Dua Puluh Satu Jam untuk Gagal
Media dari kedua pihak berkelindan dalam permainan klaim yang sudah bisa ditebak. Vance bilang Iran menolak tawaran terbaik Amerika. Iran bilang Amerika terlalu rakus. #userstory

Negosiasi itu berlangsung selama 21 jam. Wakil Presiden Amerika J.D. Vance, utusan khusus Steve Witkoff, dan menantu Trump, Jared Kushner duduk satu ruangan pada sebuah hotel mewah di Islamabad.
Di ruangan lain terdapat Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dan Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf. Di antara keduanya, terdapat Pakistan. Pesan disampaikan melalui mediator. Dua puluh satu jam. Kemudian Vance naik ke tangga Air Force Two, melambai, dan terbang pulang tanpa kesepakatan.
"They have chosen not to accept our terms," kata Vance di konferensi pers. Tasnim—kantor berita yang terafiliasi dengan Garda Revolusi Iran—membalas dengan nada yang sama tajamnya.
Menurut Tasnim, tuntutan Amerika yang berlebihan menghalangi tercapainya kesepakatan. Pernyataan yang lebih keras datang kemudian. Iran menyebut Amerika sebagai "musuh yang licik, jahat, dan penuh tipu daya", yang berusaha mendapatkan di meja perundingan apa yang gagal diraihnya di medan perang.
Saya tidak terkejut. Dan saya kira siapa pun yang mengikuti dinamika ini dari awal seharusnya juga tidak terkejut. Kegagalan negosiasi Islamabad bukan kecelakaan. Ia adalah konsekuensi logis dari dua posisi yang sejak awal tidak mungkin bertemu.

Cermati apa yang diminta masing-masing pihak. Amerika menuntut komitmen tegas bahwa Iran tidak akan mengembangkan senjata nuklir, tidak akan mencari alat yang memungkinkan pencapaian senjata nuklir secara cepat, pembukaan penuh Selat Hormuz, pembatasan program rudal, dan pembatasan dukungan Iran terhadap kelompok bersenjata regional.
Iran, di sisi lain, mengajukan proposal 10 poin yang mencakup penyelesaian seluruh konflik regional, pencabutan sanksi, reparasi perang, jaminan keamanan terhadap agresi di masa depan, dan pengakuan internasional atas kedaulatan Iran di Selat Hormuz. Araghchi bahkan menyebut empat "kondisi yang tidak bisa dinegosiasikan." Ghalibaf menambahkan bahwa negosiasi bilateral tidak masuk akal selama Israel masih menyerang Lebanon.
Dua daftar tuntutan itu, jika dibaca bersebelahan, sudah menjelaskan segalanya. Amerika meminta Iran menyerahkan seluruh kartu tawarnya. Iran meminta Amerika mengakui bahwa perang ini adalah kesalahan dan membayar harganya. Tidak ada titik temu di antara dua posisi itu. Belum pernah ada dalam sejarah hubungan kedua negara sejak 1979.
Yang menarik justru apa yang terjadi di luar ruang negosiasi. Sementara Vance berunding di Islamabad, dua kapal perusak berpeluru kendali Angkatan Laut Amerika melintasi Selat Hormuz pada hari yang sama. CBS News melaporkan bahwa ini adalah transit pertama kapal perang Amerika sejak perang dimulai enam minggu lalu.
Angkatan Laut menyebutnya "conducted operations," termasuk upaya membersihkan ranjau. Pesan yang dikirim melalui gerakan militer itu tidak kalah kerasnya dengan kata-kata di meja perundingan. Diplomasi dan kekuatan militer berjalan bersamaan, saling memperkuat, saling memberi tekanan.

