News Berita

Ketika Nafkah Tidak Lagi Sekadar Uang: Memaknai Tanggung Jawab Orang Tua

Pada akhirnya, anak tidak akan selalu mengingat berapa banyak uang yang diberikan orang tuanya. Yang lebih membekas adalah siapa yang hadir untuk mereka.

Ketika Nafkah Tidak Lagi Sekadar Uang: Memaknai Tanggung Jawab Orang Tua
Ilustrasi anak yang di paksa menerima keadaan/Sumber: magnific_seorang-anak-dimarahi-ora_J9qgaK0Oq4
Ilustrasi anak yang di paksa menerima keadaan/Sumber: magnific_seorang-anak-dimarahi-ora_J9qgaK0Oq4

Di tengah kehidupan yang semakin kompetitif, banyak orang tua memaknai keberhasilan menjalankan tanggung jawabnya hanya dari satu ukuran: mampu memenuhi kebutuhan ekonomi keluarga. Tidak sedikit yang bekerja dari pagi hingga malam, bahkan harus merantau ke luar kota atau luar negeri demi memberikan kehidupan yang layak bagi anak-anaknya. Pengorbanan tersebut tentu patut diapresiasi. Namun, muncul pertanyaan penting: apakah tanggung jawab orang tua selesai ketika kebutuhan materi telah terpenuhi?

Jawabannya tentu tidak. Nafkah dalam keluarga bukan hanya persoalan uang, melainkan juga mencakup kasih sayang, perhatian, pendidikan, perlindungan, dan kehadiran orang tua dalam tumbuh kembang anak. Sayangnya, dimensi nonmateri ini sering kali luput dari perhatian.

Fenomena tersebut semakin terlihat di era digital. Banyak anak tumbuh dengan fasilitas yang lengkap, tetapi minim komunikasi dengan orang tuanya. Mereka memiliki gawai terbaru, akses pendidikan yang baik, hingga berbagai kebutuhan hiburan. Namun, mereka kehilangan waktu berbicara, bercanda, atau sekadar didengarkan oleh ayah dan ibunya. Akibatnya, tidak sedikit anak yang mencari tempat lain untuk mendapatkan perhatian, bahkan terjerumus ke dalam pergaulan yang kurang sehat.

Dalam perspektif hukum Indonesia, tanggung jawab orang tua tidak hanya sebatas memberikan nafkah materi. Berbagai peraturan telah menegaskan bahwa orang tua berkewajiban memelihara, mendidik, melindungi, dan menjamin tumbuh kembang anak secara optimal. Artinya, negara memandang bahwa kesejahteraan anak tidak hanya diukur dari terpenuhinya kebutuhan ekonomi, tetapi juga dari kualitas pengasuhan yang diterima.

ilustrasi anak ketika kurang kasih sayang/Sumber: freepik-15116413
ilustrasi anak ketika kurang kasih sayang/Sumber: freepik-15116413

Hal yang Harus Diprioritaskan untuk Anak

Setiap orang tua tentu ingin memberikan yang terbaik bagi anaknya. Demi mewujudkan harapan tersebut, banyak yang rela bekerja keras, menabung, bahkan mengorbankan waktu bersama keluarga agar anak dapat menikmati kehidupan yang lebih baik. Rumah yang nyaman, sekolah berkualitas, pakaian yang layak, dan berbagai fasilitas lainnya sering kali menjadi ukuran keberhasilan dalam menjalankan peran sebagai orang tua.

Fenomena ini mudah ditemukan dalam kehidupan sehari-hari. Tidak sedikit anak yang memiliki berbagai fasilitas modern, tetapi jarang berbicara dengan ayah atau ibunya. Kesibukan pekerjaan membuat waktu berkumpul menjadi semakin terbatas. Makan bersama mulai jarang dilakukan, komunikasi berubah menjadi singkat, bahkan perhatian digantikan oleh telepon genggam atau media sosial.

Sayangnya, dalam praktik kehidupan sehari-hari, masih berkembang anggapan bahwa selama kebutuhan ekonomi telah dipenuhi, maka kewajiban orang tua telah selesai. Cara pandang seperti ini perlu diluruskan. Kehadiran orang tua tidak dapat digantikan oleh uang, sekolah terbaik, atau fasilitas yang serba lengkap. Anak membutuhkan figur yang mendengarkan keluh kesahnya, memberikan arahan ketika ia bingung, dan menjadi tempat kembali ketika menghadapi masalah.

Fenomena perceraian juga memperlihatkan persoalan yang sama. Tidak sedikit orang tua yang menganggap kewajiban pasca perceraian hanya sebatas membayar nafkah bulanan. Padahal, anak tetap membutuhkan perhatian, komunikasi yang sehat, dan keterlibatan kedua orang tuanya dalam proses tumbuh kembang. Nafkah finansial memang penting, tetapi kehadiran emosional juga merupakan hak anak yang tidak boleh diabaikan.

Di sisi lain, masyarakat juga perlu mengubah cara pandangnya terhadap keberhasilan menjadi orang tua. Kesuksesan keluarga tidak semata-mata diukur dari besarnya penghasilan, melainkan dari kualitas hubungan yang terbangun di dalam rumah. Anak-anak yang merasa dicintai, dihargai, dan didampingi cenderung memiliki kesehatan mental yang lebih baik serta lebih siap menghadapi tantangan kehidupan.

Karena itu, sudah saatnya makna nafkah dipahami secara lebih utuh. Uang memang menjadi bagian penting dalam memenuhi kebutuhan hidup, tetapi ia bukan satu-satunya bentuk tanggung jawab orang tua. Waktu, perhatian, kasih sayang, pendidikan, dan keteladanan memiliki nilai yang tidak kalah besar dalam membentuk masa depan anak.

Pada akhirnya, anak tidak akan selalu mengingat berapa banyak uang yang diberikan orang tuanya. Yang lebih membekas adalah siapa yang hadir ketika mereka takut, siapa yang mendengarkan ketika mereka bercerita, dan siapa yang tetap berada di samping mereka saat menghadapi kesulitan. Di situlah makna nafkah yang sesungguhnya: bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan hidup, tetapi juga menghadirkan cinta, rasa aman, dan masa depan yang lebih baik bagi anak.

Buka sumber asli