neo-Friendster hanya tersedia dalam bentuk aplikasi iOS tanpa versi web. Carson menyebut versi Android dan web sedang dalam pengembangan. Namun, tantangan besar sudah menanti. Tanpa iklan dan model bisnis yang jelas, platform ini berpotensi membutuhkan biaya besar untuk bertahan.

Carson mengaku tidak terlalu fokus mencari keuntungan, melainkan berharap platform ini bisa setidaknya menutup biaya operasional.

Ke depan, ia mempertimbangkan fitur berbayar seperti username khusus atau email dengan domain @friendster.com. Motivasi utama Carson membangun ulang Friendster berakar dari pengalamannya dengan platform lama seperti OkCupid, tempat ia bertemu istrinya.

“Situs seperti itu bisa mengubah hidup seseorang, orang bisa bertemu, jatuh cinta, dan membangun keluarga,” katanya.

Ia berharap Friendster bisa menghadirkan kembali koneksi bermakna di dunia nyata. Meski ide ini menarik, tantangan utamanya adalah membuat orang kembali peduli pada platform lama di tengah dominasi media sosial modern.

Selain itu, konsep yang mengharuskan pengguna bertemu langsung juga bisa menjadi hambatan. Dengan kata lain, agar platform ini benar-benar hidup, pengguna harus mau keluar dari zona nyaman digital mereka, dan itu bukan hal yang mudah. Namun jika berhasil, Neo-Friendster bisa menjadi angin segar di tengah kejenuhan media sosial saat ini.

Buka sumber asli