Kala 2 Pasang Pengantin Bekakak Disembelih dalam Upacara Adat di Sleman
Upacara adat Saparan Bekakak yang sudah berlangsung ratusan tahun kembali diselenggarakan di Ambarketawang, Gamping, Sleman. #publisherstory #pandanganjogja

Ratusan warga memadati Kalurahan Ambarketawang, Gamping, Sleman, Jumat (17/7), untuk menyaksikan prosesi adat Saparan Bekakak.
Dalam tradisi tahunan tersebut, dua pasang boneka pengantin bekakak disembelih di dua lokasi yang dianggap sakral, yakni kawasan Gua Gung dan Gunung Gamping.
Prosesi diawali dengan kirab yang diikuti bergada, ogoh-ogoh, andong, serta gunungan hasil bumi. Rangkaian acara berlangsung sekitar pukul 14.45 hingga 17.00 WIB dan disaksikan masyarakat yang memenuhi sepanjang rute kirab hingga lokasi penyembelihan.

Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, mengatakan tradisi Saparan Bekakak digelar setiap 10 Safar sebagai upaya melestarikan budaya sekaligus mempererat kebersamaan warga.
Tradisi tersebut terus dilaksanakan secara turun-temurun sejak zaman leluhur.
“Kita selalu selenggarakan di bulan safar tanggal 10 kita,” kata Sumaryanto saat ditemui Pandangan Jogja di Kantor Kalurahan Ambarketawang, Jumat (17/7).
Ia menjelaskan, tradisi Bekakak berkaitan dengan sejarah Kyai dan Nyai Wirasuta. Dalam prosesi tersebut, dua pasang pengantin bekakak diarak sebelum disembelih di dua lokasi.
“Bekakak dikawal Bergada, dibawa ke lokasi dekat STIKES Ahmad Yani (Gua Gung). Kedua di Gunung Gamping, uborampe dibagikan ke masyarakat,” ujarnya.

Menurut Sumaryanto, tradisi ini juga menjadi bentuk penghormatan kepada Kyai dan Nyai Wirasuta yang merupakan abdi dalem pada masa Sri Sultan Hamengku Buwono I saat pembangunan pesanggrahan Keraton Yogyakarta.
Tradisi yang dahulu digambarkan dengan pengorbanan manusia kemudian diganti menggunakan sepasang bekakak.
“Ini adalah salah satu penghormatan dari Sri Sultan Hamengku Buwono I, Kyai dan Nyai Wirasuta adalah Abdi Dalem waktu itu dalam proses membangun pesanggrahan Keraton Jogja,” kata Sumaryanto.
Warga Berebut Ubarampe untuk Ngalap Berkah

Setelah prosesi selesai, masyarakat berebut ubarampe dan hasil bumi yang dibagikan di lokasi. Bayu Puji Santoso (27), warga Sentolo, Kulon Progo, mengaku sengaja datang untuk mengikuti tradisi tersebut dan memperoleh seekor ayam dari juru kunci.
“Dikasih sama juru kunci. Kalau kepercayaan orang jawa ngalap berkah di Gunung Gamping. namanya pengurip-urip, semoga apa yang diharapkan itu bisa hidup di kemudian hari,” ujar Bayu saat ditemui di kawasan Gunung Gamping.

Bayu mengaku pernah memperoleh pengurip-urip dalam tradisi lain dan kembali mendapatkan ayam pada prosesi Bekakak tahun ini.
“Saya pernah dapat pengurip urip dulu, pelihara ayam tiap beberapa bulan mati terus dapat pengurip-urip di pertunjukkan wayang, setelah itu hidup terus. Kebetulan hari ini dapat lagi,” ujarnya.
Sementara itu, Ngadiran, warga Monjali, mengatakan dirinya tidak mempermasalahkan harus berdesakan maupun kotor saat mengikuti prosesi demi mendapatkan ubarampe.
“Dapat buah, kotor nggak masalah, buat ngalap berkah,” kata Ngadiran.