News Berita

Efek Nocebo Membuat Obat Justru Menciptakan Rasa Sakit Menjadi Nyata

Dua pertiga efek samping vaksin COVID-19 ternyata bukan dari vaksinnya, melainkan dari pikiran negatif kita sendiri. Ini fenomena nocebo yang jarang dibahas, tapi nyata secara ilmiah. #userstory

Efek Nocebo Membuat Obat Justru Menciptakan Rasa Sakit Menjadi Nyata
Ilustrasi perempuan menghindari rasa sakit. Foto: Generated by AI
Ilustrasi perempuan menghindari rasa sakit. Foto: Generated by AI

Fenomena ini bukan klenik atau sugesti murahan. Ia adalah fenomena biologis yang terukur, memiliki mekanisme neurologis yang jelas, dan kini menjadi salah satu subjek penelitian paling menarik dalam dunia farmakologi dan psikologi klinis. Namanya efek nocebo—kebalikan dari efek plasebo yang lebih banyak dikenal orang.

Apa Itu Efek Nocebo?

Jika efek plasebo terjadi ketika seseorang membaik karena ia percaya pengobatannya akan bekerja meski yang diberikan hanya pil gula, efek nocebo adalah kebalikannya—seseorang mengalami gejala negatif yang nyata karena ia mengharapkan atau mengantisipasi hal buruk akan terjadi, bahkan ketika tidak ada zat aktif yang menyebabkannya.

Istilah ini berasal dari bahasa Latin, yang mana nocebo berarti "aku akan menyakiti" berlawanan dengan placebo yang berarti "aku akan menyenangkan." Efek nocebo sudah diakui komunitas ilmiah sejak 1960-an, tetapi baru dalam dua dekade terakhir, penelitiannya berkembang pesat seiring dengan kemajuan dalam bidang pencitraan otak dan neurobiologi.

Bagaimana Otak Menciptakan Rasa Sakit yang Tidak "Seharusnya" Ada?

Mekanisme efek nocebo melibatkan dua jalur utama di dalam otak. Jalur pertama adalah sistem respons stres ketika seseorang mengantisipasi sesuatu yang buruk. Amigdala bagian otak yang memproses rasa takut mengaktifkan sumbu HPA (hipotalamus-pituitari-adrenal) dan memicu pelepasan hormon kortisol. Kortisol yang meningkat secara tiba-tiba dapat menciptakan berbagai gejala fisik nyata, termasuk mual, sakit kepala, detak jantung tidak teratur, dan kelelahan.

Ilustrasi sakit kepala. Foto: Shutterstock
Ilustrasi sakit kepala. Foto: Shutterstock

Jalur kedua melibatkan kolesistokinin hormon yang berperan dalam transmisi sinyal antar-sel saraf. Penelitian menunjukkan bahwa ekspektasi nyeri secara aktif meningkatkan kadar kolesistokinin di otak, yang pada gilirannya meningkatkan persepsi terhadap rasa sakit. Ini tidak sekadar "merasa sakit" secara psikologis perubahan kimia, tetapi juga benar-benar terjadi dan dapat diukur melalui pemindaian otak fungsional.

Peran Brosur Obat dan Cara Dokter Berbicara

Salah satu pemicu efek nocebo yang paling sering diabaikan adalah cara informasi medis disampaikan. Ketika seseorang membaca brosur obat yang mencantumkan 30 efek samping yang mungkin terjadi, otak langsung masuk ke mode waspada. Semakin panjang daftar efek samping yang dibaca, semakin tinggi kemungkinan seseorang melaporkan salah satu dari efek tersebut setelah meminum obatnya.

Penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Psychological Bulletin menemukan bahwa cara dokter menyampaikan informasi kepada pasien secara signifikan memengaruhi apakah efek nocebo akan terjadi atau tidak. Dokter yang menyampaikan informasi efek samping dengan nada mengkhawatirkan cenderung memiliki pasien yang lebih banyak melaporkan keluhan dibandingkan dokter yang menyampaikan informasi yang sama dengan nada netral dan meyakinkan.

Di era media sosial, masalah ini semakin kompleks. Seseorang yang akan memulai pengobatan bisa dengan mudah menemukan ratusan testimoni negatif tentang obat tersebut di forum kesehatan online. Masing-masing testimoni memperkuat ekspektasi negatif yang akhirnya meningkatkan risiko efek nocebo secara bermakna.

Dilema Etis yang Tidak Mudah Diselesaikan

Ilustrasi tenaga medis. Foto: Maulana Saputra/kumparan
Ilustrasi tenaga medis. Foto: Maulana Saputra/kumparan

Fenomena ini memunculkan dilema etis yang serius dalam praktik medis. Di satu sisi, dokter dan tenaga kesehatan memiliki kewajiban etis untuk memberikan informed consent, menginformasikan segala kemungkinan efek samping kepada pasien sebelum pengobatan dimulai. Di sisi lain, informasi yang terlalu rinci tentang efek samping justru bisa memicu efek nocebo yang membuat pasien merasa sakit tanpa sebab farmakologis yang nyata.

Para peneliti kini mengusulkan pendekatan yang disebut contextualized informed consent, sebuah cara menyampaikan informasi efek samping yang tetap jujur dan lengkap, tetapi dibingkai dalam konteks yang lebih positif dan proporsional.

Misalnya, alih-alih mengatakan "obat ini bisa menyebabkan mual pada sebagian orang," pendekatan yang lebih baik adalah "sebagian besar pasien mentoleransi obat ini dengan baik; sebagian kecil mungkin merasakan sedikit ketidaknyamanan di awal yang umumnya mereda dalam beberapa hari."

Rasa sakit yang diciptakan oleh ekspektasi negatif adalah rasa sakit yang nyata secara biologis bukan rekaan, bukan lebay, dan bukan sekadar "pikiran-pikiran saja." Memahami fenomena ini tidak berarti meremehkan keluhan pasien, tetapi membuka kesadaran bahwa dalam setiap proses penyembuhan, kondisi mental dan keyakinan seseorang adalah bagian dari obat itu sendiri.

Buka sumber asli