News Berita

Healing atau Kabur? Fenomena Self-Reward yang Mulai Dipertanyakan

Healing itu penting, tapi kalau jadi alasan menunda tanggung jawab, itu bukan healing—itu kabur. Istirahat secukupnya, bukan pelarian tanpa batas.

Healing atau Kabur? Fenomena Self-Reward yang Mulai Dipertanyakan

Healing secara sederhana adalah proses memulihkan diri baik secara mental, emosional, maupun fisik setelah mengalami tekanan, stres, atau kelelahan. Healing bisa berupa istirahat, melakukan hobi, menjauh sejenak dari rutinitas, atau sekadar memberi ruang bagi diri sendiri untuk bernapas. Intinya healing itu bertujuan untuk mengembalikan energi agar kita bisa kembali menjalani hidup dengan lebih baik.

Foto Ketika Sedang Healing Dalam Bentuk Olahraga. Sumber: Dokumen Pribadi
Foto Ketika Sedang Healing Dalam Bentuk Olahraga. Sumber: Dokumen Pribadi

Sebaliknya, kabur dari tanggung jawab adalah ketika seseorang secara sengaja atau tidak, menghindari kewajiban yang seharusnya dihadapi. Kabur sering kali dibungkus dengan alasan yang terlihat “valid”, padahal sebenarnya hanya bentuk penundaan atau pelarian dari tekanan. Masalahnya, batas antara healing dan kabur itu sangat tipis. Keduanya bisa terlihat sama dari luar misalnya sama-sama istirahat, sama-sama menjauh dari tugas tapi niat dan dampaknya berbeda.

Ketika Healing Jadi Alasan

Banyak dari kita yang sebenarnya masih kesulitan mengatur waktu dan prioritas. Di satu sisi, kita sadar bahwa kita butuh istirahat. Tapi di sisi lain, kita juga punya tanggung jawab yang tidak bisa ditunda terus-menerus.

Di sinilah konflik itu muncul. Kita mulai menggunakan healing sebagai alasan untuk menunda pekerjaan, menghindari tekanan, atau bahkan lari dari konsekuensi. Misalnya, tugas belum selesai tapi kita memilih “healing” dengan scroll media sosial berjam-jam, nongkrong tanpa batas, atau tidur berlebihan. Awalnya terasa seperti self-reward, tapi lama-lama justru menambah beban karena tugas menumpuk.

Tanpa disadari, kita bukan lagi memulihkan diri, tapi memperpanjang masalah.

Sulitnya Mengatur Waktu Healing

Mengatur waktu healing itu tidak semudah yang dibayangkan. Banyak orang belum punya batas yang jelas: kapan harus berhenti dan kembali ke tanggung jawab. Healing yang seharusnya jadi jeda, berubah jadi pelarian yang berkepanjangan. Akhirnya, healing bukan lagi alat untuk memperbaiki diri, tapi jadi cara untuk menghindari realita. Ironisnya, semakin lama kita “kabur”, semakin berat juga beban yang menunggu saat kita kembali.

Healing bukanlah sesuatu yang salah justru itu penting dan perlu. Tapi healing yang sehat seharusnya membantu kita kembali lebih kuat, bukan menjauh lebih lama. Ketika healing mulai membuat kita menghindari tanggung jawab, menunda kewajiban, atau kehilangan arah, mungkin itu bukan lagi healing, melainkan bentuk pelarian yang dibungkus dengan istilah yang terdengar lebih nyaman.

Kuncinya bukan berhenti healing, tapi belajar mengatur batas. Memberi diri waktu untuk istirahat, tanpa melupakan bahwa kita tetap punya tanggung jawab yang harus diselesaikan. Karena pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang mencari kenyamanan, tapi juga tentang berani menghadapi hal-hal yang tidak selalu nyaman.

Buka sumber asli