Kopi dan Rasa yang Hilang
Kopi menjadi cermin manusia modern: kaya bahasa rasa, tetapi miskin kepekaan. Di tengah gaduh digital dan politik, kita diajak jujur pada pahit hidup agar tetap menjadi manusia.

Kopi zaman sekarang tidak lagi sekadar hitam dan pahit. Ia sudah naik kelas. Atau mungkin naik panggung. Dulu, kopi cukup disebut kopi. Diseduh air panas, diaduk, diminum, lalu membuat mata melek dan hidup sedikit lebih sanggup dijalani. Sekarang kopi punya silsilah, punya daerah asal, punya proses pencucian, punya tingkat sangrai, punya aroma, punya tubuh, punya karakter, bahkan mungkin punya KTP.
Ada kopi yang katanya punya jejak rasa buah tropis. Ada yang nutty, chocolaty, floral, winey, smoky, earthy, dan entah apa lagi. Di beberapa kedai, kopi bahkan sudah seperti puisi patah hati: ada jejak senja, rasa rindu, aroma kehilangan dan aftertaste seseorang yang pernah janji tapi tidak pernah datang.
Sementara di masyarakat kelas bawah, kopi dengan rasa janji politik masih paling banyak dikonsumsi. Harum di awal, manis saat kampanye, getir setelah pemilu, lalu bikin jantung berdebar setiap tanggal tua. Kopi jenis ini biasanya disajikan dengan gula berlebihan dan slogan yang dicetak besar-besar.
Di kedai-kedai kopi, orang tidak lagi sekadar memesan minuman. Mereka memesan pengalaman, “Mas, saya mau yang acidity-nya ringan, body-nya medium dan aftertaste-nya bersih.” Kalimat itu terdengar seperti sedang memilih calon pemimpin: tampilan harus segar, badan jangan terlalu berat dan bekasnya jangan menyusahkan rakyat.
Kopi sudah punya bahasa yang canggih. Sayangnya, manusia sering kehilangan bahasa untuk perasaannya sendiri. Kita bisa membedakan kopi yang asamnya menyerupai jeruk, tetapi sulit membedakan marah dengan kecewa. Kita bisa menjelaskan aroma floral dari biji Etiopia, tetapi gagap menjelaskan kenapa hati kita kering saat melihat orang lain susah. Kita tahu mana kopi robusta, arabika, liberika ataupun excelsa, tetapi sering tidak tahu apakah hari ini kita sedang menjadi manusia atau sekadar perangkat berjalan yang membutuhkan software emosi.
Inilah zaman ketika rasa menjadi komoditas. Yang pahit dijual sebagai gaya hidup, yang manis dikemas sebagai pengalaman. Yang hambar diberi nama minimalis. Bahkan gelisah pun bisa difoto dengan pencahayaan yang baik, diberi caption sendu, lalu menunggu tanda suka dari orang-orang yang sama-sama kesepian.
Manusia modern tidak lagi minum kopi supaya terjaga. Ia minum kopi supaya terlihat sedang terjaga. Terjaga dari apa? Entahlah. Mungkin dari cicilan. Mungkin dari rapat yang tidak penting. Mungkin dari grup WhatsApp alummi SMA yang setiap pagi mengirim doa, siang hari mengirim hoaks, sore hari mengirim marah-marah, malam hari mengirim stiker bunga.
Kopi masa kini punya banyak rasa. Hidup masa kini juga begitu. Ada rasa cemas yang diseduh pelan-pelan sejak bangun tidur. Ada rasa takut tertinggal yang diminum tanpa gula. Ada rasa iri yang aromanya halus, tetapi lama-lama menusuk hidung. Ada rasa marah yang dipanaskan ulang setiap hari oleh layar kecil bernama telepon genggam.
Dalam psikologi sosial, ada yang disebut perbandingan sosial. Leon Festinger menjelaskan bahwa manusia sering menilai dirinya dengan cara membandingkan diri dengan orang lain. Dulu orang membandingkan sawah dengan sawah tetangga. Sekarang membandingkan hidup dengan foto liburan orang lain. Dulu iri melihat ayam tetangga lebih gemuk. Sekarang iri melihat orang sarapan croissant di Paris, padahal mungkin yang memotret juga sedang dikejar tagihan kartu kredit.
Begitulah hidup digital, etalase bahagia dibuka 24 jam. Semua orang menjadi toko, ada yang menjual prestasi, ada yang menjual kesedihan, ada yang menjual kesalehan, ada yang menjual kemarahan, ada juga yang menjual kebijaksanaan meskipun baru selesai memaki bawahan karena kerjaan tidak beres.
Kopi mengenal istilah aftertaste, rasa yang tertinggal setelah tegukan terakhir. Dalam kehidupan sosial, aftertaste zaman sekarang kadang aneh. Setelah debat politik, yang tertinggal bukan pencerahan, melainkan permusuhan. Setelah membaca berita, yang tertinggal bukan pengetahuan, melainkan kecurigaan. Setelah menonton orang bertengkar di televisi, yang tertinggal bukan solusi, melainkan tepuk tangan untuk kekacauan.
Barangkali karena terlalu sering menelan aftertaste yang pahit itulah, ruang publik kita berubah menjadi semacam warung kopi raksasa. Semua orang bicara, semua orang punya tafsir, semua orang merasa membawa kebenaran dalam gelasnya masing-masing. Dari sepak bola sampai geopolitik, dari harga cabai sampai konstitusi, dari selebritis sampai nasib republik, semuanya diaduk di meja yang sama. Tapi, kalau dulu, orang bertengkar soal politik, bola, harga beras, sampai nasib negara biasanya selesai dengan tawa dan pisang goreng yang menemani secangkir kopi. Sekarang, beda pendapat sedikit saja bisa membuat orang merasa sedang menghadapi musuh republik, yang harus dilawan mati-matian. Tapi ya itulah demokrasi, semuanya merasa berhak.
