IDAI: Rumah Dekat Tol Bisa Picu Gangguan Pernapasan pada Anak
Tinggal di dekat jalan besar ataupun jalan tol meningkatkan potensi gangguan pernapasan pada anak. #momsupdate #mom #update #text

Rumah di dekat jalan tol kerap jadi pilihan orang tua saat menentukan tempat tinggal. Padahal menurut IDAI, rumah di dekat jalan besar, termasuk jalan tol, justru meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama pada anak.
Sebab sistem pernapasan anak masih berkembang dan imunnya juga belum kuat.
Anggota Unit Kerja Koordinasi Respirologi IDAI dr. Cynthia Centauri, Sp.A., Subsp.Respi.(K) mengatakan lokasi rumah yang berada di dekat jalan dengan lalu lintas padat membuat anak lebih mudah terpapar berbagai polutan dari kendaraan bermotor.
"Kalau punya rumah di pinggir jalan raya besar justru meningkatkan risiko polusi udara yang didapat dari debu jalanan atau traffic related air pollution (TRAP)," kata dr Cynthia, dilansir Antara.
Ia menjelaskan emisi kendaraan menghasilkan berbagai zat pencemar, seperti materi partikulat (PM), karbon hitam, nitrogen dioksida, karbon monoksida, volatile organic compounds (VOC), hingga logam berat yang dapat terhirup oleh masyarakat yang tinggal di sekitarnya.
Menurut dr.Cynthia, anak merupakan kelompok yang lebih rentan terhadap paparan polusi udara karena menghirup udara dua hingga tiga kali lebih banyak dibandingkan orang dewasa, sementara paru-parunya masih dalam tahap pertumbuhan.

Ia menuturkan paparan polusi tidak hanya berasal dari jalan raya, tetapi juga dapat berasal dari lingkungan sekitar rumah, seperti pembakaran sampah, aktivitas renovasi bangunan, serta asap rokok maupun rokok elektronik.
dr.Cynthia juga menceritakan kasus seorang anak berusia tiga tahun yang mengalami infeksi saluran pernapasan berulang setelah keluarganya pindah ke rumah baru yang berada di dekat jalan tol. Kondisi tersebut diperberat oleh aktivitas pembakaran sampah di lingkungan sekitar, renovasi rumah tetangga, serta kebiasaan ayah yang mulai menggunakan rokok elektronik.
Menurut dia, akumulasi berbagai sumber polusi tersebut dapat meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan, memicu asma, bronkitis, hingga menurunkan fungsi paru pada anak.
Karena itu, dokter yang juga ahli respirologi ini mengimbau masyarakat mengurangi sumber polusi yang dapat dikendalikan, seperti tidak membakar sampah, tidak merokok di sekitar anak, serta menghindari membawa anak ke lokasi yang sedang direnovasi.
Orang tua juga disarankan memantau kualitas udara sebelum beraktivitas di luar rumah dan menggunakan masker pada anak usia di atas tiga tahun saat kualitas udara memburuk.
"Polusi udara bukan hanya berasal dari luar rumah, tetapi merupakan akumulasi paparan dari lingkungan tempat tinggal dan aktivitas sehari-hari yang dapat berdampak pada kesehatan anak," kata Cynthia.