News Berita

Laba Anggota MIND ID Kompak Naik di Tengah Gejolak Harga Komoditas

Anggota holding MIND ID kompak meraup laba di tengah gejolak harga komoditas. Berikut rinciannya. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Laba Anggota MIND ID Kompak Naik di Tengah Gejolak Harga Komoditas
Ilustrasi MIND ID. Foto: Shutterstock
Ilustrasi MIND ID. Foto: Shutterstock

Perusahaan-perusahaan di bawah naungan Holding Industri Pertambangan Indonesia (MIND ID) berhasil menavigasi tantangan volatilitas harga komoditas dan gejolak geopolitik global sepanjang 2025. Alih-alih tertekan, seluruh anggota holding tambang pelat merah tersebut justru mencatat kinerja yang solid dan konsisten positif sepanjang tahun lalu.

Dirinci berdasarkan komoditas, Selasa (9/6), segmen emas melalui PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) mencatatkan kinerja mencolok dengan laba tahun berjalan sebesar Rp 7,92 triliun pada tahun buku 2025. Capaian tersebut melonjak 106 persen dibandingkan laba tahun berjalan 2024 yang sebesar Rp 3,85 triliun.

Pertumbuhan laba itu sejalan dengan peningkatan pendapatan perseroan yang naik 22 persen menjadi Rp 84,64 triliun pada 2025, dibandingkan Rp 69,19 triliun pada tahun sebelumnya. Kinerja tersebut terutama ditopang oleh bisnis emas yang menyumbang sekitar 79 persen terhadap total penjualan perusahaan. Penjualan emas ANTAM tercatat mencapai Rp 66,47 triliun sepanjang 2025 atau meningkat 15 persen dibandingkan Rp 57,56 triliun pada 2024, ditopang oleh permintaan yang tetap kuat.

Dari komoditas batu bara, PT Bukit Asam Tbk. (PTBA) membukukan laba bersih sebesar Rp 2,93 triliun pada 2025, dengan pendapatan sebesar Rp 42,65 triliun yang relatif stabil dibandingkan tahun sebelumnya. Kinerja ini berlangsung di tengah tekanan harga batu bara global yang masih berlanjut, yang mana Harga Newcastle Index justru tercatat turun 22 persen secara tahunan, sementara Indonesia Coal Index (ICI-3) melemah 16 persen.

PTBA mampu menjaga kinerja melalui peningkatan volume penjualan sebesar 6 persen secara tahunan, dengan porsi penjualan domestik mencapai 54 persen dan ekspor 46 persen ke pasar Bangladesh, India, Vietnam, Korea Selatan, dan Filipina.

PT Freeport Indonesia (PTFI) mencatat laba bersih sebesar USD 2,52 miliar atau sekitar Rp 42,07 triliun (kurs Rp 16.698 per dolar AS) pada 2025 dengan pendapatan sebesar USD 8,62 miliar atau sekitar Rp 143,9 triliun. Capaian ini mencerminkan kekuatan dari operasional tambang tembaga dan emas di Papua, sekaligus hasil dari penguatan hilirisasi melalui fasilitas smelter tembaga di JIIPE Gresik.

Beranjak ke komoditas aluminium, PT Indonesia Asahan Aluminium (Inalum) mencatatkan kenaikan laba bersih hingga 15 persen sepanjang 2025, ditopang oleh kenaikan pendapatan sekitar 10 persen menjadi USD 785,7 juta. Kinerja ini mencerminkan stabilitas operasional pabrik peleburan aluminium terbesar di Asia Tenggara di tengah fluktuasi harga aluminium global.

Ilustrasi timah. Foto: Dok. MIND ID
Ilustrasi timah. Foto: Dok. MIND ID

Di segmen timah, PT Timah Tbk. (TINS) mencatatkan laba bersih sebesar Rp 1,31 triliun atau mencapai 119 persen dari target RKAP 2025. Pendapatan TINS tercatat sebesar Rp 11,55 triliun atau meningkat 6,41 persen dibandingkan Rp 10,86 triliun pada 2024. Dari sisi operasional, perusahaan membukukan produksi bijih timah sebesar 18.635 ton Sn, produksi logam timah sebesar 17.815 metrik ton, dan penjualan logam timah mencapai 16.634 metrik ton.

Dari hasil tambang nikel, PT Vale Indonesia Tbk. (INCO) turut mencatatkan pertumbuhan laba yang solid pada 2025 dengan pendapatan naik 4,19 persen menjadi USD 990,19 juta. Pertumbuhan ini mencerminkan efisiensi operasional yang konsisten di wilayah Sorowako, Sulawesi Selatan.

Secara keseluruhan, kinerja solid Grup MIND ID sepanjang 2025 turut memberikan kontribusi signifikan bagi penerimaan negara. Melalui pembayaran pajak, royalti, dan dividen kepada pemegang saham, hasil operasional seluruh anggota holding mengalir kembali sebagai manfaat nyata bagi perekonomian nasional. Hal ini menegaskan bahwa pengelolaan sumber daya mineral strategis Indonesia tidak hanya menghasilkan nilai korporasi, tetapi juga memperkuat fondasi fiskal negara.

Aktivitas tambang nikel di PT Vale Indonesia di kawasan Harapan East, Blok Sorowako. Foto: Angga Sukmawijaya/kumparan
Aktivitas tambang nikel di PT Vale Indonesia di kawasan Harapan East, Blok Sorowako. Foto: Angga Sukmawijaya/kumparan

Pengamat BUMN Universitas Indonesia (UI), Toto Pranoto, menilai capaian Grup MIND ID tersebut menunjukkan semakin kuatnya kemampuan holding pertambangan dalam mengintegrasikan bisnis dari hulu hingga hilir. Menurutnya, kinerja positif yang dibukukan tidak semata-mata ditopang oleh windfall profit akibat kenaikan harga komoditas yang dipicu situasi geopolitik global yang belum stabil.

"Ya, kinerja ini menunjukkan kemampuan MIND ID dalam integrasi hulu-hilir bisnis yang semakin baik, di luar windfall profit yang diperoleh karena harga komoditas yang meningkat akibat situasi geopolitik yang tidak stabil," ujar Toto.

Dia menilai tantangan berikutnya bagi MIND ID adalah meningkatkan nilai tambah melalui diversifikasi produk hilirisasi. Tidak hanya berhenti pada produk setengah jadi melalui fasilitas smelter, tetapi juga mengembangkan produk jadi yang memiliki nilai ekonomi lebih tinggi, seperti baterai kendaraan listrik.

Selain itu, Toto menekankan pentingnya penerapan prinsip good mining guna menjaga keberlanjutan bisnis, termasuk melalui pemanfaatan teknologi terkini untuk meningkatkan efisiensi biaya. Dia juga mendorong penguatan sinergi dengan BUMN lain maupun sektor swasta agar produk-produk hilirisasi memiliki pasar yang lebih luas.

"Sinergi dengan BUMN lain atau sektor swasta bisa ditingkatkan supaya produk akhir hilirisasi, misalnya gasifikasi batu bara menjadi dimethyl ether (DME), bisa mendapatkan pangsa pasar yang cukup," katanya.

Buka sumber asli