Idul Adha dan Orang-Orang yang Tidak Bisa Pulang
Tidak semua orang bisa pulang saat Idul Adha. Di tengah rindu dan jarak, ada pengorbanan sunyi yang jarang terlihat, tetapi tetap manusiawi dan bermakna.
Setiap menjelang Idul Adha, linimasa media sosial biasanya dipenuhi foto koper, tiket perjalanan, dan mungkin caption sederhana yang terdengar akrab: “Finally pulang.” Ada semacam kebahagiaan kolektif yang berulang setiap tahun—orang-orang kembali ke rumah, menyeberangi pulau, memadati stasiun, terminal dan bandara, lalu berkumpul lagi di meja makan yang sama dengan orang-orang yang mereka rindukan.
Namun di tengah suasana itu, ada satu kelompok yang sering luput dari perhatian: mereka yang tidak bisa pulang.
Mereka adalah para perantau, pekerja, mahasiswa, aparat, tenaga kesehatan, dan ASN yang bertugas jauh dari kampung halaman. Ada yang ditempatkan di daerah terpencil, ada yang tinggal di kota yang jaraknya hanya bisa ditempuh dengan pesawat, dan ada pula yang sebenarnya punya cukup waktu untuk pulang, tetapi harga tiket terlalu mahal untuk dibeli tanpa mengorbankan kebutuhan lain yang lebih penting.
Sebagian dari mereka akhirnya memilih bertahan di tempat tugas. Bukan karena tidak rindu rumah, melainkan karena hidup sering kali tidak memberi ruang bagi semua keinginan untuk terpenuhi sekaligus.
Pada titik tertentu, muncul satu pertanyaan yang terasa sederhana tetapi menyimpan lapisan makna yang dalam: apakah keadaan seperti ini juga bisa disebut sebagai bentuk kurban?
Pertanyaan itu mungkin terdengar personal, tetapi sebenarnya merepresentasikan pengalaman banyak orang yang menjalani hari raya dalam jarak dan keterbatasan.
Kurban dan Kehilangan
Dalam pengertian syariat, tentu jawabannya jelas: tidak.
Kurban dalam Islam adalah ibadah penyembelihan hewan pada Idul Adha, yang berakar dari kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Ia adalah ritual yang memiliki aturan, tata cara, dan dimensi ibadah yang spesifik. Tidak bisa pulang kampung tidak otomatis menjelma sebagai pengganti ibadah tersebut.
Namun persoalan ini menjadi menarik ketika kurban dilihat bukan hanya sebagai ritual, melainkan sebagai bahasa simbolik tentang hubungan manusia dengan sesuatu yang dicintainya.
Kisah Nabi Ibrahim sesungguhnya bukan sekadar cerita tentang seorang ayah yang hampir menyembelih anaknya. Yang diuji bukan hanya tindakan fisik, melainkan kemampuan manusia untuk rela melepaskan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Dalam banyak tafsir, inti pengorbanan Ibrahim justru terletak pada keberanian untuk tidak menjadikan cinta duniawi lebih besar daripada ketaatan kepada Tuhan.
Karena itu, Al-Qur’an memberi penegasan yang sangat penting: bahwa yang sampai kepada Allah bukan darah dan daging hewan kurban, melainkan ketakwaan manusia itu sendiri.
Artinya, sejak awal kurban tidak pernah semata-mata tentang penyembelihan. Ia berbicara tentang kesediaan manusia mengurangi keterikatannya terhadap sesuatu yang ia cintai. Kadang yang disembelih bukan hewan, melainkan ego, ambisi, kenyamanan, gengsi, atau keinginan-keinginan pribadi yang terlalu dipertahankan.
Di titik inilah pengalaman orang-orang yang tidak bisa pulang saat hari raya terasa memiliki resonansi emosional yang dekat dengan makna pengorbanan itu sendiri.

Rindu yang Tidak Romantis
Kita hidup di zaman yang aneh. Teknologi membuat komunikasi terasa dekat, tetapi biaya hidup justru membuat jarak menjadi semakin mahal.
Indonesia, sebagai negara kepulauan, menyimpan paradoks yang sering tidak dibicarakan secara serius. Mobilitas dianggap biasa, tetapi akses untuk bergerak tidak pernah benar-benar setara. Bagi sebagian orang, membeli tiket pesawat mungkin hanya perkara memilih jadwal. Bagi sebagian lainnya, itu adalah keputusan ekonomi yang harus dinegosiasikan dengan cicilan, kebutuhan rumah tangga, uang sekolah anak, atau tabungan darurat.
Dalam situasi seperti itu, “tidak pulang” sering kali bukan pilihan bebas. Ia adalah kompromi sunyi antara kerinduan dan kenyataan.
Yang menarik, masyarakat kita kerap memandang mudik atau pulang kampung sebagai ukuran kedekatan emosional. Semakin sering seseorang pulang, semakin dianggap peduli pada keluarga. Sebaliknya, mereka yang jarang pulang acap kali dipandang kurang hangat, terlalu sibuk bekerja, atau bahkan dianggap mulai melupakan rumahnya sendiri.
Padahal tidak semua jarak lahir dari kurangnya cinta.
Ada orang-orang yang tetap bekerja ketika orang lain berkumpul di ruang keluarga. Ada yang menjalankan pelayanan publik di daerah jauh ketika media sosial penuh dengan foto sate dan gulai. Ada yang menatap layar video call lebih lama dari biasanya hanya untuk mendengar suara ibunya di dapur atau melihat suasana rumah yang tidak bisa ia datangi.
