News Berita

Ilusi Kesetaraan dalam Sehelai Seragam

Semua pakai seragam yang sama, tapi kenapa yang masuk universitas negeri tetap anak-anak dari keluarga itu-itu saja?

Ilusi Kesetaraan dalam Sehelai Seragam

Sumber: Photo by Apollo Toza from Pexels: https://www.pexels.com/photo/man-in-white-shirt-standing-near-white-board-5299833/
Sumber: Photo by Apollo Toza from Pexels: https://www.pexels.com/photo/man-in-white-shirt-standing-near-white-board-5299833/

Setiap pagi, jutaan anak Indonesia bangun, mengenakan seragam yang sama, lalu berangkat ke sekolah dengan harapan yang berbeda-beda. Negara bilang, seragam itu simbol kesetaraan. Tapi benarkah sepotong kain putih-abu bisa menyamakan anak juragan tambang dengan anak buruh harian lepas?

Rasanya ragu.

Ide di balik seragam sekolah sebenarnya mulia dengan semua siswa yang tampak sama, tidak ada yang merasa lebih tinggi atau lebih rendah karena pakaian. Di atas kertas, gagasan ini masuk akal. Tapi kalau boleh jujur, apakah seragam benar-benar menghapus kesenjangan, atau justru hanya menyembunyikannya dengan rapi?

Yang terjadi di lapangan jauh lebih kompleks. Dua anak memakai seragam putih yang sama, tapi satu datang dengan mobil dan satu lagi naik angkot, turun di persimpangan yang jauh, lalu jalan kaki dalam panas. Seragam mereka sama. Nasib mereka? Tidak. Inilah yang disebut kesetaraan simbolik, kita menutup mata terhadap ketimpangan nyata dengan cara memberi semua orang kostum yang sama. Seolah-olah kalau penampilannya seragam, maka masalah sosialnya juga ikut seragam.

Masalahnya itu tidak berhenti di sana. Di balik seragam itu, ada kurikulum nasional yang dirancang untuk semua, mulai dari Sabang sampai Merauke, dari kota metropolitan sampai desa terpencil. Satu kurikulum, satu standar, satu tolok ukur keberhasilan. Kedengarannya adil. Tapi sekali lagi, kita perlu bertanya lebih keras.

Anak di Jakarta punya akses ke internet cepat, les privat, perpustakaan lengkap, dan orang tua yang bisa menemani belajar karena tidak harus kerja dua shift. Sementara anak di pedalaman Kalimantan belajar dengan buku yang robek, guru yang mengajar tiga kelas sekaligus, dan listrik yang sering mati sebelum PR selesai dikerjakan. Kurikulum yang seragam, diterapkan pada kondisi yang tidak seragam, bukan menghasilkan kesetaraan. Ia menghasilkan kompetisi yang tidak adil. Dan kompetisi yang tidak adil hanya akan melahirkan satu hal 'pemenang yang sudah ditentukan sejak awal'.

Ada hal yang jarang kita pertanyakan, untuk siapa sebenarnya seragam itu dirancang? Kalau kita mau jujur membaca sejarahnya, seragam sekolah lahir bukan semata dari semangat kesetaraan. Ia lahir dari kebutuhan untuk menciptakan disiplin, keseragaman, dan kontrol. Seragam membuat siswa mudah diidentifikasi, mudah diatur, dan mudah diawasi. Ini bukan kesetaraan melainkan sebuah keseragaman. Dan keduanya adalah dua hal yang sangat berbeda. Kesetaraan bicara soal hak dan kesempatan yang sama. Keseragaman hanya bicara soal tampilan yang sama. Negara sering mencampuradukkan keduanya, dan kita orang tua, siswa, bahkan guru sering menelan gagasan itu tanpa banyak protes.

Bahkan ketika seragam berhasil menyamarkan perbedaan di luar kelas, ketimpangan itu tidak hilang. Ia bermigrasi. Masuk ke dalam kelas, bersembunyi di balik prestasi akademik, nilai ujian, dan akses terhadap bimbingan belajar. Siapa yang paling banyak duduk di kursi universitas negeri bergengsi? Data tidak pernah berbohong, mayoritas berasal dari keluarga kelas menengah ke atas, dari kota besar, dari sekolah swasta mahal. Mereka semua dulu juga memakai seragam yang sama. Tapi seragam tidak pernah benar-benar menyamakan mereka dengan teman-temannya yang berjuang lebih keras dengan sumber daya yang jauh lebih sedikit.

Ini bukan seruan untuk menghapus seragam sekolah dan itu bukan intinya. Yang perlu ditegaskan di sini adalah kejujuran. Jangan jual seragam sebagai solusi kesetaraan ketika akar masalahnya jauh lebih dalam yang berakar dari soal distribusi guru berkualitas yang timpang, soal infrastruktur sekolah yang tidak merata, soal keluarga yang tidak punya waktu mendampingi anak belajar karena harus bertahan hidup.

Kalau negara serius soal kesetaraan pendidikan, maka yang perlu diseragamkan bukan seragamnya, tetapi kualitas kesempatannya. Seragamkan akses internet di sekolah. Seragamkan kualitas guru di kota dan di desa. Seragamkan fasilitas laboratorium dan perpustakaan. Itu baru bicara soal kesetaraan yang sesungguhnya.

Sehelai seragam tidak pernah cukup untuk menutup jurang yang selama ini menganga di antara kita. Dan semakin lama kita pura-pura tidak melihat jurang itu, semakin dalam ia akan terbentang dan tidak peduli betapa rapinya seragam yang kita kenakan setiap pagi.

Buka sumber asli