News Berita

Kita Terus Menunda karena Pernah Sukses 'Kepepet', Coba Kalau Pernah Gagal"

Kebiasaan deadline yang ternyata di sebabkan karena keberhasilan

Kita Terus Menunda karena Pernah Sukses 'Kepepet', Coba Kalau Pernah Gagal"
Dok : Pribadi
Dok : Pribadi

Pernah mikir gak sih pengen keluar dari kebiasaan deadline, tapi tiap ada tugas nanti aja deh masih ada waktu. Di zaman ini kebiasaan SKS makin banyak khasusnya, hadirnya Kecerdasan Buatan (AI) semakin membuat kita merasa aman kalo harus deadline ngerjain tugas. Kehadiran AI belakangan ini seharusnya bikin tugas kita beres lebih cepat dan menyisakan banyak waktu luang. Namun yang terjadi di tongkrongan kita justru sebaliknya: AI sering kali cuma jadi jaring pengaman psikologis baru yang bikin kita makin lihai menyepelekan waktu. Kita jadi gampang menunda secara sadar karena durasi kerja yang tadinya butuh berjam-jam, kini bisa dipangkas jadi hitungan menit oleh mesin. Pikiran kita pun dengan santai berbisik: “Santai saja dulu, toh nanti bisa pakai AI bentar itu mah"

​Alhasil, kita terus-menerus mengulur waktu sampai akhirnya benar-benar terpojok di menit-menit terakhir. Pertanyaannya, kenapa kita tidak pernah kapok? Kenapa pola konyol ini terus-menerus berulang di setiap ada tugas baru?

​Jawabannya sederhana, karena pola pikir kita sudah telanjur dijebak oleh catatan sukses masa lalu. Kita pernah selamat dengan cara itu.

​Jebakan Dopamin Masa Lalu

​Saat kita berhasil menyelesaikan tugas dalam kondisi kepepet di masa lalu dan hasilnya ternyata aman, bahkan mendapat nilai bagus otak kita melepaskan zat dopamin dalam jumlah besar. Ada rasa puas, lega, dan sensasi menang yang luar biasa karena merasa "berhasil mengakali waktu". Otak manusia adalah perekam yang sangat pragmatis. Dia akan langsung mengunci memori itu sebagai sebuah formula baku: “Tuh kan, dikerjain mepet juga hasilnya beres kok.”

​Celakanya, romantisasi sistem kebut semalam (SKS) ini menciptakan ilusi akut di kepala kita. Kita mulai menganggap diri kita sebagai tipe orang yang "hanya bisa keluar idenya kalau di bawah tekanan". Padahal, kondisi kepepet itu sama sekali tidak membuat kita mendadak jenius. Kita terus-menerus molor murni karena kita sudah kecanduan dengan efek kejut dopamin dari memori sukses masa lalu tersebut. Setiap ada tugas baru, ingatan "sukses kepepet" ini mendikte tindakan kita sejak awal, memicu kita untuk sengaja mengulur waktu demi bisa mengejar sensasi kemenangan yang sama di akhir.

​Jika polanya terus dibiarkan, dampaknya akan merusak kualitas berpikir jangka panjang. Kita akan terbiasa menghasilkan karya-karya yang dangkal, instan, dan sekadar gugur kewajiban. Kita kehilangan kemampuan untuk melakukan kontemplasi, riset yang mendalam, dan proses reuni yang matang. Di era AI harusnya menjadi alat penunjang produktivitas kita, bukan menggeser fungsi menjadi sekadar tameng untuk menutupi kemalasan berpikir kita di detik-detik terakhir.

​Berani Menggugat Ego

​Lalu, bagaimana cara memutus lingkaran setan ini? Caranya bukan lewat motivasi instan, melainkan dengan keberanian menggugat ego sendiri.

​Sadar atau tidak, alasan terbesar kita terus menunda sebenarnya adalah rasa takut. Kita sengaja memilih kerja kepepet sebagai tameng pelindung ego. Sebab, kalau hasilnya jelek, kita punya alibi nyaman: “Waktunya aja yang mepet, coba kalau punya waktu banyak pasti bagus.” Sebaliknya, kalau hasilnya bagus, kita bisa pamer seolah kita jenius karena bisa beres dalam semalam. Kita terlalu penakut untuk mencicil tugas jauh-jauh hari karena kita ngeri melihat batas asli dari kualitas potensi diri kita yang sesungguhnya tanpa alibi waktu.

​Nilai atau pujian yang kita dapatkan dari SKS di masa lalu bukanlah prestasi maksimal, melainkan cuma keberuntungan yang kebetulan lewat. Standar "yang penting selesai" itu telah memangkas karya terbaik yang seandainya bisa kita hasilkan.

​Mulailah tantang dirimu dengan eksperimen sederhana seperti pilih satu tugas berikutnya, kalo memang harus mengunakan AI, maka gunakan AI di awal sebagai mitra diskusi untuk mematangkan konsep, lalu cicil pengerjaannya jauh sebelum tenggat waktu. Rasakan sendiri bagaimana kedalaman analisis dan ketenangan mental dari persiapan yang matang itu jauh lebih mewah daripada dopamin instan hasil dari rasa cemas yang berakhir lega.

​Kebiasaan mengejar deadline mungkin berkali-kali menyelamatkan kita di masa lalu. Namun, kita perlu bercermin kembali apakah kita benar-benar menghargai kualitas proses, atau kita hanya pengecut yang berlindung di balik kata "kepepet" demi mengamankan ego dari kegagalan yang sesungguhnya? Berhentilah menjebak diri, sebelum celah keberuntungan itu akhirnya tertutup rapat.

Buka sumber asli