News Berita

Jangan Anggap Sepele Kebiasaan Mengompol Usai Melahirkan! Ini Penjelasan Dokter

Apakah Anda sering bolak-balik ke kamar mandi atau tiba-tiba tidak bisa menahan buang air kecil? Simak penjelasan dokter berikut! #momsupdate #update #mom #text

Jangan Anggap Sepele Kebiasaan Mengompol Usai Melahirkan! Ini Penjelasan Dokter
Ilustrasi buang air kecil Foto: Shutterstock
Ilustrasi buang air kecil Foto: Shutterstock

Pernah merasa terlalu sering buang air kecil atau tanpa sadar mengeluarkan urine saat tidak berada di toilet? Jangan buru-buru menganggapnya sebagai hal yang normal. Jika kondisi ini mulai mengganggu aktivitas sehari-hari atau membuat Anda sering terbangun di malam hari, bisa jadi ada gangguan pada kandung kemih yang perlu diperiksakan.

Dalam acara Peresmian Pelvic & Bladder Comprehensive Clinic Siloam Hospitals Asri, Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi, Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U(K), PhD, menjelaskan bahwa mengompol atau inkontinensia urine adalah kondisi ketika urine keluar tanpa disadari atau di luar kehendak seseorang.

"Jadi semestinya sih kalau sudah ada keluhan berkemih di luar dari keadaan yang kita inginkan, walaupun cuma satu tetes, di mana itu merupakan definisi dari mengompol atau inkontinensia urine," ujar Prof. Harrina.

Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi, Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U (K), PhD. Foto: Eka Nurjanah/kumparan
Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Perempuan, Fungsional dan Neurologi, Prof. Dr. dr. Harrina E. Rahardjo, Sp.U (K), PhD. Foto: Eka Nurjanah/kumparan

Menurutnya, jika seseorang mulai mengalami keluhan urine keluar tanpa disadari, meski hanya sedikit, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar penyebabnya dapat diketahui sejak dini.

Cara Kerja Kandung Kemih yang Normal

Prof. Harrina menjelaskan bahwa saat seseorang tidak sedang berada di kamar mandi, kandung kemih sebenarnya terus terisi oleh urine yang diproduksi ginjal.

Dalam kondisi normal, kandung kemih mampu menampung urine selama beberapa jam sebelum akhirnya mengirimkan sinyal ke otak bahwa sudah waktunya buang air kecil.

Secara umum, seseorang dapat menahan buang air kecil sekitar 4–5 jam sebelum muncul keinginan untuk berkemih. Hal ini tentu dapat berbeda pada setiap orang, tergantung asupan cairan maupun kondisi kesehatannya.

Ilustrasi perempuan buang air kecil. Foto: Pixel-Shot/Shutterstock
Ilustrasi perempuan buang air kecil. Foto: Pixel-Shot/Shutterstock

Kapan Frekuensi Buang Air Kecil Dianggap Terlalu Sering?

Selain urine yang keluar tanpa disadari, frekuensi buang air kecil juga perlu diperhatikan. Jika seseorang harus bolak-balik ke kamar mandi dalam waktu yang terlalu singkat, kondisi tersebut dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.

"Nah kalau misalnya sudah lebih dari itu, sudah sejam sekali atau setengah jam sekali, bisa dibayangkan betapa sangat mengganggunya. Karena kan kita bekerja, kita mungkin sekolah, atau kita sedang berpergian, nah itu tentunya sangat mengganggu," tuturnya.

Ia juga menambahkan, salah satu patokan yang bisa digunakan adalah jumlah buang air kecil dalam sehari.

"Kalau misalnya dari bangun pagi hari sampai kita tidur lagi malam hari, ternyata kencing kita sudah lebih dari 8 kali, nah itu sudah mulai tanda-tanda tuh, ‘Oh ini keseringan nih kencing saya’,” tegasnya.

Ilustrasi terbangun dari tidur ingin buang air kecil. Foto: airdone/Shutterstock
Ilustrasi terbangun dari tidur ingin buang air kecil. Foto: airdone/Shutterstock

Jangan Abaikan Jika Sering Terbangun untuk Buang Air Kecil

Tak hanya di siang hari, kebiasaan terbangun di malam hari untuk buang air kecil juga perlu menjadi perhatian. Menurut Prof. Harrina, idealnya seseorang dapat tidur sepanjang malam tanpa harus terbangun karena ingin buang air kecil.

"Kalau misalnya sudah mulai terbangun malam hari buat kencing 1-2 kali gitu, nah itu sudah mulai tanda-tanda mungkin harus lakukan konsultasi,” imbuh Prof. Harrina.

Meski tidak semua kasus sering buang air kecil atau mengompol menandakan penyakit yang serius, pemeriksaan sejak dini dapat membantu dokter mengetahui penyebabnya sehingga penanganan yang tepat dapat segera diberikan.

Buka sumber asli