News Berita

Kisah Mata-Mata KGB yang Menyamar Menjadi Pengasuh Anak

Siapa sangka, perempuan paruh baya yang biasa memberi Laura Ramos dan kakaknya cemilan sepulang sekolah ternyata mata-mata KGB yang menyamar. #publisherstory

Kisah Mata-Mata KGB yang Menyamar Menjadi Pengasuh Anak
Mata-mata KGB itu biasa memberi kudapan kepada penulis Argentina, Laura Ramos, ketika ia berusia sekitar tujuh tahun.
Mata-mata KGB itu biasa memberi kudapan kepada penulis Argentina, Laura Ramos, ketika ia berusia sekitar tujuh tahun.

Namanya bukan María Luisa.

Dia juga bukan pengasuh anak, bukan penjahit, dan bukan pula perempuan yang mengabdikan diri pada urusan rumah tangga di Montevideo pada dekade 1950-an dan 1960-an. Semua itu, sesungguhnya, hanyalah kedok untuk menyembunyikan jati dirinya.

Dia adalah África de las Heras, agen rahasia dinas intelijen Uni Soviet (KGB) yang bertugas mengelola jaringan spionase pada era Perang Dingin. Uruguay dipakainya sebagai basis operasi.

Sebelum menjadi mata-mata Soviet, África de las Heras merupakan aktivis komunis asal Spanyol yang bergabung dalam perlawanan terhadap Jenderal Francisco Franco di Barcelona. Nama samarannya di dalam KGB adalah "Patria".

Selama Perang Dunia Kedua, sejumlah catatan menunjukkan bahwa dia bekerja sebagai operator telegraf di hutan-hutan Ukraina melawan pendudukan Nazi; kemudian berpartisipasi dalam perencanaan pembunuhan León Trotsky di Meksiko; melakukan kerja spionase di Paris; bekerja sebagai instruktur mata-mata di Moskow; dan mengelola operasi intelijen dari Uruguay selama dua dekade.

Dengan pangkat kolonel dan daftar tanda jasa yang panjang, África de las Heras meninggal tak lama sebelum runtuhnya Uni Soviet. Dia membawa rahasia-rahasia yang mungkin takkan pernah terungkap ke dalam kuburnya. Banyak orang yang mengenalnya secara pribadi tidak pernah mengetahui siapa dia sebenarnya.

Hal yang sama dialami penulis Argentina, Laura Ramos, hingga suatu hari.

 África de las Heras bermukim di Uruguay selama dua dekade guna mengelola jaringan mata-mata Soviet.
África de las Heras bermukim di Uruguay selama dua dekade guna mengelola jaringan mata-mata Soviet.

Dalam buku berjudul "Mi niñera de la KGB", Laura Ramos menceritakan bagaimana hubungannya dengan África de las Heras semasa kecil.

Laura Ramos juga membagikan hasil penyelidikan panjang selama lima tahun untuk mengungkap siapa sebenarnya perempuan yang biasa memberi kudapan sepulang sekolah itu.

Ini adalah buku pertama mengenai África de las Heras yang ditulis oleh seseorang yang mengenalnya secara pribadi serta berani menelusuri lorong-lorong paling dalam dari kehidupan mata-mata Spanyol tersebut selama berada di Amerika Latin.

Dalam petualangan itu, Laura Ramos membuat sebuah temuan yang mengejutkan sekaligus mengerikan.

Apa yang Dilakukan África de las Heras di Uruguay?

Kisah bagaimana África de las Heras tiba di Uruguay bermula di Paris, kata Laura Ramos kepada BBC Mundo. Saat berada di ibu kota Prancis tersebut, "ia merayu penulis Uruguay yang paling miskin dan paling berbakat pada saat itu, Felisberto Hernández. Mereka menikah dan tiba di Montevideo pada akhir 1947".

Justru karena Uruguay berada di luar radar Amerika Serikat, tempat itu tampak ideal untuk membangun sebuah basis yang berfungsi mengoordinasikan dan memperoleh dokumen palsu bagi para agen Soviet yang berupaya mendapatkan informasi tentang bom atom AS, senjata yang menjadi kekhawatiran terbesar Moskow pada awal Perang Dingin.

Dokumen-dokumen itu, tutur penulis Argentina tersebut, "ia peroleh dengan mendatangi makam di Uruguay. Ketika menemukan makam anak-anak, ia pergi ke kantor catatan sipil setempat, meminta akta kelahiran, lalu membuat dokumen palsu atas nama anak-anak yang sudah meninggal tersebut".

Ledakan nuklir di atas Hiroshima, Jepang, 6 Agustus 1945.
Ledakan nuklir di atas Hiroshima, Jepang, 6 Agustus 1945.

