News Berita

Kenapa Banyak Lansia dengan Hipertensi Terlihat Baik-Baik Saja?

Mengapa umumnya hipertensi terjadi pada lansia, mengapa mereka terlihat baik-baik saja padahal sebenarnya tidak.

Kenapa Banyak Lansia dengan Hipertensi Terlihat Baik-Baik Saja?
https://www.istockphoto.com/id/foto/petugas-kesehatan-mengambil-tekanan-darah-wanita-senior-di-rumah-gm1334660380-416699546?searchscope=image%2Cfilm
https://www.istockphoto.com/id/foto/petugas-kesehatan-mengambil-tekanan-darah-wanita-senior-di-rumah-gm1334660380-416699546?searchscope=image%2Cfilm

Banyak orang mengira hipertensi pada lansia hanyalah soal angka tekanan darah. Selama tidak pusing atau tidak dirawat di rumah sakit, mereka dianggap baik-baik saja. Padahal, kenyataannya tidak sesederhana itu.

Di balik kondisi yang terlihat “normal”, banyak lansia sebenarnya sedang berjuang dengan perubahan besar dalam hidupnya. Tubuh yang tidak lagi sekuat dulu, aktivitas yang mulai terbatas, hingga perasaan kehilangan peran dalam keluarga atau lingkungan sosial sering kali menjadi beban yang tidak terlihat.

Menurut Nora, dkk. (2023) dalam Jurnal Abdimas Saintika, hipertensi sendiri memang menjadi salah satu penyakit paling umum pada lansia. Seiring bertambahnya usia, elastisitas pembuluh darah menurun dan kerja jantung tidak lagi optimal. Hal ini membuat tekanan darah lebih mudah meningkat. Namun, yang sering luput dari perhatian adalah dampaknya terhadap kondisi psikologis.

Banyak lansia memilih untuk diam. Mereka tidak selalu mengeluhkan rasa cemas, stres, atau kesepian yang dirasakan. Bahkan, tidak sedikit yang berusaha terlihat “kuat” agar tidak merepotkan keluarga. Di sinilah akar masalahnya. Ketika kondisi psikologis terabaikan, tekanan darah justru bisa semakin sulit dikontrol.

Stres dan kecemasan memiliki hubungan erat dengan hipertensi. Ketika seseorang mengalami stres, tubuh akan merespons dengan meningkatkan denyut jantung dan tekanan darah. Jika kondisi ini berlangsung terus-menerus, maka risiko komplikasi pun meningkat. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menurunkan kualitas hidup lansia secara signifikan.

Selain itu, kesepian juga menjadi faktor yang sering tidak disadari. Lansia yang jarang berinteraksi atau merasa kurang diperhatikan cenderung mengalami penurunan kesejahteraan emosional. Mereka mungkin terlihat baik-baik saja secara fisik, tetapi sebenarnya mengalami kelelahan mental.

Kualitas hidup lansia tidak hanya ditentukan oleh kondisi fisik, tetapi juga oleh keseimbangan emosional dan hubungan sosial. Dukungan keluarga menjadi salah satu faktor penting yang dapat membantu lansia merasa lebih tenang dan dihargai. Hal sederhana seperti mengajak berbicara, mendengarkan cerita, atau melibatkan mereka dalam aktivitas sehari-hari dapat memberikan dampak besar.

Dalam konteks pelayanan kesehatan, perawat memiliki peran penting untuk melihat kondisi lansia secara menyeluruh. Tidak hanya fokus pada tekanan darah, tetapi juga memahami kondisi emosional pasien. Edukasi, dukungan psikologis, serta pendekatan yang empatik dapat membantu lansia menghadapi penyakitnya dengan lebih baik.

Pada akhirnya, penting untuk menyadari bahwa “terlihat baik-baik saja” tidak selalu berarti benar-benar baik. Lansia dengan hipertensi membutuhkan perhatian yang lebih dari sekadar pengobatan. Mereka juga membutuhkan rasa didengar, dipahami, dan dihargai.

Karena sering kali, yang paling tidak terlihat justru yang paling dirasakan.

Buka sumber asli