Ketika “Rahim Anget” Jadi Candaan: Siapa Sebenarnya yang Sedang Melanggar Batas?
Komentar “rahimku anget” mungkin terdengar seperti candaan. Namun ketika dinormalisasi, ia membuka pertanyaan besar: Apakah kita benar-benar paham soal batas dan consent? #userstory

Scroll Instagram sebentar saja, dan hampir pasti ada satu momen di mana kita berhenti lebih lama dari yang direncanakan. Bukan karena kontennya luar biasa, melainkan karena satu hal yang sering kali lebih menarik dari videonya sendiri: kolom komentar.
Video laki-laki dengan badan sixpack, wajah “standar ganteng” versi algoritma, atau sekadar konten gym yang entah kenapa selalu berhasil masuk explore, biasanya punya satu pola yang sama di bawahnya.
“Rahimku anget.”
“Ga ada hujan tapi becek.”
“Duh ga kuat, pengen dipake.”
Kalimat-kalimat ini bukan lagi sesuatu yang mengejutkan. Justru sebaliknya, ia terasa biasa. Terlalu biasa, bahkan. Dapat ribuan likes, dibalas dengan emoji tertawa, diangkat jadi konten ulang, dan pada akhirnya masuk ke dalam kategori yang paling aman di internet: candaan.
Semuanya terasa ringan. Seolah tidak ada yang perlu dipermasalahkan. Seolah semua orang sepakat bahwa ini hanya bagian dari hiburan digital. Namun, justru di situlah masalahnya mulai terasa. Karena ada satu pertanyaan yang diam-diam mengganggu, tapi jarang benar-benar dijawab: Kalau kalimat yang sama diarahkan ke perempuan, apakah reaksinya akan tetap sama santainya?
Kalau jawabannya tidak, berarti kita sedang berhadapan dengan sesuatu yang lebih dari sekadar humor. Kita sedang melihat standar ganda yang bekerja dengan sangat halus dan diterima dengan sangat santai.
Di satu sisi, kita hidup di era di mana isu pelecehan seksual semakin disadari. Banyak perempuan berani bersuara, membagikan pengalaman, dan menuntut ruang yang lebih aman. Istilah seperti consent, boundaries, dan respect bukan lagi istilah asing. Bahkan, dalam banyak kasus, kehadiran perempuan, terutama di media sosial, menjadi garda terdepan dalam menyuarakan hal ini.
Dan itu penting.
Namun di sisi lain, ruang yang sama juga dipenuhi oleh praktik yang—jika dilihat tanpa label siapa pelakunya—tidak jauh berbeda dari apa yang selama ini dikritik.

Komentar seksual yang terang-terangan. Objektifikasi yang dibungkus sebagai pujian. Tubuh yang direduksi jadi bahan konsumsi publik.
Bedanya hanya satu: siapa yang berbicara. Dan anehnya, perbedaan itu cukup untuk mengubah cara kita menilai. Selama komentar itu diarahkan ke laki-laki yang dianggap “pantas” untuk dijadikan objek karena tampan, karena atletis, karena terlihat percaya diri, semuanya terasa sah, bahkan lucu.
Padahal, kalau kita jujur, esensinya tidak berubah. Tetap ada reduksi. Tetap ada pelanggaran batas. Hanya saja, kita memilih untuk tidak melihatnya sebagai masalah.
Ini bukan tentang membalikkan siapa yang salah. Ini bukan tentang mengatakan bahwa satu pihak lebih buruk dari yang lain. Ini tentang sesuatu yang jauh lebih sederhana, tapi justru lebih sulit diakui: inkonsistensi.
Dan inkonsistensi ini sering kali muncul dari mereka yang paling keras menyuarakan pentingnya batas. Di sinilah sindiran itu sebenarnya mengarah.
Bukan pada perempuan secara umum, melainkan pada siapa pun, termasuk perempuan yang vokal tentang pelecehan, tapi diam—atau bahkan ikut terlibat, ketika konteksnya terasa “menguntungkan." Karena memperjuangkan nilai seharusnya tidak tergantung pada posisi.

