News Berita

Ketika Bahasa Ibu Mulai Asing di Telinga Anak Sendiri

Banyak anak muda masih memahami bahasa daerah, tetapi tidak lagi terbiasa menuturkannya. Fenomena ini menjadi tanda bahwa bahasa daerah perlahan kehilangan tempat di kehidupan sehari-hari.

Ketika Bahasa Ibu Mulai Asing di Telinga Anak Sendiri
Sumber gambar : pixabay
Sumber gambar : pixabay

Beberapa waktu lalu, saya melihat seorang ibu sedang berbicara dengan anaknya di depan rumah. Sang ibu menggunakan bahasa daerah saat mengajaknya berbincang, tetapi anaknya justru menjawab dengan bahasa Indonesia. Percakapan itu tetap berjalan lancar karena mereka saling memahami. Namun, ada satu hal yang menarik perhatian saya: sang anak mengerti apa yang dikatakan ibunya, tetapi tidak lagi terbiasa menggunakan bahasa daerah untuk menjawab.

Pemandangan seperti ini mungkin terlihat biasa, tetapi sebenarnya menunjukkan perubahan yang sedang terjadi. Bahasa daerah yang dulu diwariskan secara alami dari orang tua kepada anak kini semakin jarang digunakan dalam kehidupan sehari-hari. Akibatnya, banyak anak yang mampu memahami bahasa daerah, tetapi kesulitan untuk menuturkannya kembali.

Di Maluku, bahasa daerah dulu begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Dari rumah, halaman kampung, sampai tempat berkumpul warga, bahasa daerah selalu terdengar. Sekarang situasinya mulai berbeda. Banyak anak muda lebih nyaman menggunakan bahasa Indonesia, bahkan ketika berbicara dengan keluarga sendiri.

Bahasa Daerah Mulai Terpinggirkan

Perubahan ini sebenarnya wajar karena kita hidup di zaman yang terus berkembang. Sekolah, media sosial, film, dan berbagai platform digital membuat bahasa Indonesia menjadi bahasa yang paling sering digunakan.

Masalahnya, ketika bahasa daerah semakin jarang dipakai, generasi muda juga semakin jauh darinya. Banyak yang masih mengerti beberapa kata, tetapi kesulitan saat harus berbicara menggunakan bahasa daerah secara langsung. Kalau keadaan ini terus berlangsung, bukan tidak mungkin suatu saat nanti bahasa daerah hanya akan digunakan pada acara adat atau kegiatan tertentu saja.

Lebih dari Sekadar Alat Komunikasi

Sering kali kita menganggap bahasa hanya sebagai alat untuk berbicara. Padahal, di dalam bahasa ada banyak hal yang ikut tersimpan, mulai dari cerita rakyat, nasihat orang tua, sampai cara masyarakat memandang kehidupan.

Karena itu, ketika bahasa daerah perlahan hilang, yang ikut memudar bukan hanya kata-katanya, tetapi juga sebagian identitas budaya yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Untungnya, menjaga bahasa daerah tidak harus dimulai dengan langkah besar. Menggunakannya saat berbicara dengan keluarga, mengajarkan beberapa kosakata kepada anak-anak, atau sekadar bangga menggunakan bahasa daerah dalam kehidupan sehari-hari sudah menjadi bentuk pelestarian yang berarti.

Pada akhirnya, bahasa daerah akan tetap hidup jika masih ada yang menggunakannya. Sebab warisan budaya bukan hanya untuk dikenang, tetapi juga untuk diteruskan.

Pesan:

Jangan sampai kita menjadi generasi yang hanya mengenal bahasa daerah dari cerita orang tua atau acara adat. Selama masih bisa digunakan hari ini, mari mulai membiasakan diri untuk menuturkannya. Sebab bahasa daerah akan tetap hidup bukan karena disimpan, tetapi karena digunakan.

Buka sumber asli