Kisah Keris Ratusan Tahun dan Tangan Empu Perempuan yang Membentuknya
Kisah Keris Ratusan Tahun dan Tangan Empu Perempuan yang Membentuknya #newsupdate #update #news #text

Keris biasanya dikenal sebagai buah karya dari para pembuatnya (empu) yang kebanyakan laki-laki. Namun, dari sejarah ratusan tahun lalu, banyak pula keris yang lahir dari tangan para empu perempuan.
Salah satunya keris buatan Empu Nyai Sombro. Keris itu lahir di masa Kerajaan Pajajaran ratusan tahun lalu.
"Masa Pajajaran tahun 1200-an, 1300," kata Taufik Hermawan, kurator pameran Merintis Pewaris di Grha Keris, Kota Yogyakarta, Sabtu (18/4).
Pamor keris atau corak visual keris ini Ngulit Semangka. Bilah kerisnya tak memiliki luk atau berkelok-kelok seperti keris pada umumnya.
Pada masanya, keris ini merupakan "pegangan" perempuan atau dukun bayi untuk membantu persalinan.
"Biasanya kalau di sana (Pajajaran) untuk pemuka kampung. Untuk kelahiran, untuk kesuburan, menolak bala, menolak penyakit, segala macam," kata Taufik.

Taufik mengatakan pameran kali ini khusus mengangkat keris-keris di dunia perempuan. Menurutnya di beberapa naskah lama ada catatan-catatan keris yang diciptakan oleh empu perempuan.
Selain Nyai Sombro, empu perempuan lainnya yang terkenal seperti Empu Anjani hingga Empu Roro Sembogo.
"Ternyata perempuan berperan besar untuk keris di situ. Sehingga hasilnya biasanya produk-produk keris yang pendek yang memang digunakan untuk perempuan," katanya.
"Biasanya untuk urusan-urusan yang dalam tanda kutip secara spiritual untuk kebutuhan kewanitaan. Untuk melahirkan dan melawan hal-hal yang buruk," jelasnya.

Pada zaman dahulu keris adalah simbol dari keselamatan.
Dalam pameran ini ada 40 keris. Keris ini ada yang dibuat empu perempuan, ada keris warisan yang dirawat perempuan, dan ada buatan baru yang diwariskan untuk anaknya.
Empu Perempuan Masa Kini
Tradisi pembuatan keris masih bertahan hingga hari ini. Masih ada pula seorang empu perempuan yang melahirkan keris-keris baru, namanya Empu Intan.
"Ada dua karya Empu Intan. Empu masa kini dari ISI Surakarta. Dia aktif menempa keris hingga saat ini," katanya.
Melalui pameran ini, Taufik berharap pengetahuan masyarakat akan semakin luas terutama terkait peran perempuan dalam sejarah keris.

"Masyarakat supaya tahu dan menyadari keris ini (buatan perempuan) ada," katanya.
Harapannya masyarakat yang mewarisi keris bisa terus menjaga dan merawatnya. Sehingga jejak keluarganya tidak hilang.
Taufik bilang, ketika empu membuat keris doa yang dipancarkan si empu akan memiliki relasi dengan orang yang merawat keris tersebut.
"Lama-lama juga berdaya kita memiliki chemistry (dengan keris tersebut). Keris ini dari leluhur, dari kakeknya, dari kakeknya kakeknya lagi terus turun sampai ke dia (pewaris). Merasa jejak keluargaku ada di situ," pungkasnya.