Kalau kita percaya bahwa tubuh tidak boleh dijadikan objek tanpa persetujuan, prinsip itu seharusnya berlaku ke semua orang, di semua situasi, bukan hanya ketika kita ada di posisi yang dirugikan.
Masalahnya, internet tidak bekerja dengan logika se-ideal itu. Internet bekerja dengan atensi. Dan dalam ekonomi atensi, yang paling ekstrem biasanya yang paling menang.
Komentar biasa tenggelam. Komentar “berani” naik ke atas. Komentar yang vulgar, yang out of pocket, yang buat orang antara kaget atau ketawa itu yang paling cepat viral.
Dari situ, terbentuklah standar baru. Bukan standar tentang apa yang benar, melainkan standar tentang apa yang menarik. Dan lama-lama, kita berhenti bertanya "Apakah sesuatu itu pantas atau tidak?" Kita hanya bertanya "Ini lucu atau tidak?"
Kalau lucu, selesai.

“Kan cuma bercanda.”
Kalimat ini mungkin adalah tameng paling kuat di media sosial hari ini. Ia sederhana, efektif, dan hampir selalu berhasil meredam kritik. Siapa pun yang mencoba mempertanyakan langsung berisiko dicap terlalu sensitif, terlalu serius, atau tidak bisa menikmati humor.
Padahal, justru di balik candaan itulah banyak hal dinormalisasi.
Humor membuat sesuatu terasa ringan, tapi bukan berarti ia menghilangkan dampaknya. Ia hanya membuat dampak itu tidak terlihat.
Dan ketika sesuatu terus diulang dalam bentuk candaan, ia perlahan berubah menjadi kebiasaan, lalu menjadi budaya.
Di titik itu, batas tidak hilang secara tiba-tiba. Ia memudar.
Pelan-pelan, tanpa kita sadari.
Kita jadi terbiasa melihat komentar seksual tanpa merasa itu aneh. Kita jadi kebal. Bahkan, mungkin ikut-ikutan karena tidak ingin terlihat berbeda.
Padahal, kalau dipikir ulang, ada sesuatu yang jelas-jelas tidak konsisten.
Kita bicara soal consent, tapi hanya ketika itu relevan dengan pengalaman kita sendiri.
Kita bicara soal respect, tapi tidak selalu menerapkannya dalam cara kita berinteraksi.
Kita ingin batas kita dihormati, tapi tidak selalu berhenti untuk memastikan bahwa kita juga menghormati batas orang lain.
Dan semua ini terjadi bukan karena kita tidak tahu, melainkan karena kita memilih untuk tidak terlalu memikirkannya.
Karena lebih mudah begitu.
Tulisan ini mungkin terasa menyentil, terutama bagi mereka yang aktif bersuara soal isu pelecehan. Namun justru karena itu, refleksi ini jadi penting.

Karena suara yang lantang akan selalu punya dampak lebih besar. Dan dengan dampak itu, datang juga tanggung jawab untuk konsisten.
Bukan berarti tidak boleh bercanda. Bukan berarti semua bentuk humor harus disterilkan. Namun mungkin, setidaknya, kita perlu mulai bertanya ulang: Apakah candaan kita masih berada dalam batas yang kita tuntut untuk dihormati?
Atau jangan-jangan, kita hanya nyaman dengan batas—selama batas itu melindungi kita, bukan membatasi kita.
Pada akhirnya, fenomena “rahimku anget” bukan cuma soal satu jenis komentar. Ia adalah cermin. Tentang bagaimana kita memandang tubuh, bagaimana kita memahami batas, dan seberapa konsisten kita dengan nilai yang kita bawa.
Dan mungkin, di tengah semua tawa di kolom komentar itu, ada satu hal yang pelan-pelan hilang: kesadaran bahwa tidak semua hal harus dilakukan hanya karena bisa.
Karena kalau semua bisa dijustifikasi dengan “cuma bercanda,” yang hilang tidak hanya batas, tetapi juga arah.