Kisah Warga Binaan Lapas Ciangir Temukan Harapan dari Peternakan dan Pertanian
Kisah Warga Binaan Lapas Ciangir Temukan Harapan dari Peternakan dan Pertanian #newsupdate #update #news #text

Siang hari di bawah terik matahari, Warga binaan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Kelas IIB Ciangir, Kabupaten Tangerang, Banten, melaksanakan aktivitas program pembinaan kemandirian pada Kamis (9/7).
Program ini diberikan kepada warga binaan di mana mereka mempelajari banyak keterampilan yang akan berguna ketika mereka kembali ke masyarakat.
Kegiatannya pun cukup beragam. Mulai dari berternak hewan berupa Sapi, Kambing, Domba, dan ayam, sampai budidaya pertanian berupa timun dan sayuran lainnya.
Salah satu warga binaan, Danang (30), bercerita, selama 3 bulan mengikuti program pembinaan dan ditempatkan di peternakan sapi, ia dibina dan dilatih agar mudah membaur dengan masyarakat setelah masa tahanannya selesai.
“Saya bersihin kandang, bikin pakan, bersihin kotoran, selanjutnya ngasih rumput,” kata Danang.
“Kami dibina buat kemandirian nanti sewaktu-waktu kami keluar kan kami bisa membawa sesuatu ke masyarakat,” tambah Danang.
Lebih lanjut, ia menilai kegiatan peternakan yang ia jalani saat ini memberikan motivasi baginya untuk meneruskan kegiatan berternak di rumahnya dan siap terjun di dunia kerja.
“Kayak terinspirasi buat bertani, kan zaman sekarang banyak pengangguran, itu termotivasi nanti sewaktu saya di rumah saya mau memelihara kambing, mau memelihara sapi, mau bertani,” tambah Danang.

Cerita lainnya datang dari Asef (26) yang bertugas di peternakan ayam. Ia sibuk memungut telur yang baru saja dihasilkan. Dalam sehari, dia bisa mendapatkan 800 Kg telur atau sekitar 15 ribu butir telur yang akan disortir dan dijual di pasaran.
“Per hari udah 15 ribu butir itu sekitar 800 per kilo nya,” kata Asef,”
Selain memanen telur, dia juga membantu pendistribusian telur tersebut dengan total mencapai 1 ton telur.
“Kalau misal ada orderan-orderan misal 100 kilo, 1,5 ton, nah saya tugasnya di sana,” kata Asef.
Lewat ilmu dan pengalaman yang ia dapatkan selama menjadi peternak dan pemasok telur ayam, Asef mendapatkan batu loncatan untuk membaur dan bekerja sama dengan baik saat dilepas kembali ke masyarakat.
“Mungkin saya ada bekal buat ilmu ke depannya, kembali ke masyarakat. Kayak telur ayam, cara ternak, cara berkebun,” kata Asef.

Selain mereka yang berternak ada juga yang bertani, seperti yang dilakukan oleh Misna (50). Di bawah terik matahari yang menyengat pada jam 12 siang, ia tetap semangat membudidayakan dan memetik timun yang sudah matang setelah ditanam.
Hasil tanamnya akan muncul setelah seminggu ditanam dan bisa menghasilkan 20 kilo timun, bahkan bisa lebih bila buahnya lebat.
“Per Minggu mungkin 20 kilo. Kalau emang istilahnya buahnya lebih lebat ya lebih dari 20, 25 kilo gitu,” kata Misna.
Dia bercita-cita setelah ia bebas nantinya akan membuka usaha pertanian seperti yang ia jalani di dalam Lapas. Dan ia sangat bersyukur dapat diberikan pelajaran berharga lewat program pembinaan ini.
“Ya cita-cita sih kayak gini pengin juga tani di luar gitu. Kita mengambil ilmunya dari Bapak-bapak di sini, saya berterima kasih di sini udah di didik masalah tani apalagi yang namanya berhasil sampai tani timun,” kata Misna.