Ketika Pedal Kembali Berputar
Setelah tiga tahun lebih berhenti, saya kembali gowes. Bukan sekadar olahraga, tetapi cara merawat tubuh, menghemat energi, membaca ulang kota, dan menemukan ritme hidup yang lebih jujur.

Akhirnya saya membeli sepeda lipat. Merek dan harganya sengaja tidak saya sebutkan di sini, bukan karena ada yang perlu disembunyikan, melainkan karena yang lebih penting dari sebuah benda adalah alasan mengapa ia kembali hadir dalam hidup seseorang. Setelah tiga tahun lebih berhenti mengayuh, saya seperti kembali membuka ruang lama yang pernah saya biarkan berdebu. Di baliknya ada jalanan kota, desa-desa yang berserak di suatu wilayah, dan sebuah ritme sederhana yang dulu sempat menjadi bagian dari keseharian: memancal pedal, pelan tapi pasti, menyatu dengan udara pagi.
Ada sesuatu yang aneh dari kembali melakukan sesuatu yang pernah kita tinggalkan. Ia tidak pernah benar-benar terasa seperti “ulang”, melainkan seperti memulai ulang dari titik yang sedikit berbeda—dengan tubuh yang lebih tua, waktu yang lebih sempit, dan kesadaran yang lebih banyak bertanya. Saya merasa demikian ketika menatap sepeda lipat itu: kecil, ringkas, seperti mengajak saya untuk tidak berlebihan dalam membawa hidup.
Dalam biografi singkat yang biasa saya tulis di opini Kumparan, saya tak lagi hanya menyematkan diri sebagai walker. Saya menambahkan satu identitas baru: cyclist. Sebuah penambahan kecil di permukaan, tetapi cukup untuk menandai pergeseran cara saya memandang tubuh, ruang, dan waktu. Seolah saya sedang menulis ulang cara bergerak di dunia, dari sekadar berjalan menjadi mengayuh—lebih jauh, lebih cepat, tetapi tetap dalam ritme yang saya tentukan sendiri.
Antara Hemat Energi dan Politik Tubuh
Ada alasan yang sangat praktis di balik keputusan ini: harga bahan bakar minyak non-subsidi yang meningkat. Dalam konteks ini, sepeda bukan lagi sekadar alat olahraga atau nostalgia masa kecil, melainkan bagian dari strategi hidup yang lebih rasional. Ia menjadi respons kecil terhadap ekonomi yang berubah, terhadap kota yang semakin mahal untuk ditinggali dengan kendaraan bermotor.
Namun di luar kalkulasi ekonomi itu, ada sesuatu yang lebih sunyi dan lebih personal. Bersepeda adalah cara untuk mengembalikan tubuh ke dalam orbitnya sendiri. Di tengah hidup yang makin banyak duduk, menatap layar, dan berpindah tanpa bergerak, tubuh perlahan kehilangan disiplin dasarnya: bergerak secara sadar. Studi-studi kesehatan modern, termasuk rekomendasi WHO, berulang kali menegaskan bahwa aktivitas fisik moderat seperti bersepeda mampu menurunkan risiko penyakit kardiovaskular, memperbaiki metabolisme, dan menjaga kesehatan mental. Tetapi bagi saya, pengetahuan itu hanya valid ketika ia berubah menjadi pengalaman yang terasa di otot, di napas, di keringat yang menetes tanpa perlu alasan selain “saya bergerak hari ini”.
Di titik ini, sepeda bukan hanya alat transportasi. Ia adalah semacam pengingat bahwa tubuh tidak diciptakan untuk diam terlalu lama.

Peta yang Mulai Tumbuh di Kepala
Dalam beberapa hari terakhir, saya mulai membayangkan rute-rute yang akan saya tempuh. Bukan peta digital di layar ponsel, melainkan peta mental yang tumbuh pelan-pelan, seperti ingatan yang sedang mencari bentuknya kembali.
Ada masjid di tengah teluk yang ingin saya datangi. Ada lintasan yang mengitari garis air hingga jembatan teluk yang membentang seperti urat besi di atas laut. Ada pula jalur menuju bandara, tempat di mana orang-orang datang dan pergi tanpa sempat benar-benar menetap. Semua rute itu seperti mengandung cerita yang belum selesai, dan saya hanya ingin melaluinya perlahan, tanpa terburu-buru menjadi siapa pun.
Saya juga membayangkan perjalanan yang lebih ringan: menelusuri jejak kuliner lokal, berhenti di warung-warung kecil yang selama ini hanya saya lewati. Menamatkan makanan tradisional yang saya menyebutnya sebagai “eksotis”, tetapi bagi masyarakat setempat adalah bagian dari keseharian. Atau menuntun sepeda ke pasar, menyusuri lorong-lorong sempit, memilih bahan makanan yang lebih jujur: sayuran, buah-buahan, protein alami, sesuatu yang mengingatkan bahwa tubuh ini masih bisa dirawat tanpa berlebihan.
