Dosen Stres Ketika Rumah Menjadi Kantor
Rumah yang seharusnya jadi ruang istirahat berubah menjadi kantor tanpa batas. Dosen terjebak dalam siklus kerja tak berujung, stres meningkat, dan kualitas akademik terancam.

Artikel Times Higher Education News berjudul “Remote-working academics more stressed than campus colleagues” ditulis oleh Juliette Rowsell dan terbit pada 1 Juli 2026. Rowsell menyingkap paradoks yang jarang dibicarakan: Dosen yang bekerja dari rumah justru lebih stres dibandingkan mereka yang tetap hadir di kampus.
Temuan ini mengguncang asumsi populer bahwa kerja jarak jauh (remote), atau Work from Home (WfH), otomatis meningkatkan keseimbangan hidup. Sebaliknya, rumah yang seharusnya menjadi ruang istirahat berubah menjadi kantor tanpa batas, dan dosen terjebak dalam siklus kerja yang tak pernah berhenti.
Stres yang Tak Terlihat
Rowsell menunjukkan bahwa dosen remote sering dianggap selalu tersedia. Ketika ruang kerja menyatu dengan ruang pribadi, batas waktu kerja menjadi kabur. Mahasiswa, kolega, bahkan pimpinan kampus merasa berhak menghubungi kapan saja. Akibatnya, beban kerja meningkat tanpa henti.
Di Indonesia, fenomena ini terasa nyata. WhatsApp, Line, Telegram, dan email menjadi saluran komunikasi tanpa batas, membuat dosen seolah hidup dalam mode darurat permanen. Tidak ada sekat psikologis antara rumah dan kantor, sehingga stres menumpuk diam-diam.
Lebih jauh, tekanan ini sering tidak terlihat oleh institusi. Kampus menilai dosen dari laporan administrasi, bukan dari kondisi mental. Dosen yang tampak produktif di atas kertas bisa saja sedang mengalami kelelahan kronis. Rowsell mengingatkan bahwa stres semacam ini berbahaya karena tidak mudah diukur, tetapi dampaknya nyata terhadap kualitas pengajaran dan riset.
Di Indonesia, banyak dosen mengaku lebih lelah mengajar daring dibandingkan tatap muka. Persiapan materi digital, interaksi online yang melelahkan, dan tuntutan administrasi membuat kerja remote terasa lebih berat. Ironisnya, publik sering menganggap dosen lebih santai karena hanya di rumah. Padahal, kenyataannya justru sebaliknya.
Fenomena ini juga memperlihatkan adanya ketidakadilan struktural. Dosen yang bekerja dari rumah sering dianggap kurang disiplin, padahal mereka justru menghadapi beban kerja yang lebih kompleks. Persepsi ini memperparah tekanan psikologis, karena kerja keras mereka tidak diakui secara penuh.
Jika kampus di Indonesia tidak segera menyadari stres yang tak terlihat ini, maka kualitas pendidikan tinggi akan terancam. Dosen yang kelelahan tidak akan mampu memberikan pengajaran terbaik, dan riset akan kehilangan kedalaman.
Keseimbangan yang Hilang
Paradoks lain yang diangkat Rowsell adalah soal keseimbangan hidup. Banyak orang percaya bahwa bekerja dari rumah memberi keleluasaan mengatur waktu. Namun, penelitian menunjukkan sebaliknya: pemisahan fisik antara rumah dan kantor justru membantu menjaga keseimbangan. Tanpa sekat itu, dosen kehilangan ruang untuk beristirahat.
Di Indonesia, rumah sering kali bukan tempat yang kondusif untuk bekerja. Banyak dosen tinggal di lingkungan yang ramai, dengan tanggung jawab keluarga yang tidak bisa diabaikan. Ketika kuliah daring berlangsung, anak-anak berlarian, suara tetangga masuk ke layar, dan konsentrasi buyar. Alih-alih lebih tenang, dosen justru menghadapi multitasking yang melelahkan.
Keseimbangan hidup juga terganggu oleh ekspektasi kampus. Dosen dianggap bisa “selalu online,” sehingga rapat mendadak atau tugas tambahan mudah diberikan. Tidak ada ruang untuk memisahkan diri. Rowsell menekankan bahwa keseimbangan hidup bukan soal lokasi, melainkan soal batas yang jelas. Di Indonesia, batas itu masih kabur.
Lebih ironis lagi, banyak kampus di Indonesia justru menganggap kerja remote sebagai bentuk kemudahan. Padahal, bagi dosen, ini adalah jebakan yang membuat mereka kehilangan kendali atas waktu pribadi. Keseimbangan hidup yang dijanjikan berubah menjadi ilusi.
Jika keseimbangan hidup terus diabaikan, maka dosen akan kehilangan motivasi. Mereka tidak lagi melihat profesi ini sebagai panggilan, melainkan sekadar beban.
