News Berita

IMO Ungkap Alasan Stop Operasi Pengawalan Kapal Lintasi Selat Hormuz

IMO Ungkap Alasan Stop Operasi Pengawalan Kapal Lintasi Selat Hormuz #newsupdate #update #news #text

IMO Ungkap Alasan Stop Operasi Pengawalan Kapal Lintasi Selat Hormuz
Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer
Kapal-kapal di Selat Hormuz, seperti terlihat dari Musandam, Oman, 14 Juni 2026. Foto: REUTERS/Stringer

Organisasi Maritim Internasional PBB (IMO) menghentikan sementara operasi pengawalan kapal di Selat Hormuz, Kamis (26/6). Keputusan itu diambil usai sebuah kapal kargo terkena serangan proyektil di dekat Oman.

Menurut badan maritim Inggris, UKMTO, kapal kargo tersebut melaporkan terkena proyektil hanya beberapa jam setelah Iran memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintasi jalur yang belum mendapat persetujuan dari Teheran.

Dua pejabat Amerika Serikat (AS) mengatakan kepada Reuters bahwa kapal tersebut ditembaki oleh Iran. Sementara itu, Otoritas Selat Teluk Persia Iran menyatakan kapal yang melintasi rute di luar jalur yang telah ditetapkan tidak akan dijamin keamanannya.

"Konsekuensi yang timbul akibat pelayaran melalui rute yang tidak diizinkan menjadi tanggung jawab pemilik, operator, dan nakhoda kapal," demikian pernyataan otoritas tersebut.

Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: DIA TV/Shutterstock
Ilustrasi Selat Hormuz. Foto: DIA TV/Shutterstock

Empat sumber mengidentifikasi kapal yang diserang sebagai Ever Lovely berbendera Singapura. Seorang sumber keamanan menyebut kapal itu kemungkinan menjadi sasaran serangan drone.

Menyusul insiden tersebut, IMO memutuskan menghentikan sementara program evakuasi kapal dari Selat Hormuz.

Sekretaris Jenderal IMO Arsenio Dominguez mengungkap alasan di balik penghentian dilakukan untuk memastikan jaminan keselamatan bagi kapal-kapal yang masuk dalam daftar evakuasi maupun kapal lain yang berada di kawasan tersebut.

IMO menegaskan kapal Ever Lovely tidak termasuk dalam program evakuasi yang baru diluncurkan pada Selasa (24/6). Program sukarela itu menawarkan dua jalur pelayaran keluar Teluk Persia, yakni melalui perairan Iran atau Oman dengan pengawasan Amerika Serikat.

Insiden itu langsung mengguncang pasar energi. Harga minyak mentah dunia naik sekitar 2 persen karena meningkatnya kekhawatiran bahwa distribusi minyak dari kawasan Teluk akan kembali terganggu.

Sebelum konflik, Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak mentah dan gas alam cair dunia setiap hari.

Sebelum kabar serangan muncul, Menlu AS Marco Rubio memperingatkan negaranya akan bereaksi jika Iran mengancam atau menghalangi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

Namun, Iran memberi sinyal akan tetap mengendalikan jalur pelayaran tersebut. Korps Garda Revolusi Iran (IRGC) menyatakan pelayaran yang aman hanya dapat dilakukan melalui rute yang telah ditentukan oleh pemerintahnya dan akan mengambil tindakan terhadap kapal yang tidak mematuhinya.

Perusahaan keamanan maritim Inggris Ambrey juga melaporkan IRGC memerintahkan dua kapal berbendera Panama mengubah haluan pada Kamis ini.

Meski ketegangan kembali meningkat, Menteri Energi Amerika Serikat Chris Wright mengatakan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mulai kembali mendekati tingkat sebelum perang pecah pada akhir Februari. Dalam 24 jam terakhir, sekitar 20 juta barel minyak disebut telah melewati jalur tersebut.

Buka sumber asli