Hari Bumi Menanam Kurikulum di Kehidupan
Tujuan dari diperingati hari bumi adalah untuk manusia selalu ingat dan selalu menjaga bumi ini yang usianya sudah tidak muda lagi.

Setiap tanggal 22 April di Indonesia di peringati sebagai hari bumi. Tujuan dari diperingati hari bumi adalah untuk manusia selalu ingat dan selalu menjaga bumi ini yang usianya sudah tidak muda lagi. Hari bumi yang setiap tahun diperingati bukan sekedar hari membawa tanaman, atau memungut sampah di halaman rumah atau di sekolah, atau bahkan “ritual administratif”. Namun, lebih dari itu, hari bumi adalah momentum yang tepat untuk kita mengajarkan kepada murid-murid kita untuk mencintai tanah airnya.
Kurikulum yang ada di sekolah sebaiknya perlu digeser dari mengajar tentang alam menjadi belajar bersama alam. Bayangkan jika pelajaran matematika yang menurut para murid adalah pelajaran yang tidak menyenangkan dirubah cara belajarnya, yang biasanya belajar di kelas, dirubah belajar di luar kelas, di kantin, menghitung luas volume sampah plastik yang dihasilkan kantin sekolah setiap harinya. Atau, pelajaran Bahasa Indonesia yang menantang murid menulis surat cinta untuk sungai yang kini menghitam.
Maka dari itu, pendidikan karakter berbasis lingkungan merupakan dasar bagi generasi muda saat ini. Mematikan lampu kelas, mematikan AC saat keluar kelas dan membawa botol minum (tumbler) sendiri bukan sekedar efesiensi biaya sekolah. Lebih dari itu, kegiatan tersebut merupakan pendidikan empati, kita sadarkan dan kita didik anak-anak kita untuk memahami bahwa setiap tindakan kecil memiliki gaung besar bagi keberlangsungan planet ini.
Anak-anak masa kini lebih mengenal janis-jenis karakter anime daripada jenis pohon yang tumbuh di depan rumah mereka. Hari bumi merupakan momentum untuk pendidikan Indonesia agar anak Indonesia “membumikan” bumi mreka.
Sekolah seharusnya menjadi laboratorium untuk anak-anak. Kebun sekolah menjadi kelas yang paling digemari anak-anak disbanding dengan kantin sekolah. Pengelolaan kompos yang menghasilkan uang seharusnya bukan sekedar pajangan saat akreditasi sekolah. Jika anak-anak kita tidak pernah menyentuh tanah, bagaimana mungkin mereka akan menangis saat hutan gundul karena pohonnya ditebang.
Sesungguhnya bumi yang kita pijak ini tidak butuh untuk menyelamatkannya. Bumi ini akan terus berputar dengan atau tanpa manusia. Namun, kita sebagai makhluk yang hidup di bumi membutuhkan bumi untuk tetap kita untuk bisa hidup.
Mari kita berhenti memandang hari bumi sebagai seremoni semata. Jadikan setiap ruang sebagai persemaian benih kepedulian. Karena sejatinya pendidikan bukan mencetak lulusan dengan nilai sempurna, melainkan yang berhasil menumbuhkan manusia yang merasa sakit saat sebatang pohon ditebang.
Rawatlah bumi ini seolah-olah ia adalah rumah yang kita tinggali. Mari mulai dari hal yang terkecil, dari ruang kelas, dan dari lubuk hati kita sendiri. Sebab, jika bukan kita yang mendidik generasi ini untuk mencintai tanah airnya, maka siapa lagi?