Harap Ortu Dokter Internship di Jambi: Semoga Tidak Ada 'Myta' Selanjutnya
Harap Ortu Dokter Internship di Jambi: Semoga Tidak Ada 'Myta' Selanjutnya #newsupdate #update #news #text

Orang tua dr Myta Aprilia Azmy berharap kasus yang menimpa putrinya menjadi titik perbaikan sistem internship dokter di Indonesia agar tidak ada lagi peserta internship yang mengalami nasib serupa. dr Myta wafat saat menjalani program intership, diduga karena kelelahan.
Harapan itu disampaikan oleh orang tua dr Myta, Okta dan Haidriatul, melalui video conference saat konferensi pers bersama Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin di Kantor Kemenkes, Jakarta Selatan, Kamis (7/5).
“Harapan kami sebagai orang tua Myta adalah semoga sistem dokter iship yang sudah baik, akan makin membaik ke depannya, sehingga tidak ada lagi 'Myta-Myta' selanjutnya,” ujar Okta.
Ia berharap dr Myta dikenang sebagai pribadi baik dan mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan.
“Biarlah Myta tenang di sana dan akan menjadi kenangan indah karena Myta dikenalkan kebaikannya. Hanya doa kami, semoga Myta ditempatkan di surganya Allah. Amin ya rabbal alamin,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, keluarga juga menyampaikan terima kasih kepada Menkes Budi beserta tim Kemenkes yang datang langsung ke lokasi tempat dr Myta bertugas hingga mengunjungi keluarga di Ogan Komering Ulu (OKU) Selatan, Sumatera Selatan.
“Terima kasih kepada Bapak Menteri Kesehatan dan tim yang sudah hadir di tempat Myta bertugas dan juga menghadirkan Staf Kemenkes ke kediaman kami di Oku Selatan,” katanya.
“Terima kasih juga kepada semua baik teman-teman MITA, alumni Ika Unsri, IDI Sumsel, dan IDI Jambi atas support-nya. Semua pihak Rumah Sakit Kuala Tungkal, Puskesmas Kuala Tungkal II, tempat Myta dibimbing selama iship di Jambi,” lanjutnya.
Adik Myta Dapat Beasiswa
Keluarga mengaku mendapat dukungan dari Kementerian Kesehatan, termasuk bantuan beasiswa untuk adik dr Myta yang saat ini juga tengah menempuh pendidikan kedokteran.
“Ucapan terima kasih juga yang begitu besar dari kami, keluarga Myta, di tengah duka mendalam kami. Kami diberikan kejutan oleh Bapak Kemenkes. Bapak memberikan kabar bahagia bahwa adiknya Myta akan dibantu beasiswa sampai selesai pendidikannya. Terima kasih, Pak Menteri Kesehatan,” kata Okta.

Kata Menkes
Sementara, Menkes Budi mengatakan bantuan tersebut diberikan setelah Kemenkes mengetahui kondisi keluarga dr Myta.
Menurut Budi, ayah dr Myta saat ini tengah dalam kondisi sakit usai mengalami stroke, sementara adik dr Myta masih menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya.
“Jadi memang adiknya juga di Fakultas Kedokteran Unsri belum selesai, dan ayahanda ini baru kena stroke,” ujar Budi.
Karena itu, Kemenkes memutuskan membantu pengobatan ayah dr Myta melalui rumah sakit milik Kemenkes di Palembang.
“Jadi begitu kita memahami ada kondisi itu, Kemenkes memutuskan yang pertama ayahanda nanti akan bisa dibantu oleh Rumah Sakit kita yang di Palembang, walaupun agak jauh, minimal setahun dua kali harus ada kontrol supaya kondisinya tetap sehat,” kata dia.
Budi berharap ayah dr Myta dapat terus sehat hingga menyaksikan anak keduanya menyelesaikan pendidikan dan berkeluarga.
“Sampai bisa melihat nikahkan anaknya yang kedua, dan kalau bisa, bisa sehat terus sampai melihat cucu-cucunya,” ujar Budi.
Selain itu, Kemenkes juga memberikan beasiswa penuh bagi adik dr Myta agar dapat melanjutkan cita-cita sang kakak menjadi dokter.
“Jadi tadi kita di Kementerian Kesehatan memutuskan untuk memberikan beasiswa kepada putri kedua beliau, sehingga lulus, untuk bisa meneruskan kakaknya yang sudah jadi dokter,” ungkap Budi.
Budi juga menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah memberikan masukan dan perhatian terhadap kasus dr Myta.
“Saya juga terima kasih ke Bapak Ibu yang sudah membantu kami untuk bisa memberikan masukan secara terbuka, dan memberikan doa juga supaya Almarhumah itu diterima amal ibadahnya,” ujarnya.
Momentum Untuk Perbaiki Budaya Kerja
Menurut Budi, kasus dr Myta harus menjadi momentum memperbaiki budaya kerja dan sistem pendidikan kedokteran yang selama ini dinilai penuh tekanan.
“Dan adiknya bisa meneruskan cita-cita kakaknya untuk menjadi dokter yang baik, yang akan di-treat secara lebih profesional, dan malah membawa perubahan bagi budaya yang sudah tahunan penuh dengan pemulihan, pemaksaan, jadwal kerja yang berlebihan,” ungkap Budi.
“Ini akan menjadi perbaikan bagi kegiatan-kegiatan kita yang berkaitan dengan pemutakhiran pendidikan yang dilakukan di rumah sakit,” tambah dia.