Ingat Pesan Nenek, Lamine Yamal Selalu Berdoa Sebelum Pertandingan
Berdoa sebelum pertandingan jadi kunci ketenangan Lamine Yamal saat bertanding. #momsupdate #update #mom #text

Di balik aksi gemilangnya di lapangan, bintang muda Spanyol, Lamine Yamal, ternyata memiliki kebiasaan sederhana yang selalu ia lakukan sebelum bertanding. Bukan ritual rumit, melainkan berdoa.
Kebiasaan itu bukan muncul begitu saja. Yamal mengaku selalu mengingat pesan dari sang nenek, Fatima, yang sejak kecil mengajarkannya untuk memulai setiap pertandingan dengan doa.
"Aku selalu berkata kepada dia sebelum pertandingan, ucapkan doa agar diberikan keberhasilan dan pertolongan," kata Fatima.
Di usia 19 tahun, Lamine Yamal sudah menorehkan berbagai pencapaian membanggakan. Ia menjadi salah satu pemain termuda yang tampil di Piala Dunia dan turut membawa Spanyol meraih gelar juara pada turnamen debutnya.
Meski telah bermain di panggung sepak bola terbesar dunia, Yamal tetap mempertahankan kebiasaan yang diajarkan sang nenek. Baginya, doa bukan sekadar rutinitas, tetapi juga cara untuk menenangkan hati sebelum menghadapi tekanan besar di lapangan.
Kenapa Anak Perlu Dibiasakan Berdoa seperti Lamine Yamal?

Menurut Psikolog Klinis Anak Rumah Dandelion, Nurul Annisa, M.Psi., Psikolog, doa dapat menjadi salah satu cara yang sehat untuk membantu anak mengelola emosinya, terutama saat menghadapi situasi yang menegangkan.
Momen seperti pertandingan olahraga, ujian sekolah, hingga lomba sering kali memicu rasa cemas pada anak. Dalam kondisi seperti itu, doa bisa menjadi media regulasi emosi.
"Melalui doa, anak belajar menenangkan pikiran, mengungkapkan rasa takut atau cemas dengan cara yang aman, sekaligus merasa bahwa ia tidak menghadapi semuanya sendirian," jelas Nurul.
Selain memberikan rasa tenang, doa juga membantu anak mengubah cara pandangnya terhadap tantangan yang sedang dihadapi. Anak belajar memusatkan perhatian pada usaha yang bisa dilakukan, alih-alih terus memikirkan hasil yang berada di luar kendalinya.
"Dari kalimat doa saja, kita sudah mulai mengurangi perasaan cemas akan masa depan dan fokus pada usaha yang bisa dilakukan saat ini. Jadi anak belajar melepaskan things I can't control (misalnya kemenangan) dengan perasaan yang damai," tutur Nurul.
Mengajarkan Anak Berdoa Bukan Hanya Soal Agama
Lebih dari sekadar rutinitas ibadah, membiasakan anak berdoa juga dapat menjadi bekal untuk membangun ketahanan mental. Anak belajar mengenali emosinya, menerima bahwa tidak semua hal bisa dikendalikan, serta tetap berusaha memberikan yang terbaik.
Kebiasaan sederhana seperti yang dilakukan Lamine Yamal menunjukkan bahwa kekuatan mental sering kali dibangun dari hal-hal kecil yang dilakukan secara konsisten. Bagi orang tua, mengajak anak berdoa sebelum menghadapi tantangan bisa menjadi salah satu cara untuk membantu mereka tumbuh lebih tenang, percaya diri, dan siap menghadapi berbagai situasi dalam kehidupan.