News Berita

Komitmen Bakti Lingkungan Djarum Foundation Lindungi Macan Tutul Jawa

Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersinergi dengan SINTAS Indonesia dukung Kementerian Kehutanan melaksanakan program JWLS untuk mengetahui populasi Macan Tutul Jawa.

Komitmen Bakti Lingkungan Djarum Foundation Lindungi Macan Tutul Jawa
Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Kementerian Kehutanan bersinergi menghadirkan survei populasi Macan Tutul Jawa, Java-Wide Leopard Survey (JWLS). Foto: kumparan
Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Kementerian Kehutanan bersinergi menghadirkan survei populasi Macan Tutul Jawa, Java-Wide Leopard Survey (JWLS). Foto: kumparan

Indonesia beberapa kali harus menelan pil pahit akibat kepunahan beberapa satwa endemiknya, seperti Harimau Bali dan Harimau Jawa. Menurut data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Harimau Bali dinyatakan telah punah pada 1940-an, diikuti oleh Harimau Jawa yang terlihat terakhir kali pada pada 1980-an.

Kini, ancaman kepunahan juga mengintai Macan Tutul Jawa akibat populasinya yang terus menurun dalam kurun dua dekade terakhir. Berdasarkan laporan Yayasan SINTAS Indonesia yang diterbitkan pada 2025, kini hanya tersisa sekitar 350 Macan Tutul Jawa dewasa di alam liar.

Keberadaan macan tutul semakin terancam akibat maraknya alih fungsi lahan hingga konflik dengan manusia. Padahal Macan Tutul Jawa sebagai puncak rantai makanan punya peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem di hutan Pulau Jawa.

Upaya konservasi habitat kucing besar dari ancaman kepunahan ini diwujudkan dengan kolaborasi Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Kementerian Kehutanan. Sinergi ini menghadirkan survei populasi Macan Tutul Jawa, Java-Wide Leopard Survey (JWLS).

Dari Gunung Muria hingga ke Berbagai Titik di Pulau Jawa

Program Director BLDF, Jemmy Chayadi, dan Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, pada acara bincang “Melindungi Sang Predator Puncak: Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa” di Ashta District 8, Kamis (30/4). Foto: kumparan
Program Director BLDF, Jemmy Chayadi, dan Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, pada acara bincang “Melindungi Sang Predator Puncak: Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa” di Ashta District 8, Kamis (30/4). Foto: kumparan

Program Director BLDF, Jemmy Chayadi, mengungkapkan bahwa komitmen Djarum Foundation untuk melakukan konservasi di lereng Gunung Muria telah konsisten dilakukan sejak 2006 dengan menanam ratusan ribu pohon untuk menekan jejak karbon dan mencegah bencana alam. Seiring berjalannya waktu, BLDF menyadari bahwa salah satu cara menjaga kelestarian Gunung Muria adalah dengan melindungi para penghuni aslinya, termasuk Macan Tutul Jawa.

“Jadi awalnya we see the basic needs. Kota Kudus itu keadaannya kering dan gersang, jadi kami mulai menanam pohon. Seiring berjalannya waktu, kami merasa tanggung jawab kami semakin besar, apalagi di belakang Kudus ada Gunung Muria. Akhirnya kami mulai melakukan restorasi Gunung Muria,” terang Jemmy pada acara bincang “Melindungi Sang Predator Puncak: Sinergi Pelestarian Macan Tutul Jawa” di Ashta District 8, Kamis (30/4).

Jemmy menambahkan bahwa Macan Tutul Jawa memegang peranan penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem yang berdampak pada stabilitas sosial di Pulau Jawa. Sebab kepunahannya dapat menyebabkan kerusakan lingkungan yang mengarah pada bencana alam, bahkan dapat mengganggu kegiatan ekonomi.

“Ketika melakukan penanaman pohon di Gunung Muria, kami mengetahui bahwa di sana merupakan tempat tinggal Macan Tutul Jawa. Kami pun belajar untuk menjaga penghuninya sebagai apex predator (predator puncak) serta salah satu spesies penting di Jawa,” tambah Jemmy.

