Mahasiswa Asal Banyuwangi Juarai Kompetisi Satelit AAS-NASA di AS
Mahasiswa Asal Banyuwangi Juarai Kompetisi Satelit AAS-NASA di AS #newsupdate #update #news #text

Seorang pemuda asal Banyuwangi, Jawa Timur, berhasil menorehkan prestasi di kancah internasional. Adam Kandias (21), mahasiswa asal Kelurahan Klatak, Kecamatan Kalipuro, Banyuwangi, sukses meraih Juara III Dunia dalam ajang CanSat Competition 2026 yang berlangsung di Virginia, Amerika Serikat.
CanSat Competition merupakan kompetisi teknologi kedirgantaraan bergengsi tingkat global yang diselenggarakan oleh American Astronautical Society (AAS) dengan dukungan dari badan antariksa AS, NASA. Kompetisi yang digelar pada 7–8 Juni 2026 tersebut menantang mahasiswa dari berbagai belahan dunia untuk merancang, membangun, dan meluncurkan satelit mini.

Dalam kompetisi tersebut, Adam yang kini duduk di semester empat Program Studi Teknik Komputer Politeknik Elektronika Negeri Surabaya (PENS) bergabung dengan tim riset Bamantara EEPISAT. Mereka menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia yang berhasil menembus babak final dan bersaing ketat dengan 67 tim dari 21 negara.
Proses kompetisi ini memakan waktu hampir satu tahun. Setiap tim harus melewati rangkaian tahapan mulai dari penyusunan desain, penulisan paper teknis, presentasi, pengujian sistem, hingga puncaknya peluncuran satelit di Virginia.
"Dalam tim, peran saya adalah mengembangkan perangkat lunak Ground Control Station (GCS), sistem komunikasi data, serta riset antena untuk mendukung misi satelit mini yang kami kembangkan," ujar mahasiswa yang akrab disapa Dias tersebut, Kamis (18/6).

Dias menceritakan bahwa ketertarikannya pada dunia teknologi dan riset kedirgantaraan memiliki keterikatan erat dengan titik awal perjalanannya saat masih bersekolah di SMKN 1 Banyuwangi. Saat itu, ia mengikuti program inkubasi talenta digital lokal bernama Jagoan Digital yang diinisiasi oleh Pemerintah Kabupaten Banyuwangi.
Lewat program angkatan 2023–2024 tersebut, Dias sempat mengembangkan startup lokal bernama "Tambalin" dan terpilih masuk ke Banyuwangi Business Academy.
"Melalui Jagoan Digital, saya mendapat pengalaman belajar yang tidak saya temukan di sekolah. Terutama mengenai pola pikir untuk terus belajar, berinovasi, pemecahan masalah berbasis teknologi, hingga kemampuan public speaking," kata Dias.

Pengalaman inilah yang kemudian memantapkan langkahnya untuk mendalami teknik komputer di bangku kuliah hingga berujung pada panggung kompetisi NASA.
Bagi Dias, pencapaian juara di Amerika Serikat ini bukan akhir proses, melainkan validasi bahwa talenta dari daerah memiliki peluang yang sama untuk bersaing di tingkat global.
"Saya bersyukur karena perjalanan yang dimulai dari ketertarikan pada teknologi di daerah, dapat mengantarkan saya membawa nama Indonesia di tingkat dunia," ucap Dias.

Keberhasilan Dias di panggung dunia ini turut mendapat apresiasi dari Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani.
Ipuk menyatakan bahwa program inkubasi Jagoan Digital yang digagas pemkab memang dirancang untuk menjaring inovasi dari akar rumput agar mampu bersaing secara global.
"Kami semua sangat bangga tentunya dengan talenta berbakat seperti Adam Kandias. Ini bisa menjadi inspirasi anak muda lain untuk berprestasi di berbagai sektor," kata Ipuk.
Menurut Ipuk, program Jagoan Digital sejauh ini telah menetaskan ratusan talenta digital di daerah. Beberapa alumnus program ini tercatat berhasil diserap oleh startup teknologi nasional serta meraih prestasi di ajang nasional hingga mendapatkan beasiswa LPDP di Columbia University.