Untuk memiliki kedok yang meyakinkan di Montevideo dan tidak menimbulkan kecurigaan, mata-mata Spanyol itu mendekati kalangan intelektual Uruguay, banyak di antaranya adalah teman suaminya, Felisberto Hernández.

Di hadapan mereka, De las Heras menampilkan diri sebagai seseorang yang tidak tertarik pada isu-isu politik, menawarkan bantuan mengasuh anak-anak mereka, dan menekuni pekerjaan sebagai penjahit. Ibu Ramos mengenalnya pada masa itu. Sang ibu lantas pindah ke Argentina, tempat Laura Ramos dan abang kandungnya lahir.

Bertahun-tahun kemudian, sang ibu kembali ke Montevideo bersama anak-anaknya dan menjalin kembali kontak dengan mata-mata tersebut, yang di Uruguay dikenal dengan nama María Luisa.

'Senjata Ampuh'

Laura Ramos mengenang bahwa agen KGB itu merawat dirinya dan abangnya pada 1964, ketika mereka bersekolah di Escuela Francia, yang terletak dekat rumah África de las Heras.

"Saya ingat dengan sangat jelas melihatnya berdiri di pintu sekolah kami," kata Ramos.

"Dia menjemput kami dari sekolah dan membawa kami ke rumahnya untuk menikmati kudapan".

Dia adalah perempuan paruh baya, tutur Ramos, "berambut abu-abu, cenderung agak berisi, tetapi tidak gemuk, dan bertubuh pendek; saya ingat jelas bahwa ia mengenakan rok dan blus, dan tidak berbicara dengan aksen Spanyol".

Laura Ramos mengenang bahwa pengasuh/penjahit tersebut memiliki suara yang tenang dan menceritakan kisah-kisah tentang La cuarta altura, sebuah biografi tentang perempuan Soviet bernama Gulia Koroliova.

"Ia bukan orang yang manis, sama sekali tidak, melainkan cenderung dingin".

Ramos dan kakaknya senang pergi ke rumah África de las Heras karena ia memiliki "senjata ampuh".

"Itu adalah kue-kue kecil yang sangat lezat dan sangat mahal, dari Oro del Rhin atau La Mallorquina, yang ia berikan untuk kudapan," disertai kopi dengan sedikit susu.

Dua Kematian

Bertahun-tahun kemudian, Laura Ramos merekontruksi jejak sang mata-mata selama berada di Uruguay.

Ramos menceritakan bahwa De las Heras berpisah dari penulis Uruguay, Felisberto Hernández, segera setelah memperoleh kewarganegaraan. Beberapa tahun kemudian menikah dengan mata-mata Italia, Valentino Marchetti, yang dikirim Soviet kepadanya sebagai atasan.

Mereka membeli sebuah rumah di Jalan Williman di Montevideo, rumah yang sama tempat Ramos dan abangnya menikmati kudapan sepulang sekolah.

Saat menyelidiki kisah perempuan Spanyol itu, Ramos menemukan sebuah rekaman kaset berisi pernyataan seorang perempuan Uruguay.

Perempuan itu merupakan "seorang pustakawan yang direkrut menjadi mata-mata", yang mengungkap rahasia tentang África de las Heras dan mengaitkannya dengan dua kematian.

Ramos menemukan rekaman yang menghubungkan África de las Heras dengan kematian dua pria di Uruguay.
Ramos menemukan rekaman yang menghubungkan África de las Heras dengan kematian dua pria di Uruguay.

Dalam rekaman tersebut, kata Ramos, perempuan Uruguay itu menceritakan bahwa África de las Heras "meracuni suaminya", si orang Italia Valentino Marchetti. De las Heras juga meminta bantuan perempuan Uruguay itu "untuk memindahkan jenazahnya dari satu kamar ke kamar lain".

Kemudian, De las Heras disebut terlibat dalam kematian dosen universitas Uruguay Arbelio Ramírez, saat sebuah acara Ernesto "Che" Guevara di Montevideo pada 1961, kata Laura Ramos.

Tampaknya, tambah Ramos, Arbelio Ramírez juga telah direkrut untuk bekerja bersamanya dalam tugas-tugas rahasia.

Apa buktinya bahwa De las Heras terlibat dalam peracunan suaminya dan Arbelio Ramírez?

"Dokter yang ia panggil untuk membuat surat keterangan kematian suaminya—mata-mata Italia yang diracuni—adalah dokter yang sama yang ia bayar tiga tahun sebelumnya untuk melakukan autopsi Arbelio Ramírez," kata Laura Ramos.

"Dalam buku saya, saya memaparkan bukti-bukti yang ada dalam rekaman tersebut. Semuanya terdokumentasi," ujarnya.

"Menurut rekaman itu, ia meracuni suaminya di kursi tempat saya duduk untuk minum susu saat kanak-kanak. Itu terasa sangat mengerikan bagi saya."
Buka sumber asli