FOMO dalam Budaya Digital: Mengapa Kita Sulit Mengabaikan Tren Viral?
Di tengah arus informasi yang bergerak cepat, FOMO menjadi salah satu faktor yang mendorong pengguna media sosial untuk mengikuti tren, meskipun tidak selalu sesuai dengan minat atau kebutuhan mereka.

Hampir setiap minggu selalu ada tren baru yang muncul di media sosial. Mulai dari tantangan, format video tertentu, hingga berbagai konten yang ramai diperbincangkan oleh pengguna internet. Menariknya, tidak semua orang mengikuti tren tersebut karena merasa tertarik atau menyukainya. Dalam banyak kasus, orang ikut terlibat hanya karena tidak ingin merasa tertinggal dari apa yang sedang ramai dibicarakan.
Fenomena ini dikenal sebagai Fear of Missing Out atau FOMO, yaitu perasaan khawatir ketika merasa tertinggal dari pengalaman, informasi, atau aktivitas yang sedang dilakukan orang lain. Di era media sosial, FOMO menjadi semakin mudah muncul karena pengguna terus-menerus terpapar berbagai tren yang muncul di linimasa mereka.
Media sosial memungkinkan informasi menyebar dengan sangat cepat. Ketika sebuah tren mulai viral, pengguna akan melihat konten yang sama berulang kali dari berbagai akun. Akibatnya, muncul kesan bahwa tren tersebut penting untuk diketahui atau bahkan harus diikuti. Tidak jarang seseorang yang awalnya tidak tertarik akhirnya ikut menonton, membagikan, atau membuat konten serupa hanya karena tidak ingin merasa tertinggal dari percakapan yang sedang berlangsung.
Dari perspektif komunikasi, kondisi ini dapat dijelaskan melalui Social Learning Theory yang dikemukakan oleh Albert Bandura. Teori ini menjelaskan bahwa individu cenderung belajar melalui pengamatan terhadap lingkungan sekitarnya. Ketika banyak orang terlihat mengikuti sebuah tren dan memperoleh perhatian dari publik, pengguna lain akan terdorong untuk melakukan hal yang sama. Akibatnya, tren terus menyebar dan bertahan lebih lama di ruang digital.
Menurut saya, FOMO menjadi salah satu alasan mengapa berbagai tren di media sosial dapat berkembang dengan sangat cepat. Banyak pengguna merasa perlu mengikuti apa yang sedang ramai agar tetap dianggap relevan dalam lingkungan sosialnya. Pada akhirnya, keputusan untuk mengikuti sebuah tren tidak selalu didasarkan pada minat pribadi, tetapi lebih karena keinginan untuk tetap terhubung dengan kelompok atau percakapan yang sedang berlangsung.
Fenomena ini sebenarnya menunjukkan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana berbagi informasi, tetapi juga membentuk perilaku pengguna. Apa yang dianggap penting, menarik, atau layak diperhatikan sering kali dipengaruhi oleh apa yang sedang ramai muncul di linimasa. Semakin sering sebuah tren muncul, semakin besar pula kemungkinan pengguna menganggapnya sebagai sesuatu yang perlu diikuti.
Media sosial memang memberikan banyak manfaat dalam memperluas akses informasi dan mempererat hubungan sosial. Namun, menurut saya, penting bagi pengguna untuk menyadari bahwa tidak semua tren harus diikuti. Kemampuan untuk memilih informasi secara kritis dan memahami alasan di balik perilaku kita di media sosial menjadi semakin penting di tengah arus konten yang bergerak begitu cepat. Tidak ada yang salah dengan mengikuti tren, tetapi tidak ada salahnya juga untuk sesekali memilih berhenti dan bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar tertarik, atau hanya takut tertinggal?