News Berita

Ketika Guru Berhenti Percaya pada Muridnya

Artikel ini membahas hubungan antara harapan guru terhadap murid dan kualitas pendidikan, ditulis dari perspektif seorang pendidik dengan pengalaman lebih dari dua puluh tahun.

Ketika Guru Berhenti Percaya pada Muridnya
Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen
Ilustrasi Guru Mengajar di Sekolah Rakyat. Foto: Kemendikdasmen

Di ruang-ruang pelatihan guru, kami diajarkan banyak hal: menyusun modul ajar, merancang asesmen, mengelola pembelajaran yang berpusat pada murid. Semua itu penting. Namun saya jarang menemukan sesi yang mengajak guru bertanya pada dirinya sendiri: apakah saya masih percaya pada murid yang paling sulit saya dampingi?

Pertanyaan itu tidak ada dalam rubrik penilaian mana pun. Tapi bagi saya, setelah lebih dari dua puluh tahun mengajar, itulah pertanyaan yang paling menentukan.

Yang Tidak Masuk Indikator Kinerja

Kita membangun sistem pendidikan yang semakin canggih: kurikulum yang terus diperbarui, platform digital, asesmen berbasis data. Guru didorong menjadi lebih profesional, lebih terukur, lebih efisien.

Semua itu penting. Tetapi di tengah seluruh kemajuan itu, ada sesuatu yang diam-diam terkikis: guru yang masih percaya — dengan sepenuh hati — bahwa setiap muridnya bisa berkembang.

Sistem kita lebih banyak mengukur apa yang dilakukan guru daripada apa yang diyakini guru. Akibatnya, pendidikan berisiko menjadi proses yang efisien tetapi kehilangan sentuhan kemanusiaannya.

Murid yang Paling Membutuhkan Harapan

Dalam perjalanan mengajar, saya mendampingi anak-anak dengan karakter yang sangat beragam. Ada yang sulit fokus. Ada yang tidak betah di kelas. Ada yang tampak lambat berkembang. Ada pula yang punya potensi besar tapi belum menemukan cara menampilkannya.

Anak-anak seperti merekalah yang paling terdampak ketika guru kehilangan harapan. Mereka tumbuh dalam situasi yang tidak selalu ideal. Mereka berkembang dengan cara yang berbeda. Mereka tidak butuh guru yang sempurna.

Mereka butuh guru yang belum menyerah.

Doa Sebagai Bentuk Kepercayaan

Di sinilah saya ingin berbicara tentang sesuatu yang jarang masuk ke dalam percakapan pendidikan modern: doa.

Bagi saya, guru yang mendoakan murid-muridnya bukan sekadar menjalankan ritual keagamaan. Ia sedang melakukan sesuatu yang sangat spesifik — ia membuktikan bahwa ia masih menyimpan harapan untuk anak itu.

Doa tidak bisa dipanjatkan dengan tulus untuk seseorang yang sudah kita hapuskan dari hati. Ketika seorang guru menyebut nama muridnya — memohon agar ia diberi kemudahan belajar, akhlak yang baik, dan masa depan yang penuh keberkahan — ia sedang menolak untuk menyerah.

Rasulullah SAW bersabda: "Tidaklah seorang muslim mendoakan saudaranya yang tidak ada di hadapannya, melainkan malaikat akan berkata: Dan bagimu hal yang serupa." (HR Muslim). Tapi bahkan bagi pembaca yang tidak berbagi keyakinan yang sama, substansinya bisa ditangkap: ada sesuatu yang berubah dalam diri guru ketika ia masih bersedia mendoakan muridnya. Cara ia memandang anak itu berubah.

Yang Perlu Dipulihkan

Ini bukan seruan untuk meninggalkan profesionalisme. Kompetensi tetap harus diasah. Perencanaan tetap harus matang.

Tetapi ada pertanyaan yang perlu kita ajukan kembali: apakah kita sedang membangun guru yang semakin kompeten, tetapi semakin kehilangan kemampuan untuk percaya pada murid-muridnya?

Jika jawabannya ya, maka bukan hanya metode yang perlu diperbaiki. Yang perlu dipulihkan adalah keyakinan bahwa setiap anak, betapapun sulitnya, menyimpan potensi yang mungkin belum kelihatan.

Dan salah satu tanda paling sederhana bahwa seorang guru masih memegang keyakinan itu — adalah ketika ia masih bersedia menyebut nama muridnya dalam doa.

Buka sumber asli