News Berita

Kemerdekaan Dimulai dari Meja Makan: Nonas Day Sekali dalam Seminggu

Ritual Nonas Day satu hari dalam seminggu dapat menjadi salah satu solusi menuju ketahanan pangan keluarga dan menjadi jalan kecil untuk melepaskan diri dari ketergantungan nasi. #userstory

Kemerdekaan Dimulai dari Meja Makan: Nonas Day Sekali dalam Seminggu
Ilustrasi nasi di rice cooker. Foto: Shutterstock
Ilustrasi nasi di rice cooker. Foto: Shutterstock

Kemerdekaan sering kali kita maknai sebagai perayaan seremonial di lapangan luas atau kebebasan dalam berpendapat. Namun sesungguhnya, kemerdekaan memiliki dimensi yang jauh lebih intim dan mendasar: meja makan.

Meja makan menjadi ruang dan arena bagi keluarga dalam mengukur dan merepresentasikan sejauh mana kemerdekaan dialami dan dinikmati oleh keluarga, terutama oleh perempuan dan anak. Apa pun yang disajikan di meja makan dapat menjadi pernyataan sikap politik kecil-kecilan di tingkat domestik.

Candu Nasi

Masih terpatri dalam ingatan generasi milenial Indonesia tentang pelajaran Sekolah Dasar tentang menu makan “4 sehat 5 sempurna” yang hanya mencakup gambar “sepiring nasi” sebagai pangan pokoknya. Karena itu, sebagian besar orang Indonesia saat ini “belum kenyang kalau belum makan nasi” atau mengaku “belum makan kalau belum makan nasi”. Propaganda nasi ini kemudian tecermin dalam pola produksi dan konsumsi pangan nasional kita.

Data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) yang dirilis pada awal 2026 menunjukkan secercah harapan: produksi beras nasional sepanjang tahun 2025 mencapai 34,69 juta ton, meningkat signifikan dibanding tahun sebelumnya. Dengan tingkat konsumsi nasional yang berada di kisaran 31 juta ton, kita memang mulai melihat surplus.

Ilustrasi produksi beras. Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO
Ilustrasi produksi beras. Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTO

Namun, apakah surplus ini berarti kita sudah benar-benar "merdeka"? Belum tentu. Ketergantungan pada satu jenis komoditas tetaplah sebuah kerentanan, apalagi jika surplus tersebut masih dibayangi oleh sejarah impor yang sempat menyentuh 4,52 juta ton pada 2024. Data tersebut juga menunjukkan bahwa satu orang Indonesia mengonsumsi 8 kg beras per bulannya.

Mari kita coba bandingkan data produksi dan konsumsi beras ini dengan produksi dan konsumsi sumber karbohidrat lain, seperti jagung, ubi, dan singkong. Pada tahun 2025, produksi jagung nasional kita mencapai 16,55 juta ton, tetapi itu semua lebih banyak kita habiskan untuk pakan ternak (Kompas.com).

Nasib tidak terlalu populer juga dialami oleh singkong yang produksinya mencapai 13,60 juta ton, tetapi konsumsi per kapitanya masih rendah di angka 8,6 kg per tahun (Kompas.id). Sementara itu, ubi jalar masih menjadi komoditas minor dengan produksi sekitar 1,40 juta ton dan tingkat konsumsi di bawah 5 kg per kapita (Bappenas).

Kontras data di atas menegaskan bahwa ketergantungan kita terhadap beras sudah mencapai tahap yang mengkhawatirkan. Meja makan kita sebenarnya memiliki banyak pilihan untuk merdeka dari dominasi beras.

Nonas Day (Hari No Nasi)

Ilustrasi nasi putih. Foto: Shutterstock
Ilustrasi nasi putih. Foto: Shutterstock

Bayangkan berapa banyak jagung, singkong, dan ubi yang dapat kita manfaatkan jika satu hari saja dalam satu minggu kita tidak mengonsumsi nasi. Ritual Nonas Day (hari tanpa nasi) satu hari dalam seminggu dapat menjadi salah satu solusi menuju ketahanan pangan keluarga dan menjadi jalan kecil untuk melepaskan diri dari ketergantungan terhadap beras/nasi.

Nonas day bukan sekadar tren gaya hidup sehat atau upaya diet. Ini adalah salah satu jalan menjemput kemerdekaan dari nasi. Alih-alih mengalihfungsikan lahan untuk sawah dan menambah produksi beras yang tidak ada cukupnya bagi perut orang Indonesia, bukankah lebih baik memanfaatkan berbagai macam sumber karbohidrat yang tersedia di alam Indonesia raya yang penuh dengan berbagai jenis pangan ini?

Di meja makan kami, kami mencoba memutus candu nasi ini dengan menjadikan hari Selasa sebagai hari petualangan rasa. Kami mengeksplorasi apa yang sering kita sebut sebagai "pangan lokal", tapi kerap kita lupakan.

Kami mengganti nasi dengan ubi, singkong, jagung dan terkadang pisang rebus. Kami mendidik lidah kami untuk mengenal sumber karbohidrat lain yang juga tersedia di alam kami yang tidak kalah bergizinya. Jagung, misalnya, bukan hanya sumber karbohidrat, melainkan juga kaya akan serat dan antioksidan. Begitu pula dengan ubi jalar yang memiliki indeks glikemik lebih rendah dibanding nasi putih, menjadikannya pilihan yang lebih ramah bagi tubuh.

Ilustrasi jagung. Foto: hutterstock
Ilustrasi jagung. Foto: hutterstock

Dengan menghadirkan jagung rebus, ubi rebus, singkong rebus, atau pisang rebus sekali dalam seminggu, kami sedang mendidik lidah dan otak usus kami agar tidak menjadi "budak" satu jenis karbohidrat saja.

Menjemput kemerdekaan dari nasi setiap Selasa adalah langkah kecil untuk mendukung diversifikasi pangan nasional. Sebagaimana sering dibahas dalam kolom opini kumparan, diversifikasi bukan berarti anti-nasi, melainkan memperluas pilihan.

Jika setiap keluarga di Indonesia mampu merdeka dari nasi hanya satu hari saja dalam seminggu, bayangkan berapa juta ton beban beras nasional yang bisa dikurangi. Kita akan memberikan ruang bagi petani lokal jagung, ubi, dan sagu untuk tumbuh dan berdaulat di negeri sendiri.

Pada akhirnya, kemerdekaan sejati adalah kemampuan untuk menentukan apa yang terbaik bagi diri kita dan bangsa kita, dimulai dari apa yang kita suapkan ke mulut. Selasa tanpa nasi adalah cara kami merayakan kekayaan bumi nusantara. Ini adalah tentang kedaulatan pangan yang dibangun dari dapur, tentang kemerdekaan yang dirasakan langsung di lidah, dan tentang masa depan Indonesia yang lebih sehat dan mandiri. Mari kita mulai menjemput merdeka itu, satu hari di setiap minggu.

Buka sumber asli