News Berita

Kedok 'Pribumi Rajin' di Ladang Tanam Paksa

Laporan kolonial memuji petani Jawa sebagai pekerja rajin, padahal di baliknya tersembunyi siasat pangan dan data untuk melawan Tanam Paksa.

Kedok 'Pribumi Rajin' di Ladang Tanam Paksa
Para pekerja di era kolonial (source CC Wikimedia Commons).
Para pekerja di era kolonial (source CC Wikimedia Commons).

Pada akhir dekade 1840-an, seorang pengawas perkebunan (opziener) yang menyusuri Karesidenan Semarang bisa pulang membawa laporan yang tampak sempurna di atas kertas. Hamparan tebu tumbuh teratur, kewajiban tanam terpenuhi, dan penduduk pribumi bahkan tercatat sebagai pekerja yang tekun. Namun di balik keteraturan administratif itu, desa-desa di Demak dan Grobogan sedang meluncur ke dalam salah satu bencana kelaparan paling mematikan di Jawa abad ke-19.

Di sinilah terletak sebuah teka-teki historiografis yang jarang diajukan. Narasi umum tentang Tanam Paksa (Cultuurstelsel) biasanya berhenti pada satu gambaran tunggal: petani sebagai korban pasif yang pasrah pada penderitaan. Anehnya, dokumen kolonial yang sama justru kerap memuji mereka sebagai teladan kerajinan. Di antara dua wajah itu, korban yang sekarat dan teladan yang dipuji, tersembunyi sebuah cerita ketiga yang selama ini nyaris tak terdengar, yakni bagaimana petani Jawa melawan tanpa mengangkat senjata.

Kelaparan sebagai Produk Kebijakan, Bukan Takdir Alam

Tanam Paksa diberlakukan Gubernur Jenderal Van den Bosch pada 1830 untuk mengisi kembali kas kolonial yang bobol setelah Perang Jawa. Sebagai instrumen fiskal, sistem ini luar biasa efektif. Keuntungan bersih kolonial (batig slot) mengalir deras ke Eropa dan memuncak pada dekade 1850-an, mendanai kemakmuran negeri induk di atas kerja paksa jutaan penduduk Jawa.

Di tingkat tapak, harganya dibayar dengan nyawa. Antara 1848 dan 1850, kelaparan hebat melanda Demak dan Grobogan. Catatan resmi menyebut penduduk Demak susut dari sekitar 336.000 menjadi 120.000 jiwa, sementara Grobogan anjlok dari 89.500 menjadi hanya 9.000 jiwa.

Angka masif ini memang masih diperdebatkan para sejarawan, sebab pencatatan kolonial kerap mencampuradukkan kematian riil dengan gelombang desersi dan migrasi massal penduduk yang kabur meninggalkan desanya.

Versi populer menyalahkan satu sebab tunggal, yaitu penggantian sawah padi dengan tebu yang lantas memicu kelaparan. Kajian yang lebih cermat menunjukkan sebab yang jauh lebih berlapis: gagal panen padi akibat serangan hama tikus, beban kerja dan pajak yang menggerus waktu subsistensi petani, penipuan oleh pejabat pribumi, hingga runtuhnya daya beli rakyat.

Poin terakhir itu krusial. Sejarawan W.R. Hugenholtz menyebut bencana semacam ini pada dasarnya sebagai "kelaparan harga", yakni situasi ketika pangan sesungguhnya masih tersedia di pasar, tetapi rakyat tak lagi memiliki uang untuk membelinya karena tenaga dan waktunya telah habis tersedot kewajiban tanam.

Studi demografi mutakhir bahkan menemukan bahwa beban kerja paksa sistem ini sendiri menaikkan angka kematian lewat kekurangan gizi dan penyakit, begitu besar sampai penghapusannya diperkirakan menurunkan mortalitas rata-rata di Jawa pada dekade berikutnya.

Dengan kata lain, krisis pangan Jawa bukanlah takdir alam yang datang tiba-tiba. Ia adalah produk kebijakan yang berulang secara struktural sepanjang abad kolonial.

Tegalan dan Celah Pajak: Geografi Sebuah Perlawanan

Jika sistem ini demikian mematikan, pertanyaan yang layak diajukan adalah bagaimana desa-desa tetap mampu bertahan. Jawabannya tidak terletak pada belas kasih negara, melainkan pada tanah dan dapur.

Kuncinya ada pada logika perpajakan kolonial. Landrente, pajak tanah warisan era pemerintahan Inggris, dihitung berdasarkan produktivitas sawah beririgasi, bukan atas seluruh lahan yang dikuasai petani. Konsekuensinya, tegalan atau lahan kering yang tak masuk hitungan pajak menjelma menjadi titik buta di mata negara, sekaligus ruang gerak paling leluasa bagi rakyat.

Di ruang inilah pertahanan dilancarkan. Perhatikan sebuah pekarangan rumah petani. Di halaman depan, tebu tumbuh rapi memenuhi kewajiban kepada negara. Di halaman belakang dan di tegalan, jagung (djagong) serta palawija (tweede gewassen) tumbuh untuk perut keluarga, jauh dari hitungan pengawas.

Siasat itu bekerja lewat sejumlah taktik yang tampak sederhana namun rasional:

  • Bersandar pada tanaman lahan kering. Jagung dan palawija jauh lebih tahan kekeringan daripada padi sawah. Di lahan kering, justru jagunglah yang kerap menambal kegagalan panen padi sekaligus mengisi lumbung tanpa menarik perhatian penjajah.

  • Menanam umbi di lahan pinggir. Talas, gadung, ganyong, dan ubi ditanam di petak-petak sulit diawasi, di luar jangkauan pandang administrasi kolonial.

