Harga Solar Non Subsidi Melonjak, Jadi Peluang Pemanfaatan BBM Alternatif
Harga solar non subsidi naik drastis, Toyota: bisa jadi momentum implementasi BBM terbarukan lebih masif #kumparanOTO

Wakil Presiden Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN), Bob Azam menanggapi tenang perihal situasi melonjaknya harga solar non subsidi akhir-akhir ini. Menurutnya, penyesuaian tarif bahan bakar mengikuti pasar global terbilang lumrah.
“Bukan enggak berdampak, kita harus menghadapi dampaknya. Tapi apakah ini akan berlangsung setahun, dua tahun, saya juga enggak yakin. Dalam waktu dekat akan turun lagi (harga solar),” buka Bob ditemui di Tangerang, Senin (20/4).
Kendati demikian, Bob menambahkan bahwa kondisi tersebut seharusnya dapat menjadi momentum tepat untuk mempercepat adopsi solar dengan campuran bahan bakar nabati. Salah satu upaya pemerintah mengurangi ketergantungan impor minyak mentah.
“Kalau harga minyak USD 100 dolar per barel, bioetanol sudah bisa mensubstitusi. Karena kalau kita hitung dengan harga sekarang, bioetanol bisa menjadi opsi, karena harganya sudah mirip,” imbuhnya.

Bob bilang, penting bagi negara untuk terus melanjutkan peta jalan penggunaan energi alternatif yang lebih luas dan jangka panjang, guna membentuk pasokan yang lebih terjaga serta semakin banyak yang terserap.
“Misal harga minyak USD 120 dolar per barel mungkin solar panel akan menjadi alternatif, USD 200 dolar per barel mungkin hidrogen akan menjadi alternatif. Jadi mau berapa saja naik harganya, itu pasti akan ada substitusinya,” jelas Bob.
Harga Pertamina Dexlite kini dijual dari sebelumnya Rp 14.200 per liter menjadi Rp 23.600 per liter. Sementara Pertamina Dex turut melonjak dari yang sebelumnya Rp 14.500 per liter menjadi Rp 23.900 per liter.
Tak hanya itu, produk dari swasta seperti BP Ultimate Diesel juga berada di level tinggi, yakni Rp 25.560 per liter alias jauh dari sebelumnya yang ditawarkan Rp 14.060 per liter.
Pemerintah umumkan implementasi biosolar jenis baru dalam waktu dekat

Sebelumnya, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto memastikan implementasi bahan bakar solar dengan campuran sawit berkadar 50 persen atau B50 dilaksanakan mulai Juli mendatang.
"Pemerintah menerapkan mulai 1 Juli 2026. Pertamina telah siap melakukan blending, dengan potensi penghematan 4 juta kiloliter dan dalam 1 tahun atau 6 bulan ada penghematan dari fosil dan subsidi biodiesel sebesar Rp 48 triliun," buka Airlangga saat jumpa pers secara virtual, Selasa (31/3).
Sementara Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menambahkan cadangan bahan bakar nasional masih di atas batas minimal aman. Ia membandingkan situasi Indonesia yang masih lebih aman dibanding dengan negara-negara lain yang sudah melakukan pembatasan.
"Saya juga menyampaikan bahwa dengan implementasi B50 ini akan surplus untuk solar kita. Ini menjadi kabar baik bagi RDMP (Refinery Development Master Plan) di Kalimantan Timur jika sudah beroperasi," tambahnya.
Selain B50, pemerintah juga tengah mendorong pengembangan bioenergi lain seperti campuran etanol dalam bensin (E20), sebagai bagian dari transformasi energi berbasis sumber daya dari domestik.
Dengan kombinasi kebijakan tersebut, pemerintah berharap Indonesia dapat memperkuat kemandirian energi sekaligus meningkatkan nilai tambah sektor pertanian dan perkebunan nasional.