News Berita

Harga Emas Makin Sulit Diproyeksi, Investor Pilih Tahan Aset

Harga emas bergerak liar dan sulit diproyeksi, kadang naik cepat lalu terjun bebas. Investor hati-hati untuk beli atau jual. #bisnisupdate #update #bisnis #text

Harga Emas Makin Sulit Diproyeksi, Investor Pilih Tahan Aset
Ilustrasi emas Antam. Foto: Fresh Stocks/Shutterstock
Ilustrasi emas Antam. Foto: Fresh Stocks/Shutterstock

Harga emas yang bergerak naik-turun secara tajam dalam beberapa waktu terakhir memengaruhi strategi sebagian investor. Meski demikian, gejolak harga tersebut belum mendorong mereka untuk menjual aset emas yang telah dikumpulkan.

Salah satu investor emas, Annasa Rizki, mengaku portofolionya sempat mengalami kenaikan ketika harga emas menembus level Rp 3 juta per gram. Namun, dia menilai pergerakan harga emas sepanjang tahun ini berlangsung sangat cepat dan sulit diprediksi.

“Fluktuasinya bener-bener cepet banget akhir akhir ini dan dar der dor, bahkan sepanjang tahun ini sempet naik pas harganya nembus sampai Rp 3 juta lebih (per gram), tapi berapa persennya (kenaikan portofolio) aku lupa,” kata Annasa kepada kumparan, Minggu (14/6).

Meski masih tertarik menabung emas, Annasa untuk sementara memilih menghentikan pembelian emas baru karena memiliki kebutuhan mendesak lain.

Dia juga berencana untuk menggunakan dana yang biasanya dijatah untuk membeli emas untuk dialihkan ke instrumen investasi lain, seperti saham.

Kendati demikian, dia belum berencana menjual emas yang sudah dimiliki. Menurutnya, menjual aset saat ini justru berisiko jika harga emas kembali melonjak ketika ia membutuhkan instrumen lindung nilai tersebut.

Pekerja menunjukan emas batangan di Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/9/2025). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO
Pekerja menunjukan emas batangan di Bandung, Jawa Barat, Selasa (2/9/2025). Foto: Raisan Al Farisi/ANTARA FOTO

“Sempet gambling mau jual apa nggak, tapi ya mending simpan dulu aja deh. Sayang sayang dijual, kalau nanti butuh takutnya harganya lagi melonjak. Setop (beli) sementara aja,” jelasnya.

Investor lain, Erlinda Puspita memandang emas bukan semata-mata sebagai instrumen investasi, melainkan sarana untuk menjaga nilai uang dari tekanan inflasi.

Menurut Erlinda, emas berfungsi layaknya tabungan jangka panjang yang nilainya relatif lebih terjaga dibandingkan menyimpan uang tunai dalam bentuk uang.

“Jafi emas buatku kaya nabung, cuma bentuknya dalam emas yang kalau disimpen makin lama, nilainya nggak akan tergerus, nggak kaya nabung rupiah,” katanya.

Erlinda mengaku akan tetap melanjutkan kebiasaan menabung emas meski harga logam mulia mengalami koreksi usai sempat mencetak rekor tertinggi.

Erlinda mengatakan sejak awal telah menanamkan pola pikir bahwa emas bukan instrumen untuk diperdagangkan dalam jangka pendek. Oleh karena itu, fluktuasi harga sehari-hari tidak terlalu memengaruhi keputusan investasinya.

Warga mengantre untuk melakukan aktivitas jual beli Emas di Galeri 24, Jakarta, Kamis (17/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan
Warga mengantre untuk melakukan aktivitas jual beli Emas di Galeri 24, Jakarta, Kamis (17/4/2025). Foto: Iqbal Firdaus/kumparan

Sejauh ini, Erlinda juga mengaku belum mengalami kerugian pada portofolio emasnya. Salah satu alasannya karena dia tidak melakukan pembelian saat harga sedang berada di level puncak.

“Sejauh ini nggak ada (portofolio minus) sih, Soalnya pas naik banget, nggak beli,” imbuhnya.

Berdasarkan catatan kumparan, harga emas PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam sempat mencapai Rp 3.135.000 per gram pada perdagangan Senin (2/3). Namun kini, harga logam mulia berada di level Rp 2.711.000 per gram pada Sabtu (13/6).

Buka sumber asli