News Berita

Ketika Piringan Hitam Kembali Bercerita di Lokananta

Kalau ke Solo, jangan cuma berburu kuliner dan wisata sejarah. Coba mampir ke Lokananta, rumah bagi ribuan arsip musik Indonesia yang telah berdiri sejak 1956.

Ketika Piringan Hitam Kembali Bercerita di Lokananta
Toko piringan hitam di lokananta record store. sumber: koleksi foto pribadi
Toko piringan hitam di lokananta record store. sumber: koleksi foto pribadi

Pagi itu, Jalan Ahmad Yani masih ramai oleh lalu lalang kendaraan kota. Tapi begitu melewati gerbang Lokananta, Solo yang bising tiba-tiba terasa jauh. Yang tersisa hanya halaman luas dengan pohon-pohon rindang, bangunan bergaya tempo doeloe bercat krem, dan samar-samar aroma kopi dari kafe yang baru saja menyalakan mesin espresso-nya.

Lokananta berdiri sejak 1956. Bukan sekadar studio rekaman melainkan pabrik piringan hitam milik negara, satu-satunya di Indonesia. Dari sini lahir rekaman pertama lagu kebangsaan Indonesia Raya versi orkestra. Di sini pula pidato-pidato Bung Karno diabadikan dalam rilisan yang kini menjadi artefak tak ternilai. Di sinilah suara Waldjinah, Koes Plus, dan The Steps pernah terperangkap dalam alur vinyl berputar, sebelum akhirnya mengalir ke jutaan telinga di seluruh nusantara.

Sembilan pintu, sembilan dunia

Galeri Lokananta terbagi dalam sembilan ruang yang masing-masing seperti pintu menuju era yang berbeda. Di ruang Linimasa, pengunjung diajak mundur pelan-pelan, menelusuri bagaimana sebuah pabrik piringan hitam kecil di tepian Bengawan Solo bisa tumbuh menjadi pusat arsip musik terbesar di Indonesia.

Ruang Gamelan adalah jeda yang menenangkan. Di tengah bising zaman, di sini tergantung instrumen-instrumen tua yang permukaannya sudah lelah oleh waktu namun tetap kokoh. Gamelan bukan sekadar alat musik, ia adalah bahasa lain yang dipakai nenek moyang untuk bicara kepada semesta. Lokananta merekamnya, dan kini kita bisa mendengarnya kembali.

Selesai dari galeri, satu hal yang segera disadari: kamera ponsel tidak pernah berhenti berkerja sejak masuk tadi. Bukan karena ada papan tulisan "foto di sini" tapi karena Lokananta secara alami adalah ruang yang tahu cara berbicara kepada lensa.

Piringan hitam yang disusun rapi dalam rak-rak kayu tua. Mesin rekaman era 1980-an quality control, pattern generator, pemotong pita yang berdiri gagah seperti pahlawan industri yang pensiun dengan hormat. Dinding bata yang tidak dicat ulang, sengaja dibiarkan jujur dengan usianya. Cahaya siang yang masuk lewat jendela tinggi, jatuh miring di lantai dan menciptakan bayangan yang dramatis secara tak sengaja.

Setelah revitalisasi yang rampung pada 2023, Lokananta bukan lagi hanya milik para pecinta sejarah atau penggemar musik lawas. Dengan sentuhan M Bloc Group, kawasan ini kini menjelma menjadi ruang hidup yang bernapas kafe dengan suasana industrial yang hangat, toko souvenir berisi merchandise eksklusif bertema musik, studio rekaman yang masih aktif melayani musisi masa kini, hingga ruang terbuka hijau yang teduh untuk sekadar duduk dan melupakan sejenak daftar tugasmu.

Solo punya banyak destinasi yang layak dikunjungi. Keraton yang megah, pasar tradisional yang sibuk, kuliner yang tak habis-habisnya. Tapi Lokananta menawarkan sesuatu yang berbeda: pengalaman yang diam-diam mengubah cara kamu memandang kota ini. Kamu tidak sekadar berwisata. Kamu ikut mendengarkan.

Buka sumber asli