News Berita

Film Nolan's The Odyssey: Ketika Mitologi Yunani Menjadi Pergolakan Psikologis

Odyssey karya Nolan adalah upaya pemaksaan Nolan untuk masyarakat melihat dampak PTSD dengan penyuguhan aktor-aktor bagus dan filosofi hukum Zeus.

Film Nolan's The Odyssey: Ketika Mitologi Yunani Menjadi Pergolakan Psikologis
Sutradara Inggris Christopher Nolan menerima penghargaan untuk Sutradara Terbaik untuk "Oppenheimer" pada Oscar 2024 di Academy Awards ke-96, Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Minggu (10/3/2024). Foto: Robyn BECK / AFP
Sutradara Inggris Christopher Nolan menerima penghargaan untuk Sutradara Terbaik untuk "Oppenheimer" pada Oscar 2024 di Academy Awards ke-96, Hollywood, Los Angeles, California, Amerika Serikat, Minggu (10/3/2024). Foto: Robyn BECK / AFP

Di tengah ramainya perbincangan industri teknologi dan hiburan digital yang terus berkembang pesat, industri layar lebar kembali dihenyakkan oleh eksperimen sinematik terbaru. Menikmati karya film di era modern sering kali membuat penonton terjebak dalam ekspektasi adaptasi yang plek ketiplek.

Namun, melihat rekam jejak sineas sutradara andal seperti Christopher Nolan dalam film The Odyssey, kita selalu disuguhi sebuah sumber refleksi inspirasi baru tentang bagaimana sebuah cerita klasik dirombak total menjadi cermin psikologis manusia.

​Bagi kamu yang berencana atau baru saja menonton film ini, satu hal yang harus ditanamkan sejak awal: film ini bukanlah The Odyssey karya Homer yang klasik, melainkan Nolan’s The Odyssey.

​Dekonstruksi Mitologi: Kiamat Psikologis di Dalam Batin

​Siapa pun yang membaca sajak The Odyssey klasik dari Homer pasti membayangkan deretan dewa-dewi Olympus yang murka, monster-monster kolosal, dan takdir yang tak terhindarkan. Namun, di tangan Nolan, elemen magis itu dibuang. Sang sutradara tidak menggambarkan mengerikannya dewa-dewi Yunani sebagai entitas eksternal yang nyata ada, melainkan merekonstruksinya sebagai bentuk pergolakan batin dan konflik psikologis dari sang karakter utama, Odysseus.

Kesamaan nasib Odysseus dengan Oppenheimer. Sumber: hasil generasi Gemini AI
Kesamaan nasib Odysseus dengan Oppenheimer. Sumber: hasil generasi Gemini AI

Langkah ini terasa sangat konsisten dengan rekam jejak karya Nolan sebelumnya. Jika diamati secara cermat, Nolan tampak membawa tema trauma dan Post-Traumatic Stress Disorder (PTSD) dari film Oppenheimer ke dalam naskah film ini. Odysseus digambarkan begitu hancur dan Dihantui rasa bersalah yang mendalam akibat gagasannya menciptakan Kuda Trojan—sebuah ide cerdik namun berdarah yang mengeksekusi pembantaian massal demi memenangkan Perang Troya. Kuda Trojan dan sosok Agamemnon yang biasanya dipasarkan sebagai "jualan utama" dalam mitologi Troya, di tangan Nolan justru dilucuti dari overshadowing pemasaran dan sekadar dijadikan pelengkap narasi pendukung.

​Meski dekonstruksinya terasa radikal, kita tetap wajib mengapresiasi upaya Nolan dalam menjaga bagian-bagian vital yang menyentuh esensi emosional cerita asal. Salah satu adegan yang paling emosional adalah kesetiaan Argos, anjing tua sang pahlawan, yang dengan gigih menunggu kepulangan Odysseus selama 20 tahun hingga napas terakhirnya. Selain itu, upaya menyisipkan keanekaragaman (diversity) dalam jajaran pemeran patut diapresiasi dari sudut pandang representasi modern, walaupun harus diakui di beberapa bagian terasa sedikit canggung (cringe) dan agak dipaksakan untuk latar era Yunani kuno.

Filosofi Nolan dan Cacat Fatal Pilihan Moral

​Mengapa Nolan mengubah fokus cerita secara dramatis? Jawabannya dapat kita temukan jika merujuk pada analisis akademis akademisi Robbie B. H. Goh dalam bukunya, Christopher Nolan: Filmmaker and Philosopher (2022).

​Goh menjelaskan bahwa salah satu benang merah utama dalam seluruh karya Nolan—mulai dari Inception, Interstellar, hingga The Dark Knight Trilogy—adalah penekanan pada kondisi individu dalam menghadapi pilihan moral di tengah keterbatasan pengetahuan (epistemic uncertainty). Nolan selalu membedah bagaimana manusia bergulat dengan kehendak bebas, rasa bersalah, dan konsekuensi dari tindakan mereka.

Odyseuss menang tapi harus stress? (Sumber: hasil generate Gemini AI)
Odyseuss menang tapi harus stress? (Sumber: hasil generate Gemini AI)

Namun, di sinilah letak eksperimen Nolan yang memicu perdebatan sengit. Dalam karya asli Homer, esensi utama kehidupan Yunani Kuno adalah interaksi antara takdir dewa (theos) dan kehendak manusia. Pilihan-pilihan Odysseus tidak sepenuhnya lahir dari pertimbangan moral rasional seorang manusia; dia bertindak karena dia percaya dan tunduk pada kehendak serta petunjuk dewa-dewi.

​Dengan memangkas total aspek keilahian ini dan menggantinya murni menjadi pergolakan moral individualis khas manusia modern, Nolan melakukan lompatan yang fatal. Film ini gagal menyajikan atmosfer "otentik Yunani Kuno" yang kental dengan kepasrahan pada takdir kosmik.

Jangan Cari Homer, Nikmatilah Nolan

​Sama seperti bagaimana ia mentransformasi latar belakang fiksi ilmiah dalam Interstellar atau mekanik perjalanan waktu dalam Tenet menjadi laboratorium pilihan moral, Nolan memanfaatkan The Odyssey sekadar sebagai "wadah" untuk mengeksplorasi rasa bersalah, memori, dan pencarian jalan pulang seorang veteran perang yang jiwanya telah cacat.

​Oleh karena itu, agar dapat menikmati film ini tanpa rasa kecewa, ubahlah ekspektasi kamu sejak pintu bioskop dibuka. Jangan berharap melihat petualangan kolosal melawan monster Yunani secara harfiah. Pandanglah karya ini sebagai sebuah drama psikologis yang kelam, megah, dan kompleks tentang konsekuensi dari sebuah keputusan moral.

​Ini bukanlah The Odyssey milik Homer. Ini adalah Nolan's The Odyssey—sebuah perenungan tentang betapa beratnya beban keputusan manusia ketika ia harus pulang dan berdamai dengan bayang-bayang masa lalunya sendiri.

​Bagaimana menurutmu? Apakah kamu lebih menyukai adaptasi mitologi yang otentik atau eksperimen psikologis ala Christopher Nolan ini? Selamat menonton!

Buka sumber asli