Evaluasi yang Birokratis
Rowsell menyoroti perlunya kriteria transparan dalam evaluasi kinerja. Penilaian dosen tidak boleh hanya berbasis kehadiran fisik, melainkan capaian nyata. Di Indonesia, sistem BKD dan LKD masih sangat birokratis. Saya yang sudah lebih dari 36 tahun menjadi dosen harus mengisi laporan panjang yang lebih menekankan administrasi daripada substansi.
Akibatnya, kerja remote sering dianggap kurang sahih. Dosen yang menulis artikel, meneliti, atau membimbing mahasiswa dari rumah tidak selalu dihargai. Padahal, produktivitas akademik tidak bergantung pada lokasi. Rowsell mengingatkan bahwa evaluasi harus berorientasi pada output, bukan sekadar mengisi daftar hadir atau attendance list.
Jika Indonesia ingin mendorong kualitas pendidikan tinggi, sistem evaluasi harus direformasi. Publikasi, paten, pengabdian masyarakat, dan kualitas pengajaran daring harus menjadi indikator utama. Tanpa itu, kerja remote hanya akan menambah beban tanpa pengakuan.
Lebih jauh, birokrasi evaluasi justru memperparah stres dosen. Mereka harus menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengisi laporan, padahal energi itu bisa digunakan untuk menulis atau meneliti. Evaluasi yang tidak adil ini menciptakan lingkaran setan: dosen bekerja keras, tetapi hasilnya tidak diakui.
Jika kampus di Indonesia tidak segera mengubah sistem evaluasi, maka kerja remote hanya akan menjadi beban tambahan. Dosen akan terus merasa tidak dihargai, dan kualitas akademik akan stagnan.
Kesehatan Mental yang Terabaikan
Salah satu rekomendasi Rowsell adalah intervensi kesehatan mental yang proaktif. Kampus harus menyediakan screening rutin, bukan hanya fokus pada lokasi kerja. Di Indonesia, isu kesehatan mental dosen masih jarang dibicarakan. Layanan konseling lebih banyak ditujukan untuk mahasiswa, sementara dosen dianggap tidak mempunyai masalah alias tahan banting.
Padahal, tekanan akademik sangat besar. Dosen harus mengajar, meneliti, menulis, membimbing, sekaligus mengurus administrasi. Ketika semua itu dilakukan dari rumah, beban mental semakin berat. Tanpa dukungan psikososial, banyak dosen mengalami burnout.
Kampus di Indonesia perlu menyediakan layanan konseling khusus bagi dosen. Tidak cukup hanya seminar motivasi, tetapi harus ada sistem pendampingan profesional. Rowsell menekankan bahwa kesehatan mental adalah fondasi produktivitas. Tanpa itu, kualitas akademik akan runtuh.
Lebih jauh, kesehatan mental dosen adalah isu peradaban. Jika dosen tidak sehat secara mental, maka generasi mahasiswa yang mereka bimbing juga akan terpengaruh. Stres dosen bisa menular menjadi stres mahasiswa.
Jika kampus di Indonesia tidak segera menaruh perhatian pada kesehatan mental dosen, maka pendidikan tinggi akan kehilangan ruhnya. Dosen bukan sekadar pengajar, tetapi juga teladan. Tanpa kesehatan mental, teladan itu akan hilang.
Penutup
Temuan Juliette Rowsell adalah alarm keras bagi dunia akademik. Kerja remote bukan sekadar soal teknologi, tetapi soal kesehatan mental, budaya kerja, dan kebijakan kelembagaan. Indonesia tidak bisa menutup mata. Jika kampus ingin menuju Golden Indonesia 2045, maka kesejahteraan dosen harus menjadi prioritas.
Kerja remote harus dipandang sebagai peluang untuk membangun sistem pendidikan yang lebih fleksibel, bukan sebagai jebakan yang menambah beban. Reformasi evaluasi, batas komunikasi digital, layanan kesehatan mental, dan fasilitas hibrid adalah langkah konkret yang harus segera dilakukan.
Dosen adalah jantung peradaban. Jika mereka terus hidup dalam stres yang tak terlihat, maka peradaban akan kehilangan denyutnya. Rowsell mengingatkan kita bahwa kerja remote adalah ujian bagi kebijakan dan budaya akademik.
Indonesia harus menjawab ujian ini dengan keberanian. Kampus tidak boleh lagi bersembunyi di balik birokrasi. Mereka harus berani menempatkan kesejahteraan dosen sebagai fondasi.
Hanya dengan dosen yang sehat, produktif, dan dihargai, pendidikan tinggi Indonesia bisa menjadi motor peradaban. Tanpa itu, rumah akan terus menjadi kantor tanpa batas, dan mimpi besar bangsa hanya akan menjadi slogan kosong.