Padahal demokrasi juga seperti kopi, membutuhkan proses seduh. Tidak bisa semuanya instan. Biji harus dipilih, digiling, ditakar, disiram air panas dengan sabar. Kalau terlalu panas, gosong. Kalau terlalu dingin, hambar. Kalau terlalu cepat, kurang keluar rasanya. Kalau terlalu lama, rasa getirnya berlebihan.
Begitu juga kekuasaan, kalau terlalu panas, rakyat bisa gosong. Kalau terlalu dingin, rakyat akan terbaikan. Kalau keputusan terlalu cepat diambil tanpa mendengar, hasilnya mentah. Kalau terlalu lama berunding tanpa bertindak, rakyat keburu lapar. Namun kenyataannya kita sering lebih suka kopi sachet politik: tinggal sobek, tuang, aduk dan tepuk tangan. Rasanya seragam, manisnya meriah, kandungannya entah. Yang penting ada gambar senyum di kemasan.
Di sinilah rasa pahit kopi perlu dihormati kembali. Pahit bukan musuh, pahit adalah guru yang tidak pandai berbasa-basi. Kritik itu pahit, kejujuran itu pahit dan mengaku salah itu juga pahit. Melihat kenyataan bahwa kita tidak sehebat yang kita kira juga pahit. Tetapi tanpa pahit, hidup menjadi sirup propaganda: manis, lengket dan membuat haus lagi.
Lihatlah bagaimana orang kini takut pada rasa pahit. Kritik dianggap serangan. Pertanyaan dianggap pembangkangan. Perbedaan dianggap ancaman. Padahal masyarakat yang sehat bukan masyarakat yang semua orangnya setuju, melainkan masyarakat yang mampu berbeda tanpa harus saling menghabisi.
Dalam politik, rasa pahit sering disembunyikan di balik kata-kata harum. Kemiskinan disebut tantangan, ketimpangan disebut dinamika, kegagalan disebut evaluasi, masalah disebut isu. Rakyat kecil disebut konstituen. Padahal kadang mereka hanya ingin disebut manusia.
Bahasa kekuasaan memang sering seperti kopi zaman now, terlalu mahal, sulit dimengerti, tetapi tetap diminum orang karena gengsi. Ketika ada pertanyaan sederhana: “Kenapa harga hidup makin berat?” Jawabannya bisa menjadi seminar tiga hari. Ketika ada pertanyaan: “Mengapa listrik padam?” Jawabannya bisa menjelma menjadi diagram, cetak biru dan pidato tentang masa depan. Ketika ada pertanyaan: “Besok makan apa?” Jawabannya kadang berupa slogan. Slogan itu seperti buih di atas cappuccino, indah sebentar, lalu hilang.
Sementara itu, manusia sehari-hari terus menjalani hidup dengan campuran rasa yang rumit. Di pagi hari ia optimis, menjelang siang ia realistis, sore hari ia sinis dan malam hari ia jadi filosofis. Padahal Kopi mengajarkan bahwa rasa tidak boleh dibohongi. Kalau pahit, katakan pahit. Kalau asam, katakan asam. Kalau gosong, jangan disebut eksotis. Kalau hambar, jangan diberi nama premium. Begitu juga hidup, kalau susah, katakan susah. Kalau keliru, katakan keliru. Kalau lelah, katakan lelah. Kalau kita salah, katakan salah.
Kejujuran rasa adalah awal dari kewarasan sosial. Sebab yang berbahaya dari zaman ini bukan hanya kebohongan besar, tetapi kebohongan kecil yang dilakukan terus-menerus. Pura-pura baik-baik saja. Pura-pura setuju. Pura-pura bahagia. Pura-pura peduli. Pura-pura tidak melihat. Lama-lama kepura-puraan itu menjadi kebudayaan. Lalu kebudayaan itu menjadi sistem. Lalu sistem itu mengajari anak-anak kita bahwa yang penting bukan menjadi benar, melainkan terlihat benar.
Maka marilah kembali ke secangkir kopi. Bukan untuk menjadi keren. Bukan untuk memotret foam berbentuk hati. Bukan untuk membicarakan acidity dengan wajah serius seperti sedang merumuskan dasar negara. Tetapi untuk duduk sebentar dan bertanya kepada diri sendiri, rasa apa yang sedang menguasai hidup kita?
Apakah kita masih punya rasa malu?
Apakah kita masih punya rasa iba?
Apakah kita masih punya rasa bersyukur?
Apakah kita masih punya rasa bersalah ketika menyakiti orang lain?
Apakah kita masih punya rasa humor, agar tidak semua perbedaan pendapat berubah menjadi perang saudara?
Kopi bisa pahit, asam, manis, wangi, gosong, atau hambar. Tetapi ia jujur sejak tegukan pertama. Manusia seharusnya begitu juga. Tidak perlu selalu manis. Tidak perlu selalu disukai. Tidak perlu selalu tampil sempurna seperti iklan minuman kemasan.
Cukup menjadi manusia yang masih punya rasa. Sebab ketika manusia kehilangan rasa, yang tersisa hanya tubuh yang bergerak, mulut yang berisik, jari yang sibuk dan kepala yang penuh alasan. Dan kalau itu terjadi, kopi sepahit apa pun tidak akan sanggup lagi membangunkan kita.