Media dari kedua pihak berkelindan dalam permainan klaim yang sudah bisa ditebak. Vance bilang Iran menolak tawaran terbaik Amerika. Iran bilang Amerika terlalu rakus. Kementerian Luar Negeri Iran—melalui juru bicaranya, Esmaeil Baqaei—menyebut negosiasi ini sebagai sesi terpanjang antara kedua negara dalam setahun terakhir.
Ia menyebut topik yang dibahas mencakup Selat Hormuz, nuklir, reparasi perang, pencabutan sanksi, dan penghentian total perang. Hal itu seolah ingin menunjukkan bahwa Iran datang dengan agenda yang luas dan serius, bukan sekonyong-konyong merespons tuntutan Amerika.
Lalu Vance pulang. Dan apa yang dilakukan Trump? CNN melaporkan bahwa pada saat Vance mengumumkan kegagalan negosiasi, Trump dan Menteri Luar Negeri, Marco Rubio sedang menonton pertarungan UFC di Miami. Keduanya terlihat tersenyum dan menikmati tontonan. Detail ini kecil, tapi ia menyimpan makna yang tidak kecil.
Seorang presiden—yang beberapa hari sebelumnya mengancam akan memusnahkan sebuah peradaban—kini menonton pertarungan tinju, sementara negosiasinya gagal. "Whether we make a deal or not makes no difference to me," kata Trump pada Sabtu sebelum negosiasi dimulai. Kalimat itu sendiri sudah merupakan sabotase terhadap proses yang belum dimulai.
Kendati demikian, kegagalan ini bukan sepenuhnya soal Trump atau Vance. Ia adalah produk dari struktur konflik yang memang tidak dirancang untuk diselesaikan di meja perundingan. Sejak 6 Maret, Trump sudah menulis di Truth Social bahwa tidak akan ada kesepakatan kecuali "unconditional surrender". Ketika seseorang memulai negosiasi dengan tuntutan penyerahan tanpa syarat, ia sesungguhnya sedang mengatakan bahwa negosiasi itu sendiri bukan tujuan. Ia adalah pertunjukan.

Di sisi Iran, logika yang sama bekerja. Ketika Ghalibaf menyatakan bahwa gencatan senjata bilateral tidak masuk akal selama Israel masih menyerang Lebanon, ia sesungguhnya memperluas cakupan negosiasi sampai ke titik yang mustahil dicapai dalam satu sesi. Iran ingin negosiasi ini gagal dengan cara yang membuat Amerika tampak sebagai pihak yang tidak masuk akal. Amerika ingin negosiasi ini gagal dengan cara yang membuat Iran tampak sebagai pihak yang menolak perdamaian. Keduanya berhasil.
Pakistan, sebagai mediator, mendapat panggung internasional yang luar biasa. Digital billboard bertuliskan "The Islamabad Talks" tersebar di seluruh kota. Menteri Luar Negeri Pakistan, Ishaq Dar mendesak kedua pihak untuk tetap menjaga gencatan senjata meski negosiasi gagal, menyebut sesi 21 jam itu sebagai "intense and constructive," sebuah bahasa diplomatik yang sopan untuk mengatakan bahwa tidak ada yang tercapai.
Sementara itu, Paus Leo memimpin doa malam di Basilika Santo Petrus pada hari yang sama. Ia tidak menyebut nama Trump atau Amerika. Namun pesannya jelas,
"Enough of the idolatry of self and money! Enough of the display of power! Enough of war!"
Di bangku jemaat, duduk Uskup Agung Teheran, Kardinal Dominique Joseph Mathieu, seorang warga Belgia. Hemat saya, detail kecil ini sesungguhnya menyimpan ironi besar.
Gencatan senjata dua minggu masih berjalan saat saya menulis catatan ini. Namun statusnya kini lebih rapuh dari sebelumnya. Tanpa kesepakatan, Selat Hormuz tetap menjadi kartu tawar Iran. Harga minyak mentah masih di atas 96 dolar per barel. Inflasi Amerika melonjak ke 3,3 persen pada Maret, naik hampir satu poin dari Februari. Harga bensin rata-rata 4,14 dolar per galon, naik 39 persen sejak perang dimulai. Semua angka itu berbicara lebih keras daripada 21 jam negosiasi di Islamabad.
Saya rasa kegagalan ini sudah bisa diprediksi jauh sebelum Vance naik pesawat ke Pakistan. Perang ini tidak dimulai untuk diselesaikan melalui diplomasi. Ia dimulai dengan serangan mendadak yang membunuh pemimpin tertinggi Iran. Titik awal semacam itu tidak menyisakan ruang untuk kompromi. Yang tersisa hanyalah pertanyaan "Siapa yang lebih dulu kehabisan napas?" Dan jawaban atas pertanyaan itu tidak akan ditemukan di meja perundingan mana pun.