Doom Spending: Mengapa Kita Menghabiskan Uang untuk Kesenangan Sesaat?
Belanja impulsif ternyata tidak selalu soal boros. Bisa jadi itu bentuk pelarian dari cemasnya masa depan. Kenali fenomena doom spending yang diam-diam makin dekat dengan kehidupan kita.

Pernahkah kita membeli sesuatu yang sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, hanya karena merasa lelah, cemas, atau ingin “menghadiahi diri sendiri” setelah hari yang berat? Mungkin secangkir kopi mahal, pakaian yang sedang diskon, gadget baru, atau sekadar makanan favorit yang dibeli melalui aplikasi. Setelah membeli, ada rasa senang sesaat.
Fenomena ini kini semakin sering disebut sebagai Doom Spending, yaitu kecenderungan menghabiskan uang untuk kesenangan jangka pendek sebagai respons terhadap kecemasan, tekanan hidup, atau ketidakpastian masa depan. Berbeda dengan perilaku konsumtif biasa, doom spending tidak selalu lahir dari keinginan untuk pamer atau mengikuti tren. Dalam banyak kasus, ia muncul sebagai bentuk pelarian emosional.
Di tengah harga kebutuhan yang meningkat, ketidakpastian ekonomi, ancaman kehilangan pekerjaan, tekanan target hidup, hingga derasnya informasi negatif di media sosial, banyak orang diam-diam hidup dalam kecemasan yang sulit dijelaskan. Masa depan terasa semakin mahal, rumah terasa semakin jauh dijangkau, tabungan terasa tidak pernah cukup, sementara ekspektasi hidup terus meningkat. Dalam situasi seperti ini, sebagian orang mulai berpikir secara tidak sadar: “Kalau masa depan tetap sulit, mungkin setidaknya saya bisa menikmati hari ini.”
Inilah titik menarik dari doom spending. Banyak orang sebenarnya sadar bahwa pengeluaran tersebut tidak terlalu penting. Mereka paham bahwa uang seharusnya ditabung atau diinvestasikan. Namun logika sering kali kalah oleh kebutuhan emosional. Membeli sesuatu menjadi cara tercepat untuk menciptakan rasa lega, meskipun hanya sementara.
Di era digital, perilaku ini justru semakin mudah terjadi. Aplikasi belanja hadir hanya sejauh satu sentuhan jari. Diskon selalu muncul pada waktu yang tepat. Fitur pay later membuat batas antara “mampu membeli” dan “ingin membeli” menjadi kabur. Belum lagi media sosial yang tanpa sadar membentuk tekanan psikologis baru: melihat orang lain liburan, membeli barang baru, makan di tempat mahal, atau terlihat “hidupnya baik-baik saja”. Pada akhirnya, kita bukan hanya membeli barang, tetapi membeli rasa bahwa kita tidak tertinggal.
Namun, melihat doom spending hanya sebagai masalah disiplin finansial adalah cara pandang yang terlalu sederhana. Tidak semua orang yang mengalami doom spending adalah orang yang tidak bijak mengatur uang. Kadang, ini adalah refleksi dari kelelahan sosial yang lebih besar. Ketika hidup terasa penuh tekanan dan masa depan tampak tidak pasti, kesenangan kecil menjadi sesuatu yang terasa layak dipertahankan.
Seorang pekerja mungkin membeli kopi mahal setiap pagi bukan karena ingin terlihat mewah, tetapi karena itu menjadi satu-satunya momen yang membuat harinya terasa lebih ringan. Seorang mahasiswa membeli barang impulsif bukan karena tidak peduli pada keuangan, tetapi karena stres akademik dan tekanan sosial terasa terlalu berat. Bahkan banyak keluarga tetap berusaha liburan sederhana, bukan karena berlebihan, tetapi karena mereka membutuhkan ruang bernapas di tengah rutinitas yang melelahkan.
Di sinilah kita perlu melihat doom spending dengan lebih manusiawi. Bukan untuk membenarkan perilaku boros, tetapi untuk memahami akar masalahnya. Sebab jika hanya menyalahkan individu, kita akan kehilangan gambaran yang lebih besar: bahwa banyak orang sedang hidup dalam tekanan yang tidak selalu terlihat.
Tentu, bukan berarti doom spending boleh dibiarkan tanpa kendali. Pengeluaran yang terus dilakukan demi pelarian emosional pada akhirnya dapat menjadi jebakan baru. Utang meningkat, tabungan berkurang, dan kecemasan finansial justru bertambah. Yang diperlukan bukan sekadar larangan untuk belanja, melainkan kesadaran: apakah kita membeli karena membutuhkan, atau karena sedang mencoba mengobati rasa cemas?
Mungkin pertanyaan terpentingnya bukan lagi “Mengapa orang sekarang semakin boros?” tetapi “Mengapa semakin banyak orang merasa perlu membeli kebahagiaan sesaat?”
Karena bisa jadi, di balik keranjang belanja digital yang penuh, ada rasa takut tentang masa depan yang tidak pernah benar-benar dibicarakan.