Dan semua itu sering dijalani tanpa banyak cerita.
Barangkali karena pengorbanan modern memang jarang terdengar heroik. Ia tidak datang dengan musik megah atau pidato yang mengharukan. Ia hadir dalam bentuk yang lebih banal: keputusan menahan rindu, membatalkan perjalanan, mengencangkan pengeluaran, lalu tetap bekerja seperti biasa keesokan harinya.
Sosiolog asal Jerman, Hartmut Rosa, pernah berbicara tentang “social acceleration”—sebuah kondisi ketika kehidupan modern bergerak semakin cepat, tetapi manusia justru semakin kehilangan kedalaman relasi. Kita bisa menghubungi siapa saja dalam hitungan detik, tetapi tetap merasa jauh secara emosional. Kita memiliki teknologi untuk mendekatkan manusia, tetapi tidak selalu memiliki sistem sosial dan ekonomi yang membuat manusia benar-benar bisa saling menjangkau.
Dalam konteks itu, tidak bisa pulang saat hari raya bukan hanya pengalaman personal. Ia juga cermin tentang bagaimana struktur sosial dan ekonomi bekerja atas tubuh manusia biasa.
Hari Raya dan Kesepian Kolektif
Ada satu hal yang jarang dibicarakan tentang hari raya: ia bisa menjadi momen yang sangat sepi bagi orang-orang tertentu.
Psikolog menyebut bahwa hari-hari besar sering memunculkan “social comparison effect”, yaitu kecenderungan membandingkan kehidupan diri dengan kebahagiaan orang lain yang tampak di ruang publik. Ketika semua orang terlihat berkumpul dengan keluarga, mereka yang sendirian justru merasa keterasingannya semakin nyata.
Mungkin karena itu kesedihan saat tidak bisa pulang terasa berbeda dibanding hari-hari biasa. Rindu pada hari raya memiliki atmosfernya sendiri. Ia tidak selalu meledak dalam tangisan, tetapi mengendap perlahan seperti gema yang terus memantul di dalam kepala.
Namun ada satu hal yang sering terlambat disadari: yang paling menyakitkan sebenarnya bukan jarak geografis, melainkan rasa kehilangan makna.
Hari raya menjadi berat ketika ia berubah hanya menjadi ritual sosial tentang “siapa yang berhasil pulang”. Padahal esensi hari raya jauh lebih luas daripada sekadar perpindahan fisik menuju kampung halaman.
Banyak orang akhirnya menciptakan bentuk “rumah” yang baru di perantauan. Mereka salat Id bersama teman-teman senasib, memasak makanan seadanya, berbagi cerita setelah penyembelihan kurban, atau duduk bersama sambil saling menertawakan nasib sebagai orang-orang yang gagal membeli tiket pulang.
Kelihatannya sederhana. Tetapi justru dalam kesederhanaan itu ada sesuatu yang manusiawi: kemampuan untuk tetap membangun kehangatan meski berada jauh dari tempat asal.
Mungkin rumah memang bukan semata-mata lokasi geografis. Ia adalah rasa diterima, didengar, dan dipahami.
Pengorbanan yang Sunyi
Kita sering mengagungkan pengorbanan dalam bentuk yang besar dan dramatis. Padahal sebagian besar pengorbanan manusia berlangsung secara sunyi dan nyaris tak terlihat.
Seorang ayah yang memilih tidak pulang karena biaya tiket lebih baik dipakai membayar uang sekolah anaknya. Seorang tenaga kesehatan yang tetap berjaga ketika orang lain menikmati libur panjang. Seorang ASN di pulau terpencil yang mendengar takbir dari rumah dinas sederhana sambil menahan rindu pada keluarganya.
Mereka mungkin tidak menyebut dirinya sedang “berkurban”. Tetapi hidup kadang memang mempertemukan manusia pada situasi di mana ia harus merelakan sesuatu yang dicintainya demi tanggung jawab yang lebih besar.
Dan mungkin di situlah relevansi Idul Adha menjadi terasa sangat manusiawi.
Bahwa kurban bukan sekadar perayaan tahunan tentang penyembelihan hewan, melainkan pengingat bahwa hidup selalu meminta manusia memilih: antara keinginan pribadi dan amanah, antara kenyamanan dan tanggung jawab, antara pulang dan bertahan.
Tentu saja, ini bukan ajakan untuk meromantisasi kesulitan. Tidak semua penderitaan otomatis menjadi mulia. Negara juga tidak boleh membiarkan mahalnya akses transportasi atau ketimpangan pelayanan publik dianggap sebagai sesuatu yang wajar hanya karena masyarakat diajarkan untuk “ikhlas”.
Namun di tengah kenyataan yang tidak selalu ideal itu, manusia tetap membutuhkan cara untuk memaknai hidupnya agar tidak runtuh oleh keadaan.
Dan mungkin, bagi sebagian orang yang tidak bisa pulang pada Idul Adha tahun ini, makna itu hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: tetap menjalankan tugas, tetap menjaga hubungan dengan keluarga meski berjauhan, dan tetap percaya bahwa cinta tidak selalu diukur dari seberapa sering seseorang berhasil tiba di rumah.
Sebab pada akhirnya, tidak semua pengorbanan membutuhkan darah untuk menjadi bermakna. Kadang ia hanya membutuhkan hati yang cukup lapang untuk menerima bahwa ada hal-hal yang belum bisa kita peluk hari ini, tetapi tetap layak kita cintai dengan utuh dari kejauhan.