News Berita

Ironi Eropa: Pelopor Kereta Cepat yang Kini Tertinggal dari Asia

Eropa adalah benua yang melahirkan Revolusi Industri. Jalur kereta api pertama di dunia dibangun di sana dan selama lebih dari dua abad, Eropa telah menjadi pusat transportasi modern dunia. #userstory

Ironi Eropa: Pelopor Kereta Cepat yang Kini Tertinggal dari Asia
Ilustrasi peta Eropa. Foto: syeddilaver/Shutterstock
Ilustrasi peta Eropa. Foto: syeddilaver/Shutterstock

Eropa adalah benua yang melahirkan Revolusi Industri. Jalur kereta api pertama di dunia dibangun di sana dan selama lebih dari dua abad, Eropa telah menjadi pusat transportasi modern dunia.

Namun, sebuah ironi besar sedang terungkap: ketika Asia melaju kencang dengan proyek kereta api berkecepatan tinggi yang ambisius dan terbukti berhasil, Eropa justru terjebak dalam kemacetan birokrasi dan penundaan puluhan tahun. Benua yang dulu mengajarkan dunia cara membangun rel kini tampaknya tertinggal di rel warisan masa lalunya sendiri.

Kegagalan Eropa di bidang transportasi modern bukanlah soal kurangnya sumber daya. Masalahnya jauh lebih mendalam, sebuah laporan khusus dari Badan Pemeriksa Keuangan Eropa (ECA) yang dirilis pada 19 Januari 2026 menegaskan bahwa target penyelesaian Jaringan Transportasi Trans-Eropa (TEN-T) pada 2030 tidak akan tercapai.

Laporan itu meninjau delapan proyek transportasi lintas batas prioritas, enam di antaranya proyek kereta api dan menemukan bahwa situasi pada 2025 justru memburuk dibanding lima tahun sebelumnya.

Angkanya mengejutkan, lima dari delapan megaproyek kini menghadapi penundaan rata-rata 17 tahun, naik dari 11 tahun pada penilaian 2020.

Ilustrasi mata uang Euro. Foto: Zayne C/Shutterstock
Ilustrasi mata uang Euro. Foto: Zayne C/Shutterstock

Sementara itu, kelebihan biaya riil rata-rata melonjak dari 47 persen menjadi 82 persen, hampir dua kali lipat dalam lima tahun. Jalur Basque Y di Spanyol menjadi simbol paling jelas; yang sebelumnya dijadwalkan dibuka pada 2010, direvisi ke 2023, dan kini diperkirakan tidak selesai hingga setidaknya 2030—penundaan lebih dari dua dekade.

Ini bukan anomali, melainkan cerminan budaya penundaan dan pembengkakan biaya yang telah menjadi kebiasaan struktural. ECA sendiri mengakui bahwa Komisi Eropa selama ini memiliki kapasitas terbatas untuk campur tangan ketika proyek-proyek tersebut menghadapi hambatan.

Sementara Eropa bergumul dengan birokrasinya, Asia membuktikan bahwa proyek transportasi berskala besar dapat diselesaikan dengan disiplin dan ketepatan. Contoh paling ikonik adalah Jepang. Shinkansen mencatat rata-rata keterlambatan hanya 1,6 menit per kereta per tahun, angka yang sudah mencakup gangguan akibat bencana alam seperti gempa bumi dan hujan lebat.

Di Jepang, bahkan keterlambatan satu menit pun dianggap sebagai insiden yang memerlukan permintaan maaf resmi dari masinis, standar yang tampak seperti kemewahan pada negara-negara di mana kereta antarkota bisa terlambat berjam-jam.

Stasiun Shinkansen, Jepang. Foto: ArminEP/Pixabay
Stasiun Shinkansen, Jepang. Foto: ArminEP/Pixabay

Kisah sukses ini tidak eksklusif bagi Jepang. Di Asia Tenggara, kereta cepat Whoosh Indonesia yang mulai beroperasi secara komersial pada Oktober 2023 langsung membuktikan dirinya sebagai pesaing serius. Hingga Oktober 2025, Whoosh telah menyelesaikan hampir 40.000 perjalanan dengan tingkat ketepatan waktu 99,9 persen, nol kecelakaan, dan melayani lebih dari 12 juta penumpang.

Sebagai kereta berkecepatan tinggi pertama di Asia Tenggara, pencapaian ini menggarisbawahi pelajaran penting: keberhasilan bukan semata soal kekayaan atau warisan sejarah, melainkan juga tentang kemauan politik untuk melaksanakan proyek secara serius dan konsisten.

Jika Jepang menjadi tolok ukur keunggulan operasional, China menjadi tolok ukur dalam hal skala. Pada 26 Desember 2025, seiring dibukanya jalur Xi'an–Yan'an, jaringan kereta berkecepatan tinggi China secara resmi melampaui 50.000 kilometer, melebihi total gabungan semua negara lain di dunia.

Selama periode Rencana Lima Tahun ke-14 saja, China membangun 12.000 kilometer jalur baru. Dominasi China bukan hanya soal panjang rel. Prototipe CR450 mencetak rekor kecepatan kereta tunggal 453 km/jam dan kecepatan relatif 896 km/jam saat menyalip. Dibandingkan sebagian besar jalur antarkota Eropa, perbedaannya bukan lagi soal generasi teknologi, melainkan lebih mirip perbedaan era.

Railway, China, Transportation. Foto: Pixabay
Railway, China, Transportation. Foto: Pixabay

Yang perlu dipahami adalah bahwa masalah Eropa bukan soal kemampuan teknis—insinyur-insinyur Eropa tetap termasuk yang terbaik di dunia. Masalahnya terletak pada krisis tata kelola, sistem pengambilan keputusan yang terfragmentasi di antara negara-negara anggota, ketidakmampuan melaksanakan proyek lintas batas secara efisien, dan lemahnya mekanisme untuk memastikan kepatuhan terhadap jadwal dan anggaran.

Tanpa perubahan mendasar terhadap budaya penundaan dan pembengkakan yang sudah mengakar, impian jaringan transportasi Eropa yang modern dan terintegrasi akan tetap hanya sebatas mimpi. Sebuah benua kaya yang hidup di rel masa lalu, sementara dunia dari Beijing hingga Bandung berlari jauh meninggalkannya di belakang.

Buka sumber asli