  • Membangun "lumbung hidup". Sebagian umbi sengaja dibiarkan tertanam di dalam tanah sebagai cadangan pangan yang luput dari mata pajak.

  • Memperlambat kerja dan kabur. Ketika tekanan memuncak, petani memperlambat ritme kerja secara diam-diam, menyimpan cadangan di lumbung desa, atau bahkan melakukan desersi meninggalkan desanya.

"Perlawanan petani Jawa tidak berbentuk barikade atau manifesto. Ia berbentuk sepetak tegalan yang tak tercatat, sekarung umbi yang sengaja dibiarkan di dalam tanah, dan selembar laporan desa yang angkanya dikaburkan. Yang tak terbaca oleh negara, pada akhirnya sulit dikuasai negara."

Mengaburkan Angka: Senjata yang Tak Terbaca Negara

Pertahanan pangan itu ditopang oleh lapis perlawanan kedua yang jauh lebih halus, yakni manipulasi data di tingkat desa. Sepanjang berjalannya sistem, angka kependudukan dan produksi yang dilaporkan ke atas melewati tangan kepala desa, satu-satunya simpul yang menghubungkan pandangan negara dengan realitas tapak.

Simpul itulah yang dikaburkan. Pemerintah kolonial sendiri mengeluh, dalam arsip resminya, bahwa data kependudukan dari kepala desa selama ini diberikan tanpa pedoman apa pun dan di luar kontrol yang memadai. Kekesalan ini berujung pada kebijakan konkret. Pada 1869, pemerintah menghapus laporan statistik lisan kepala desa dan memberlakukan pencatatan tertulis yang lebih ketat lewat dessaregister.

Apakah pengaburan data ini merupakan perlawanan yang disengaja, ataukah sekadar kekalutan dan korupsi pejabat desa, tentu tetap menjadi soal tafsir. Namun dibaca dengan kacamata antropolog James C. Scott, mengaburkan angka justru merupakan salah satu senjata paling ampuh bagi kaum yang diawasi. Scott menamai perlawanan tanpa manifesto semacam ini sebagai infrapolitics, "senjata kaum lemah" yang beroperasi di bawah permukaan kepatuhan. Prinsipnya sederhana namun tajam: apa yang tak terbaca oleh negara akan sulit dikendalikan oleh negara.

Paradoks 'Pribumi Rajin': Mitos yang Justru Dibalik

Di sinilah letak ironi terbesar sistem ini. Berbeda dari dugaan umum, pemerintah kolonial tidak mencap petani Jawa sebagai pemalas. Dalam laporan resmi (Koloniaal Verslag), penduduk beberapa wilayah Jawa justru dicatat dengan predikat positif sebagai pekerja yang rajin (ijverig) dan tekun (vlijtig) dalam membuka serta mengolah lahan.

Cap "malas" (luiheid) memang beredar dalam wacana kolonial, tetapi ditimpakan ke tempat lain. Laporan tahun 1870, misalnya, menyebut kemalasan dan keangkuhan sebagai watak utama penduduk Banda di Maluku, bukan petani Jawa.

Syed Hussein Alatas kelak menamai citra "pribumi malas" sebagai mitos yang sengaja dikonstruksi kolonialisme untuk melegitimasi eksploitasi. Yang menarik, di Jawa mekanismenya berjalan justru terbalik. Petani tidak dicap malas, melainkan dipuji rajin, lalu diperah lebih dalam atas nama kerajinan itu. Kepatuhan dan ketekunan yang tampak di permukaan justru berfungsi sebagai tabir yang menutupi siasat sehari-hari di baliknya. Pujian menjadi alat kuasa, bukan sekadar penilaian netral.

Warisan di Meja Makan dan Pelajaran Sejarah dari Bawah

Perang sunyi ini meninggalkan warisan yang masih kita kunyah hingga hari ini. Di lahan kering, jagung menjadi tulang punggung pangan, dan nasi jagung serta grontol adalah anak kandung dari ketergantungan pada palawija ketika padi tak bisa diandalkan.

Singkong datang belakangan. Ia baru meluas di Jawa sekitar 1870 dan menjadi pangan darurat utama pada awal abad ke-20, melahirkan gaplek, tiwul, gathot, dan getuk. Kita hari ini kerap mengenang jajanan umbi itu sebagai makanan kampung atau bahan nostalgia, padahal ia lahir dari daya tahan, bukan dari kemewahan rasa. Berbeda dari kisah populer tentang manisnya masakan Jawa yang berakar pada gula tebu, jejak jagung dan umbi ini bercerita tentang sisi lain, yaitu bagaimana rakyat memberi makan dirinya sendiri persis ketika sistem gagal memenuhinya.

Membaca sejarah dari bawah pada akhirnya mengubah siapa tokoh utamanya. Petani Tanam Paksa bukan sekadar angka kematian dalam laporan Residen, dan bukan pula "pribumi rajin" yang pasrah pada takdir. Di balik wajah patuh itu, ada pertahanan yang sabar dan cerdik, dilancarkan dengan cangkul, jagung, dan diam.

Pola ini pun tidak berhenti di abad ke-19. Logika menundukkan rakyat demi komoditas, sebagaimana dicatat sejumlah pengkaji, berlanjut dalam bentuk-bentuk baru jauh setelah Tanam Paksa resmi usai. Maka sepiring nasi jagung dan sepotong tiwul sesungguhnya menyimpan ingatan, tentang sebuah perlawanan yang nyaris tak terdengar, tetapi tak pernah benar-benar diam.

Buka sumber asli