Dosen UNISA Yogya Tulis Tafsir Risalah Perempuan dalam 700 Halaman
Dosen UNISA Yogyakarta tulis syarah atau tafsir atas Risalah Perempuan Berkemajuan sepanjang 700 halaman, ingatkan soal warisan Kartini berupa tulisan, bukan kebaya. #publisherstory #pandanganjogja

"Buku ini tentang perempuan. Memahami perempuan dengan sejuta kata masih kurang cukup, apalah arti 700 halaman."
Itulah jawaban Askuri, dosen Fakultas Ekonomi Sosial Humaniora UNISA Yogyakarta, saat ditanya perihal tebalnya naskah yang ia setor: 700 halaman. Cerita itu ia sampaikan sendiri dalam acara launching dan bedah buku "Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan" di UNISA Yogyakarta, Rabu (22/4).
Buku yang ditulis Askuri merupakan syarah atau penjelasan mendalam atas Risalah Perempuan Berkemajuan yang dihasilkan Muktamar 'Aisyiyah di Surakarta pada 2023. Menurut Askuri, risalah tersebut terlalu padat dan normatif untuk dipahami di tingkat akar rumput, sehingga perlu diuraikan lebih luas lewat studi kasus dari pengalamannya langsung di lapangan.

Salah satu isu yang paling banyak ia temui adalah soal ruang perempuan di masjid. Menurutnya, perempuan selama ini hanya ditempatkan sebagai objek, padahal kontribusi mereka justru yang terbesar. Mulai dari mengumpulkan jamaah, menyiapkan konsumsi pengajian, hingga peserta terbanyak, semuanya rata-rata adalah perempuan.
"Selama ini perempuan tidak banyak diberi akses untuk mengaktualisasikan kesalehannya — menjadi penceramah, menjadi motivator bagi kaumnya," kata Askuri.
Praktik nyata itu sudah diterapkan di Masjid Walidah Dahlan, UNISA Yogyakarta. Setiap Ramadan, 50 persen penceramah tarawih adalah perempuan. Menurutnya, tidak ada larangan syar'i maupun fikih yang melarang perempuan menjadi penceramah.
"Tidak ada alasan syar'i, tidak ada larangan fikih, tidak ada apapun bahwa perempuan dilarang menjadi penceramah. Dan itu harus kita declare sejak awal bahwa perempuan memiliki kesetaraan dalam kesalehan," tegasnya.

Askuri menyebut, buku ini ditujukan pertama-tama bagi para pimpinan 'Aisyiyah di seluruh tingkatan, hingga pemimpin amal usaha Muhammadiyah seperti sekolah, rumah sakit, dan perguruan tinggi. Namun pada akhirnya, siapa pun yang memiliki relasi dengan perempuan ia anggap perlu membacanya.
Bagi Askuri, buku ini adalah bentuk tanggung jawab moral sekaligus warisan intelektualnya sebagai dosen laki-laki yang mengabdi di universitas yang didirikan organisasi perempuan.
"Kalau satu-satunya legacy Kartini bagi perempuan itu adalah tulisannya, bukan kebayanya... kebetulan saya laki-laki tidak pakai kebaya, maka saya harapkan legacy saya adalah tulisan saya," ujarnya.

Launching dan bedah buku "Syarah Risalah Perempuan Berkemajuan" dibuka dengan opening speech dari Rektor UNISA Yogyakarta, Warsiti. Sesi bedah buku menghadirkan dua pembahas: Wakil Sekretaris Dewan Pertimbangan MUI sekaligus Ketua PP ‘Aisyiyah, Siti Aisyah, dan Dosen Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Rof’ah.
Menutup acara tersebut, Askuri menyebutkan satu kalimat yang merangkum semangat dari bukunya: bahwa perempuan harus menjadi subjek dalam sejarah, bukan sekadar objek yang diatur, di mana pun dan kapan pun.