Dalam perjalanannya melestarikan Gunung Muria, BLDF pun menjalin kerja sama dengan Yayasan SINTAS Indonesia pada 2022 untuk melakukan studi populasi. Pengumpulan data dilakukan menggunakan camera trap (kamera jebak) yang dipasang pada 40 titik pengamatan seluas 160 km2 di Gunung Muria. BLDF dan Yayasan SINTAS Indonesia berhasil mengidentifikasi 14 ekor Macan Tutul Jawa di Gunung Muria yang terdiri dari 5 jantan dan 9 betina.

Berlanjut pada 2024, BLDF kembali mendukung upaya pelestarian Macan Tutul Jawa dengan bersinergi bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Kementerian Kehutanan melalui pelaksanaan JWLS.

Survei ini dilaksanakan dengan cara memasang lebih dari 600 kamera jebak di 1.200 titik di Pulau Jawa untuk mengetahui populasi Macan Tutul Jawa sekaligus mengetahui preferensi satwa mangsanya melalui sampel kotoran. Hasilnya, saat ini tim JWLS berhasil mengidentifikasi 34 ekor Macan Tutul Jawa, yang terdiri dari 11 jantan dan 23 betina.

Macan tutul jawa di Gunung Muria pada 2018. Foto: PMPH Muria
Macan tutul jawa di Gunung Muria pada 2018. Foto: PMPH Muria

Direktur Yayasan SINTAS Indonesia, Hariyo T. Wibisono, menjelaskan bahwa pemasangan kamera jebak masih berlangsung. Dari total 1.200 titik yang direncanakan, sekitar 1.000 titik telah terpasang, dan diharapkan proses ini selesai pada Juli 2026. Sehingga data yang terkumpul kemungkinan akan terus berkembang.

“Program JWLS telah dilakukan sejak 2024 dengan progres terpasang 1.000 dari 1.200 titik di pulau Jawa. Untuk saat ini belum ada estimasi data Macan Tutul Jawa yang bisa di-share karena prosesnya masih berlangsung. Namun kami optimis bisa mengidentifikasi lebih dari 100 di lanskap yang sudah selesai kita survei,” terang Hariyo.

Pria yang akrab disapa Bibah ini juga mengungkapkan bahwa data dari program JWLS akan menjadi vital karena dapat digunakan untuk merancang langkah konservasi Macan Tutul Jawa secara lebih tepat sasaran.

“Jadi untuk penyelamatan Macan Tutul Jawa atau spesies apa pun itu, kita perlu pengetahuan. Karena hanya dengan pengetahuan yang baik atau evidence-based, kita bisa merancang pendekatan pengelolaan yang memadai sesuai dengan kondisi yang riil,” ungkapnya.

Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Kementerian Kehutanan bersinergi menghadirkan survei populasi Macan Tutul Jawa, Java-Wide Leopard Survey (JWLS). Foto: kumparan
Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) bersama Yayasan SINTAS Indonesia dan Kementerian Kehutanan bersinergi menghadirkan survei populasi Macan Tutul Jawa, Java-Wide Leopard Survey (JWLS). Foto: kumparan

Selain Yayasan SINTAS Indonesia dan pemerintah, Bakti Lingkungan Djarum Foundation juga menggandeng tujuh korporasi lainnya demi memperluas komitmen pelaksanaan program JWLS ke Sindoro Sumbing hingga Merapi Merbabu.

“Karena kami bukan expert-nya, kami perlu partner yang lebih ahli seperti Yayasan SINTAS Indonesia, serta partner kolaborasi yang mempunyai visi sama untuk mendukung program-program yang kami lakukan di BLDF,” ungkap Jemmy.

Jemmy pun berharap, upaya BLDF yang dilakukan di Gunung Muria ini dapat menjadi contoh bagi pihak-pihak lain untuk ikut berperan menjaga lingkungan dan pelestarian satwa liar.

“Tidak hanya berhenti di sini, kami juga akan menggerakkan semua stakeholders, tidak hanya dari pemerintah, tapi juga juga perusahaan lain serta para generasi muda. Topik Macan Tutul Jawa ini penting, lho, karena berhubungan langsung dengan kehidupan di Pulau Jawa. Nah, masih ada nih waktunya nih untuk bisa melakukan (konservasi), tapi memang perlu awareness yang lebih tinggi, perlu data, pengetahuan, dan perlu lagi saintis-saintis muda untuk melanjutkan perjuangan,” pungkasnya.

Buka sumber asli