Marak Kekerasan di Daycare, IDAI Minta Standarisasi dan Pengawasan Ketat
Diperlukan pengawasan dan standarisasi daycare yang lebih ketat, peran aktif orang tua untuk memastikan keamanan dan kesejahteraan anak. #momsupdate #moms #update #text

Kasus kekerasan terhadap anak kembali menjadi sorotan publik dan memicu keprihatinan mendalam. Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr. dr. Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A(K), menilai fenomena ini sudah terjadi berulang kali dan tidak bisa lagi dianggap sebagai kejadian biasa.
Ia menyoroti sejumlah kasus yang sempat viral, mulai dari praktik terapi anak yang dilakukan secara kasar hingga kejadian di daycare di Yogyakarta dan Aceh. Dalam kasus tersebut, anak dilaporkan mengalami perlakuan yang tidak manusiawi, seperti diikat dan diperlakukan secara tidak layak. Bahkan, kejadian serupa juga pernah muncul di Jakarta.
“Dari perspektif dokter anak tentu ini sangat tidak bisa diterima. Mungkin orang tua lain juga sama seperti itu ya,” ucap dr. Piprim dalam webinar bersama IDAI, Rabu (29/4).

Menurutnya, rentetan kejadian ini menjadi bukti bahwa sistem perlindungan anak, khususnya di lingkungan daycare, masih perlu diperkuat secara menyeluruh.
Pentingnya Standarisasi dan Pengawasan Daycare
Untuk mencegah kasus serupa terulang, diperlukan langkah pencegahan yang lebih sistematis. Salah satunya adalah memastikan setiap daycare memiliki standar operasional yang jelas serta diawasi oleh tenaga profesional yang kompeten.
Selain itu, transparansi juga menjadi hal penting. Keberadaan CCTV, misalnya, dinilai dapat membantu orang tua memantau aktivitas anak selama berada di daycare. Dengan begitu, potensi terjadinya kekerasan bisa diminimalisir.

Orang tua juga diimbau untuk lebih selektif dalam memilih daycare. Jangan hanya tergiur oleh harga murah, promosi, atau branding semata tanpa memastikan keamanan dan kualitas layanan.
Orang Tua Perlu Lebih Peka
Tak kalah penting, orang tua perlu lebih peka terhadap perubahan perilaku anak. Tanda-tanda seperti ketakutan berlebihan, penolakan saat akan ke daycare, hingga perubahan emosi yang drastis bisa menjadi sinyal adanya kekerasan, baik fisik maupun psikis.
Kesadaran ini menjadi kunci agar kasus kekerasan pada anak bisa terdeteksi lebih dini. Dengan begitu, langkah penanganan dapat segera dilakukan sebelum dampaknya semakin besar.

Melihat berbagai kejadian yang terjadi, IDAI menegaskan bahwa kekerasan terhadap anak tidak boleh terulang lagi. Perlindungan anak harus menjadi prioritas bersama, baik oleh pengelola daycare, tenaga profesional, maupun orang tua.
“Jadi selalu dicek, kekerasan fisik maupun kekerasan psikis. Kalau anaknya ada trauma, ada belum apa-apa udah drama kalau dibawa ke daycare-nya, menolak, ketakutan. Ini memang menjadi alarm ya,” tegas dr. Piprim.