Ada semacam keinginan untuk menjadikan perjalanan ini bukan sekadar perpindahan ruang, tetapi juga cara membaca ulang kota—dari kecepatan yang selama ini mendominasi menjadi keheningan yang lebih reflektif.
Antara Tren, Ego, dan Keinginan untuk Berbeda
Saya tidak menutup mata bahwa ada sisi ego di balik keputusan ini. Dulu, saat pandemi Covid-19 membuat aktivitas bersepeda menjadi tren besar, saya justru tidak ikut arus. Kini, ketika euforia itu sudah mereda dan banyak orang mulai meninggalkannya, saya justru kembali mengayuh. Ada dorongan kecil untuk menjadi berbeda dari arus, untuk tidak sekadar hadir sebagai bagian dari keramaian yang seragam.
Namun jika ditarik lebih dalam, keputusan ini tidak sepenuhnya tentang menjadi berbeda. Ia lebih dekat pada upaya untuk menguji ulang hubungan saya dengan tubuh dan waktu. Dalam teori psikologi perilaku, manusia sering kali bergerak bukan hanya karena kebutuhan rasional, tetapi juga karena dorongan identitas—bagaimana kita ingin dilihat, dan lebih penting lagi, bagaimana kita melihat diri sendiri ketika tidak ada orang lain yang memperhatikan.
Bersepeda, dalam konteks ini, menjadi ruang privat yang sangat jujur. Ia tidak menawarkan panggung. Tidak ada penonton. Hanya jalan, napas, dan ritme kayuhan.
SERBU dan Imajinasi Kolektif
Meski demikian, saya juga membayangkan kemungkinan lain: bersepeda dalam kelompok kecil bersama teman-teman sejawat. Kami bisa berangkat bersama, mengayuh satu hingga dua jam, lalu berhenti di UMKM untuk sarapan atau sekadar minum kopi. Dari situ lahir ide kecil yang saya sebut SERBU—Semua Ramai-ramai Bantu UMKM.
Ada sesuatu yang menarik dari gagasan ini. Ia bukan sekadar aktivitas fisik, tetapi juga bentuk ekonomi mikro yang bergerak secara sosial. Membeli makanan di warung kecil, mempostingnya di media sosial, mungkin terdengar sederhana bahkan sepele. Tetapi dalam skala tertentu, ia menciptakan sirkulasi perhatian: UMKM tidak hanya hidup dari transaksi, tetapi juga dari visibilitas.
Namun saya juga sadar, ada risiko menjadikan semua ini sekadar pertunjukan sosial. Membuat orang “terlihat peduli” tanpa benar-benar memahami makna di baliknya. Di sinilah saya mulai ragu: apakah bersepeda bersama lebih bermakna, atau justru bersepeda sendiri yang lebih jujur?
Sunyi di Antara Kayuhan
Pada akhirnya, saya semakin menyadari satu hal: bersepeda mungkin paling jujur ketika dilakukan sendirian. Tidak ada ritme yang harus disesuaikan, tidak ada percakapan yang mengganggu napas, tidak ada keharusan untuk mengikuti kecepatan orang lain. Sendiri membuat perjalanan menjadi lebih lentur, lebih organik. Saya bisa berhenti kapan saja, atau melaju tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun.
Dalam kesendirian itu, kota tidak lagi sekadar latar. Ia menjadi teks yang terbuka untuk dibaca ulang. Jalanan yang sama bisa terasa berbeda ketika dilalui dengan kecepatan yang berbeda. Bahkan angin pun seperti memiliki bahasa yang lebih jelas ketika tidak terganggu oleh kebisingan lain.
Mungkin dalam beberapa hari ke depan, semua bayangan ini akan benar-benar berubah menjadi kenyataan: pedal yang berputar, jalan yang bergerak di bawah kaki, dan tubuh yang perlahan kembali belajar tentang ritme.
Namun lebih dari itu, saya mulai berpikir bahwa bersepeda bukan sekadar tentang kembali ke aktivitas lama. Ia adalah cara untuk menguji ulang hubungan kita dengan dunia yang semakin cepat, semakin padat, dan semakin bising. Apakah kita masih mampu bergerak tanpa tergesa-gesa? Apakah kita masih bisa menikmati jarak tanpa harus menaklukkannya?
Barangkali, di tengah kota yang terus mendorong kita untuk berlari, memilih mengayuh pelan adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi. Dan di dalam sunyi itu, kita justru menemukan kembali sesuatu yang sederhana: bahwa hidup tidak selalu harus dikejar. Kadang ia hanya perlu ditemani, satu kayuhan demi satu kayuhan.